SYAKHRUDDINNEWS.COM – Di Antara Hening Sabat, Jejak Guru, dan Denyut Pengabdian; Pembaca setia Mozaik Kehidupan yang Penulis muliakan, Tanpa terasa, kalender kembali membuka lembaran baru.
Sabtu, 14 Februari 2026, hadir dengan kesenyapan khasnya, seolah mengajak kita berhenti sejenak dari riuh pekan, menepi dari hiruk-pikuk kesibukan, dan memberi ruang bagi jiwa untuk bernapas lebih panjang.
Dalam tradisi Abrahamik, Sabtu adalah Sabat: hari perhentian, hari jeda, hari ibadah, hari pemulihan. Ia bukan sekadar jeda fisik, melainkan ruang refleksi batin, tempat kita menimbang ulang arah langkah, merapikan niat, dan merawat hubungan dengan Sang Pencipta, keluarga, serta sesama.
Sabtu ceria, Sabtu 14 Februari 2026, juga akan menjadi kenangan terindah buat ananda, Adjat Sudradjat Yusuf, SE Bin Drs.H.M.Yusuf Alwi yang menggelar acara resepsi atas pesta perkawinannya dengan Apt. Sally Noorcelina Wuisan,S.Farm
Kegiatan dipusatkan di Gedung Hall Pascasarjana UNM, Jalan Andi Djemma Makassar.
Namun, Sabtu tak selalu berarti berhenti. Bagi Keluarga Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Sabtu justru menjadi denyut kerja kolektif. Di kota sejuk Malino, lanjutan rapat kerja digelar di bawah kepemimpinan Prof. Dr. H. Abd. Rasyid Masri, sebuah ikhtiar merancang arah, memantapkan langkah, dan menata masa depan lembaga.
Undangan beliau sampai ke gawai Penulis, namun takdir berkata lain. Pada saat yang sama, keluarga tengah menggelar walimah perkawinan. Dua hajat baik yang sama-sama memanggil.
Maka, dengan penuh hormat dan sedikit sesal, Penulis memilih memenuhi panggilan keluarga, sembari menyimpan harap semoga kelak ada waktu yang lebih lapang untuk kembali bersua dalam forum akademik yang sarat makna itu.
Jumat pagi kemarin, udara Makassar terasa lebih berat. Sebuah kabar duka mengalir pelan, mengetuk kesadaran kita: Drs. H. Sampo Seha, M.Ag, mantan Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, telah berpulang ke rahmatullah.
Beliau bukan sekadar dosen. Ia adalah mahaguru, penuntun, dan teladan. Sosok yang menanamkan ketekunan dalam berpikir, kelapangan dalam bersikap, serta keikhlasan dalam mengabdi.
Pukul 09.00 WITA, jenazah almarhum diberangkatkan menuju kampung halaman tercinta di Labakkang, Pangkep, diiringi doa, isak tertahan, dan kenangan yang tak akan pudar.
Di rumah duka, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D, menyampaikan kesan dan pesan terakhir. Kata-katanya sederhana, namun penuh makna: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Sebuah pengingat bahwa hidup adalah perjalanan pulang, dan pengabdian adalah bekal terbaik; Dari dunia akademik, pikiran kita melompat ke jagat seni. Di sana, nama Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra berkilau seperti cahaya yang tak pernah padam. Seniman serba bisa, pewaris api kreativitas, sekaligus penggugah kesadaran kebangsaan.
Karya-karyanya melampaui zamannya. Lagu-lagunya tetap hidup, menari di telinga lintas generasi. Swara Maharddhika, yang ia dirikan pada 1977, menjadi kawah candradimuka para pelaku industri hiburan Indonesia.
Puncaknya, “Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarnoputra” tahun 1979 menjelma revolusi seni pertunjukan modern, menghadirkan semangat baru, warna baru, dan keberanian menembus batas.
“Tak boleh biasa-biasa. Harus luar biasa,” katanya suatu waktu.
