SYAKHRUDDINNEWS.COM – Malam merambat pelan di pelataran Masjid Besar Al-Abrar. Angin Ramadan berembus lembut, membawa sejuk yang menenangkan jiwa.
Di dalam masjid, saf-saf jamaah telah terisi rapi. Wajah-wajah teduh bersatu dalam satu niat: menjemput ampunan, merawat harap, dan memperbaiki diri.
Shalat Isya berjamaah dipimpin Ustadz Habibi, S.Pd, membuka rangkaian tarawih malam ketujuh dengan kekhusyukan yang terasa hingga relung hati.
Lantunan ayat suci mengalun lirih, membingkai keheningan malam dengan nuansa spiritual yang syahdu. Seusai shalat, suasana tetap hening, menanti ceramah tarawih yang akan menuntun langkah pulang jamaah.
Sebelum tausiah dimulai, Muhammad Ilham, S.Pd Dg Naba menyampaikan laporan kondisi celengan dan pengeluaran rutin Panitia Amaliah Ramadan, di bawah kepemimpinan Suhardi Dg Rurung, S.Sos.I.
Laporan sederhana itu terasa bermakna, menjadi pengingat bahwa setiap keping sedekah adalah napas panjang perjuangan masjid dalam merawat denyut ibadah dan kebersamaan.
Lalu mimbar diisi oleh Prof. Dr. Nasaruddin, M.Ag. Dengan suara teduh dan bahasa yang merasuk, beliau mengajak jamaah menelusuri makna tobat.
Bukan sekadar penyesalan, melainkan perjalanan batin untuk pulang, kembali kepada Allah dengan hati yang bersih dan tekad yang baru.
Beliau mengungkapkan, ada empat golongan manusia yang dirindukan surga. Pertama, hamba yang setia bertilawah Al-Qur’an dan menamatkannya di bulan Ramadan. Kedua, mereka yang menjaga lisannya selama berpuasa, menahan kata dari dusta dan luka.
Ketiga, orang-orang yang gemar memberi makan untuk berbuka, berinfak, dan bersedekah, terutama di waktu subuh, saat amal disaksikan dua malaikat.
Keempat, mereka yang menunaikan puasa dengan penuh kesungguhan, menjaga lahir dan batin hingga akhir Ramadan.
Namun, di balik cahaya itu, Prof. Nasaruddin juga mengingatkan dua kelalaian yang sering menyelinap dalam kehidupan.
Kadang, saat azan berkumandang dan iqamat hampir dikumandangkan, manusia masih terikat urusan dunia. Atau ketika kasih pada anak keturunan berlebihan, hingga tanpa sadar menyingkirkan waktu shalat ke sudut kesibukan.
Dua perkara ini, kata beliau, sering menjauhkan manusia dari kesadaran akan kehadiran Allah.
Tausiah berakhir, tarawih pun ditunaikan. Jamaah perlahan meninggalkan masjid, membawa pulang renungan dan secercah tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Namun di sudut lain, lampu masjid masih menyala. Ketua pengurus, H. Hilal Kadir, bersama remaja masjid, bertahan menghitung isi celengan, sebuah kerja sunyi yang menjadi fondasi keberlangsungan dakwah dan pelayanan umat.
Malam pun menutup dirinya dengan tenang. Masjid Besar Al-Abrar kembali sunyi, namun denyut spiritualnya tetap hidup, bersemayam di dada para jamaah, menunggu fajar esok untuk kembali disapa dalam doa dan ibadah, sementara air hujan dari langit turun membasahi pertiwi tercinta (sdn)