Pergi ke taman memetik delima,
disimpan rapi di dalam peti;
di era deras arus berita,
bijak menyaring jadi kunci nurani.
Pembaca setia Mozaik Kehidupan, kami kembali hadir menyapa Anda, menyusuri lorong-lorong peristiwa, merangkai serpih-serpih kabar, dan menyuguhkan kisah yang mungkin luput dari sorot mata.
Dua hari terakhir, anjuran BMKG agar senantiasa waspada pada kondisi cuaca ekstrem seolah menjadi latar muram bagi denyut kehidupan.
Namun, di tengah hujan yang turun tanpa kompromi, Mozaik Kehidupan tetap berjalan, sebagai ikhtiar kecil merawat informasi, mempererat silaturahmi, sekaligus menandai bahwa sang penulis masih setia berdamai dengan kesehatan dan semangat.
Seorang pembaca setia, Ustaz Ilham Hamid yang pernah menebar tausiyah di Masjid Besar Al-Abrar Makassar, berkelakar ringan.
Katanya, bulan Ramadan adalah masa paling membahagiakan bagi para muballig. “Setiap ceramah, ada amplop menanti,” ujarnya, disambut tawa kecil. Seorang kawan menimpali, “Seddi to pendapat.”
Begitulah, dakwah tak hanya bicara langit, tapi juga membumi, menghangatkan realitas. Masukan pun mengalir. Jika di ujung tulisan ada pantun, maka di pangkalnya pun patut hadir pantun.
Sebuah tradisi kecil yang kini perlahan menjadi ciri dan disukai pembaca.
Di era digital, kecepatan informasi kerap menyalip kebenaran. Dalam hitungan detik, judul sensasional menjelma viral, dibaca sekilas, dibagikan tergesa, dikomentari tanpa sempat diverifikasi. Paradoks zaman pun hadir: informasi melimpah, namun nalar sering tertinggal.
Sebagai pustakawan, penulis memandang hoaks bukan semata problem teknologi, melainkan persoalan literasi dan cara berpikir.
Banyak orang, termasuk kalangan terdidik, terjebak kabar palsu bukan karena kurang cerdas, melainkan karena terbiasa bereaksi cepat, tanpa memberi ruang bagi akal untuk bekerja.
Media sosial memperparah keadaan. Setiap orang kini bisa menjadi produsen informasi, tanpa penyuntingan, tanpa verifikasi.
Ruang digital dipenuhi potongan konteks, opini emosional, dan narasi setengah matang yang menjelma “kebenaran instan”.
Emosi—marah, takut, simpati lebih cepat memantik klik ketimbang fakta yang butuh waktu untuk dipahami.
Di sinilah literasi informasi menemukan urgensinya: kemampuan memilah, membandingkan, menganalisis, dan mengevaluasi. Sebab, kebenaran tak pernah lahir dari tergesa.
Di tengah riuh informasi, hadir kabar yang menggetarkan nurani. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menjemput 12 perempuan asal Jabar yang diduga menjadi korban kekerasan, pelecehan seksual, dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT.
Mereka diterbangkan dari Labuan Bajo ke Jakarta, lalu dibawa ke Bandung untuk memperoleh perlindungan.
Dari total 13 korban, satu telah lebih dulu kembali. Kini, mereka berada di Rumah Perlindungan UPTD PPA DP3AKB Jabar, menjalani pendampingan hukum, asesmen psikologis, layanan kesehatan, hingga rehabilitasi sosial.
Penjemputan ini melibatkan pemerintah daerah, aparat kepolisian, serta jejaring kemanusiaan lintas wilayah.
Di balik angka-angka itu, tersimpan luka, trauma, dan harapan. Negara pun hadir, menegaskan komitmen melawan perdagangan orang, sekaligus memulihkan martabat para korban.
Dari Jawa Barat, kisah bergerak ke Sulawesi Selatan. DPRD Sulsel menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) membahas Dokumen Kajian dan Ikhtisar Data Publik PT GMTD Tbk.
Hadir berbagai pemangku kepentingan: pemerintah provinsi, pemerintah kota, pemerintah kabupaten, yayasan, dewan adat, hingga organisasi kepemudaan.
RDP dipimpin Wakil Ketua DPRD Sulsel, Sufriadi Ari, yang menekankan pentingnya transparansi dividen dan kejelasan pemanfaatan lahan seluas 1.000 hektare. “Data harus diperlihatkan agar tidak ada perbedaan informasi,” tegasnya.
Ketua YPPSS, Prof Hafid Abbas, menilai dividen yang diterima daerah masih relatif kecil dibandingkan profit perusahaan, meski ia mengapresiasi kinerja PT GMTD yang dinilai signifikan.
Di ruang rapat itu, ekonomi, etika, dan kepentingan publik berkelindan, mencari titik adil di tengah kepentingan besar.
Menjelang magrib, suara azan belum sepenuhnya tenggelam di antara riuh lalu lintas dan denting notifikasi gawai.
Di sudut perkampungan, beberapa anak melangkah tergesa, menggenggam iqra dan mushaf kecil. Sebagian masih berseragam sekolah, sebagian lain berkaus lusuh yang basah oleh keringat.
Di serambi masjid dan ruang kecil Taman Pendidikan Al-Qur’an, lantunan huruf hijaiyah mengalir. Terbata, tersendat, namun sarat semangat.
Sesekali terdengar bisik tentang game yang belum tuntas, video pendek yang tertunda, pesan grup yang menunggu dibuka.
Seorang ustazah paruh baya membimbing dengan sabar. Tangannya menuntun jari kecil menyusuri baris ayat. Matanya berbinar setiap kali seorang murid berhasil melafalkan huruf dengan benar.
“Zaman sekarang berat,” katanya lirih. “Tapi kalau bukan kita, siapa lagi yang mengenalkan Al-Qur’an kepada mereka?”
Di sudut lain, seorang bocah menyelipkan ponsel ke saku celana. Ia menarik napas, lalu kembali menatap mushaf. Ada pertarungan sunyi antara melanjutkan permainan dan menuntaskan setoran ayat.
Malam itu, ia memilih ayat. Masjid dan TPA menjelma oase. Di tengah dunia yang bergerak tanpa jeda, masih ada ruang sunyi tempat anak-anak belajar sabar, tekun, dan tunduk.
Ramadan menghidupkan suasana: masjid ramai, anak-anak datang lebih awal, pulang lebih lambat. Mereka belajar menahan lapar, menahan emosi, menahan diri.
Di sanalah pendidikan sejati berlangsung—di hati.
Cahaya-cahaya kecil itu tetap menyala. Dari huruf demi huruf, dari lantunan demi lantunan, mereka sedang menanam masa depan.
Demikian Mozaik Kehidupan ini dan kami tutup dengan sebuah : Pantun !
Ke tepi danau memetik seroja,
Air bening memantul cahaya;
Mozaik hidup kita rajut bersama,
Agar nurani tetap terjaga selamanya.