Sahabat pembaca setia Mozaik Kehidupan, kita kembali bersua dalam limpahan nikmat sehat wal afiat. Pada setiap tarikan napas, sesungguhnya terhampar begitu banyak alasan untuk bersyukur.
Dalam denyut nadi yang setia berdetak, dalam cahaya pagi yang perlahan merekah, kita diajak merenungi betapa hidup ini adalah anugerah yang tak pernah berhenti mengalir.
Maka alhamdulillah, puji kita panjatkan atas rahmat dan kasih sayang-Nya yang memeluk hari-hari kita, setia, tanpa jeda.
Hari ini Jumat, sayyidul ayyam, penghulu segala hari. Dari keheningan subuh hingga gema azan zuhur, Jumat menghadirkan ruang sunyi bagi perenungan, pintu-pintu ampunan, serta waktu mustajab bagi doa-doa yang terpanjat lirih.
Di hari inilah umat dikumpulkan, disatukan dalam saf-saf yang sejajar, menanggalkan sekat dunia, lalu bersimpuh di hadapan Sang Khalik.
Tak heran jika Jumat selalu dirayakan sebagai hari berbagi: Jumat berkah, Jumat bersih, Jumat peduli, sebuah ikhtiar kecil menebar cahaya kemanusiaan di sudut-sudut kehidupan.
Di lembaran sejarah bangsa, Februari menyimpan denyut perjuangan yang tak lekang. Di Bandung, Februari 1938, Kongres Perempuan Indonesia III digelar, sebuah tonggak emansipasi yang meneguhkan hak, pendidikan, dan martabat kaum perempuan.
Dari ruang-ruang diskusi sederhana itulah lahir keberanian, disemai tekad, dan dirajut mimpi besar tentang Indonesia yang merdeka dan berkeadilan. Februari bukan sekadar bulan, melainkan simpul waktu yang mengikat pengorbanan, keberanian, dan harapan dalam satu napas panjang perjuangan.
Sementara itu, di tepian Pantai Tanjung Bayang, Makassar, Kamis kemarin, keceriaan tumbuh dari pertemuan sederhana Keluarga Besar Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Sulawesi Selatan.
Di bawah koordinasi Dra. Hj. Nirmawati Ghani dan Dra. Amirah Sambe, arisan dan perayaan ulang tahun menjelma oase kebahagiaan.
Tawa renyah para lansia berpadu dengan nyanyian โPanjang Umurโ, membelah semilir angin pantai yang hangat. Lutut-lutut yang kerap nyeri seolah lupa usia, bergoyang kecil mengikuti irama.
Sejenak, mereka menanggalkan beban hari, melupakan rindu cucu di rumah, dan merayakan hidup dalam syukur yang sederhana, namun penuh makna.
Di ruang yang lebih luas, umat Islam bersiap menjemput Ramadan. Tahun ini, perbedaan penetapan awal puasa kembali menjadi kemungkinan. Ketua Umum MUI, KH Anwar Iskandar, mengajak umat merawat perbedaan dengan lapang dada.
Bahwa ijtihad adalah ruang ikhtiar yang selalu terbuka, dan persatuan jauh lebih utama daripada perdebatan.
Di sanalah Ramadan menemukan hakikatnya, menyatukan, bukan memecah; mendekatkan, bukan menjauhkan.
Namun denyut zaman tak selalu lembut. Pasar modal bergejolak, IHSG tertekan, reputasi negeri ikut dipertaruhkan. Presiden Prabowo Subianto bereaksi tegas, menjaga kehormatan Indonesia di mata dunia.
Di sisi lain, ruang digital kembali dipenuhi kabar simpang siur, foto penangkapan palsu, video yang belum terverifikasi, hingga isu kriminal yang masih diselimuti tanda tanya.
Semua mengingatkan kita: di era serba cepat, kebenaran harus berlari lebih kencang dari kabar bohong, dan kejernihan mesti dijaga di tengah banjir informasi.
Kepanikan pun sempat mengguncang sebuah toko emas milik Ahong (47) di Jalan Somba Opuย Makassar, Kamis siang. Kombes Pol Arya Perdana menjelaskan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.30 Wita, saat aktivitas jual beli sedang ramai.
Pelaku seorang perempuan bernama Suriani datang dengan dalih hendak membeli emas, sebanyak 900 gram. Saat perhiasan dikumpulkan dalam satu wadah, ia berpura-pura memotret untuk dikirim kepada suaminya.