Kalimat itu bukan sekadar slogan. Ia menjelma napas panjang yang menggerakkan karya.
Dalam sosoknya, kita membaca kembali gagasan besar Bung Karno: keberanian melompat, semangat merdeka, dan keyakinan bahwa seni adalah jalan pembebasan.
Di sudut lain kota, denyut pengabdian tengah disiapkan. Pagi Makassar belum sepenuhnya terjaga ketika kabar itu mengalir: Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Sulawesi Selatan bersiap menapaki fase baru.
Senin, 16 Februari 2026, Gedung Asta Cita di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel akan menjadi saksi pelantikan pengurus IPHI Sulsel masa bakti 2026–2030.
Pelantikan ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah peristiwa batin: pertemuan antara amanah dan harapan. Hj. Meyti Rahmatilah dipercaya memimpin, dengan tanggung jawab besar merawat spirit kemabruran haji agar terus hidup dalam keseharian umat.
“Ini bukan hanya pengukuhan, tapi konsolidasi langkah,” ujar Ilham Hamid, dalam kapasitas sebagai narasumber.
Para tokoh daerah dijadwalkan hadir, Gubernur Sulsel, Ketua DPRD, Pangdam XIV/Hasanuddin, Kapolda Sulsel, pimpinan Kemenag, ulama, hingga tokoh masyarakat.
Semua berkumpul dalam satu ruang, membawa satu cita: menjadikan IPHI sebagai rumah persaudaraan, pusat pengabdian, dan simpul kebaikan sosial.
Wakil Ketua IPHI Sulsel, H. M. Yunus, mengingatkan bahwa haji bukan garis akhir perjalanan spiritual, melainkan titik awal pengabdian. Nada serupa disampaikan Prof. Syarifuddin Ondeng: IPHI harus menjadi gerakan moral, menyatukan ibadah, dakwah, dan pemberdayaan umat.
Di belahan lain Nusantara, denyut perubahan juga bergema. Dari Jawa Barat, Gubernur Dedi Mulyadi menyiapkan terobosan pendidikan lewat pendirian Sekolah Maung, Manusia Unggul.
Sekolah ini dirancang menjaring potensi anak bangsa dari kota hingga pelosok desa, membuka enam jurusan keahlian strategis, dan menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih adil dan merata.
Sementara itu, di dunia jurnalistik, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengingatkan: kecerdasan buatan tak boleh menggantikan nurani manusia. AI boleh membantu, tetapi kepekaan, etika, dan tanggung jawab tetap harus berada di tangan insan pers.
Di Papua, kabar duka dan luka kembali mengetuk nurani. Insiden penembakan di Distrik Tembagapura merenggut nyawa seorang prajurit dan melukai yang lain. Sebuah pengingat getir bahwa kedamaian masih harus terus diperjuangkan, dengan kesabaran, keteguhan, dan cinta tanah air.
Di Sulawesi Selatan, denyut pembangunan berlanjut. Lapangan Gaspa Palopo kini tampil lebih tertata, sementara di Makassar, jalan di Romang Tangayya akan segera diperlebar. Kecil, mungkin. Namun bagi warga, inilah tanda hadirnya negara di tengah kehidupan sehari-hari.
Maka, Sabtu ini kita berdiri di persimpangan makna: antara hening Sabat, jejak guru yang berpulang, denyut seni yang abadi, dan ikhtiar pengabdian yang terus tumbuh.
Di sanalah Mozaik Kehidupan dirangkai, dari serpihan peristiwa, dari denyut rasa, dari doa-doa yang diam-diam kita panjatkan.
Semoga kita senantiasa diberi kejernihan hati untuk membaca tanda-tanda zaman, dan kelapangan jiwa untuk tetap setia pada nilai-nilai kebaikan.
Selamat menjemput Sabtu dengan syukur, menyusuri hari dengan harap, dan menutupnya dengan doa.
Salam hangat dari kami,
Mozaik Kehidupan by. syakhruddin tagana


