Salam persahabatan, Tinggal sepekan lagi, gerbang Ramadan 1447 Hijriah akan terkuak. Kota Makassar mulai berdenyut dalam irama yang berbeda. Di sudut-sudut jalan, songkok disusun rapi, mukena digantung berderet, dan tasbih berkilau di bawah cahaya lampu toko.
Para pedagang kecil berharap: semoga berkah segera mengetuk pintu rezeki.
Namun, harapan itu berjalan beriringan dengan kegelisahan. Penertiban kios liar yang menjorok ke trotoar memaksa banyak pedagang merapikan kembali hidup mereka.
Ada yang menggulung terpal lapak dengan mata sembab, ada pula yang mengubah mobil tua menjadi kios berjalan. Maka, di halaman masjid-masjid yang mulai ramai, denyut ekonomi kecil kembali mencari denyutnya, sederhana, jujur, penuh ketabahan.
Di sisi lain kota, semilir angin Tanjung Bayang mengusap wajah-wajah sepuh penuh senyum. Lanjut usia yang tergabung dalam Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Sulawesi Selatan berkumpul dalam arisan bulanan, dirangkai perayaan ulang tahun anggota LLI kelahiran Februari. lokasinya, Di Villa Hj. Andi Yunita Dirham, tawa dan doa saling menyapa.
Di bawah koordinasi Hj. Nirmawati Ghani dan bendahara Amirah Sambe, mereka merayakan usia dengan kesederhanaan. Jika cuaca bersahabat, laut menjadi saksi: kaki-kaki renta menapak air, membasuh letih, menyucikan raga dan rasa.
Dari mereka, kita belajar bahwa hidup tak pernah kehilangan makna, selama syukur tetap dijaga.
Di ruang lain, gema haru memenuhi Sheraton Hotel Makassar. Ramah tamah wisuda Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar menjadi perayaan ketekunan.
Sebanyak 115 sarjana baru dilepas, 45 lelaki, 70 perempuan, membawa harapan keluarga dan bangsa.
Dekan FDK, Prof. Dr. Abd. Rasyid Masri, melukiskan empat momen yang membuat mata basah: kelahiran anak pertama, kelulusan sarjana, restu menuju pernikahan, dan saat menggendong cucu, ujarnya di depan peserta ramah tamah.
Namun, dari timur negeri, kabar pilu mengguncang. Pesawat Cessna PK-SNR yang membawa 12 penumpang ditembak di Bandara Koroway Batu, Boven Digoel, Papua Selatan.
Dua pilot gugur. Hutan menjadi pelarian, ketidakpastian menjadi selimut. Negeri kembali diuji: seberapa kuat kita menjaga nyawa di tanah sendiri.
Dari pusat kekuasaan, ketegasan disuarakan. Presiden Prabowo Subianto menyatakan perang terhadap “telur-telur busuk” yang merusak birokrasi dan menggerogoti lingkungan.
Izin 28 perusahaan di Sumatera dicabut. Satelit, drone, dan data lapangan menjadi saksi: negara tak boleh tunduk pada kerakusan.
Dari panggung global, kabar lain menggetarkan nurani. Ribuan prajurit Indonesia disiapkan memasuki Gaza, membawa misi stabilisasi dan kemanusiaan.
Di antara reruntuhan Rafah dan Khan Yunis, Merah Putih akan berkibar, bukan untuk perang, melainkan untuk damai.
Di ruang publik, dialog tentang ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, menemukan titik terang. Salinan resmi dibuka, polemik diajak berdamai. Kebenaran, sekali lagi, diingatkan lahir dari ketelitian, bukan dari kegaduhan.
Di Sulawesi Selatan, denyut pembangunan terus dirajut. Gubernur Andi Sudirman Sulaiman bersama Bupati Takalar Daeng Manye memulai pembangunan ruas jalan Galesong.
Aspal bukan sekadar hitam yang mengilap, melainkan penghubung harapan, pembuka rezeki, dan pemendek jarak cita-cita.
Kabar menggembirakan datang bagi calon tamu Allah. Presiden Prabowo memastikan pembangunan Kampung Haji Indonesia di Mekkah. Hak istimewa yang belum pernah diberikan kepada bangsa lain.
Di tanah suci, kelak, Indonesia akan memiliki ruang untuk menata kenyamanan jemaah, merawat martabat bangsa.
Namun, di balik kabar baik, luka hukum kembali menganga. Dugaan keterlibatan Kapolres Bima Kota dalam peredaran narkoba menyentak nurani. Negeri ini diuji: mampukah hukum berdiri tegak tanpa pandang bulu?
Sementara itu, wacana pembentukan Satgas Pencegahan Demonstrasi di Sulsel memantik perdebatan. Antara stabilitas dan demokrasi, ruang dialog diuji. Karena sejatinya, aspirasi bukan musuh, melainkan napas republik.
Dari trotoar yang ditertibkan, arisan di tepi pantai, jalan yang dibangun, hingga pasukan yang disiapkan menembus Gaza, hidup bergerak dalam mozaik yang tak pernah seragam.
Dan di ambang Ramadan, kita belajar: bahwa di balik hiruk-pikuk dunia, selalu ada ruang untuk harap, doa, dan keberanian menata masa depan.
Sehat selalu Seluruh Civitas Kampus Fak.Dakwah
maju tak gentar membela yang bayar, hehehehehe
Saya Bangga Menjadi Alumni Fak.Dakwah dan Komunikasi …
lanjutkan pengabdian di amsyarakat