Namun niat jahat rupanya telah disusun sejak dari rumah. Cairan mudah terbakar dan alat pemantik telah dipersiapkan. Api pun menyala, kepanikan merebak, warga berlarian menyelamatkan diri.
Situasi yang semakin ramai justru menyulitkan pelaku melarikan diri. Sebuah pengingat getir bahwa kejahatan kerap lahir dari rencana sunyi, dan kewaspadaan adalah benteng pertama keselamatan. Pelaku dan barang bukti diamankan di Polrestabes Makassar.
Di tengah hiruk-pikuk dunia, kisah Bung Karno tentang seni kembali menyapa kesadaran. Ia, sang proklamator, bukan hanya pemimpin bangsa, tetapi juga jiwa seni.
Darah Bali yang mengalir dari ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai, menanamkan kecintaan mendalam pada keindahan. Bagi Bung Karno, seni bukan sekadar hiasan, melainkan napas peradaban.
Di sanalah manusia belajar menghargai, merawat, dan memuliakan kehidupan. Sebab bangsa yang mencintai seni, sejatinya sedang menjaga jiwanya sendiri.
Sementara itu, untuk Menjaga Cahaya Kemabruran; Ada saat-saat dalam hidup ketika sebuah peristiwa kecil di kalender berubah menjadi penanda besar dalam perjalanan makna. Senin, 16 Februari 2026, barangkali akan menjadi salah satunya.
Di Gedung Asta Cita, Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Sulsel akan mengukuhkan pengurus barunya. Sebuah prosesi yang tampak sederhana, namun menyimpan gema tanggung jawab yang panjang.
Di sana, para haji akan kembali berhimpun, bukan semata dalam balutan seremonial, melainkan dalam ikrar batin: menjaga kemabruran agar tak luntur oleh waktu.
Sebab haji, pada hakikatnya, bukan garis akhir dari perjalanan spiritual, melainkan awal pengabdian yang lebih luas. Pulang dari Tanah Suci, seseorang membawa cahaya. Dan cahaya itu menuntut untuk dijaga, dirawat, serta dibagikan.
Terpilihnya Hj. Meyti Rahmatilah sebagai Ketua Umum IPHI Sulsel masa bakti 2026โ2030, membuka lembaran baru. Bersamanya, terhimpun harapan agar IPHI kian kokoh sebagai rumah persaudaraan, ruang bertumbuh bagi nilai-nilai kebajikan,
Sekaligus mitra strategis pemerintah dalam membina umat. Di sinilah IPHI diharapkan hadir, menjahit ukhuwah, merawat silaturahmi, dan menebar manfaat yang nyata.
Dalam pelantikan yang akan dihadiri para pemimpin daerah, ulama, dan tokoh masyarakat itu, terpatri sebuah pesan sunyi: kemabruran haji sejatinya diuji bukan di Tanah Haram, tetapi di tanah sendiri.
Dalam cara kita menyapa tetangga, menolong sesama, menjaga amanah, dan memelihara kejujuran. IPHI pun dipanggil menjadi penjaga api kecil itu, agar ia tak padam, meski diterpa angin zaman.
Maka, pengukuhan ini adalah jeda sejenak untuk menata niat. Bahwa organisasi bukan sekadar struktur, melainkan ladang amal. Bahwa jabatan bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab.
Dan bahwa persaudaraan para haji bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan ikhtiar kolektif untuk menghadirkan Islam yang meneduhkan.
Di ambang hari pelantikan, semoga IPHI Sulawesi Selatan melangkah dengan langkah yang jernih, hati yang lapang, dan tekad yang teguh. Menjadi simpul persaudaraan yang menguatkan, cahaya yang menuntun, serta oase kebaikan di tengah denyut zaman yang kian cepat, ungkap Ilham Hamid kepada Penulis.
Sahabat pembaca !
Di antara syukur, sejarah, dan denyut zaman, hidup terus bergerak. Ada tawa lansia di tepi pantai, ada doa yang melangit di hari Jumat, ada jejak perjuangan di lembaran Februari, ada pelantikan pengurus IPHI serta ada peringatan agar kita tetap jernih di tengah kabut informasi.
Semoga kita senantiasa menemukan makna di setiap detik yang dianugerahi, Selamat menjemput berkah Jumat.
Mantaap Kanda.. rangkuman peristiwa mingguan tercakup di sini..๐๐
Sebagai purnabakti harus rajin menulis supaya jangan jadi pelupa
Slamat menyambut Ramadhan smoga sehat slalu broo…mohon maaf lahir dan bathin….