SYAKHRUDDINNEWS.COM – Di Antara Doa, Wisuda dan Denyut Kebangsaan.
Pagi menyapa dengan cahaya lembut. Angin Februari berembus membawa kabar baik, menyusup ke celah-celah jendela rumah, mengetuk kesadaran kita bahwa waktu terus berjalan, tak pernah menunggu, hidup bagaikan roda pedati.
Ramadan 1447 Hijriah kian mendekat, menghadirkan getar rindu yang khas, rindu pada sunyi sahur, khusyuk tarawih, dan lirih doa di sepertiga malam.
Di banyak sudut kampung, orang-orang mulai sibuk. Halaman disapu, makam keluarga diziarahi, dan silaturahmi disambung kembali. Sebagian saudara kita menyiapkan diri menyambut Imlek, sehingga dua perayaan besar hanya dipisahkan oleh jarak sehari.
Di sinilah Indonesia menemukan keelokannya: keberagaman yang hidup, perbedaan yang saling menyapa, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang tak pernah usang.
Rabu ini, 11 Februari 2026, Makassar berdenyut dalam irama syukur. Di Golden Lily Hall A, Four Points by Sheraton Makassar, ratusan wajah muda berkumpul, menyulam mimpi dalam balutan toga.
Keluarga Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) menggelar Ramah Tamah Wisuda Sarjana Angkatan 116 Tahun Akademik 2025/2026.
Sehari sebelumnya, ruang Haji Muhammad Amir Said, di Kampus Samata, menjadi saksi bisu yudisium, detik-detik penegasan bahwa perjuangan panjang di bangku kuliah telah sampai pada satu garis akhir, sekaligus garis awal.
Di ruangan megah itu, ada mata yang berkaca, ada senyum yang tak mampu disembunyikan, dan ada doa orang tua yang mengalir tanpa suara.
Rangkaian acara ramah tamah mengalun hangat: pesan dan kesan wisudawan, haru wakil orang tua, hingga penyerahan daftar alumni dari Dekan kepada Ketua Ikatan Alumni.
Puncaknya, amanat penuh hikmah dari Dekan FDK, Prof. Dr. H. Abd. Rasyid, mengingatkan bahwa ilmu bukan sekadar gelar, melainkan tanggung jawab sosial. Di sanalah, harapan tumbuh bahwa para sarjana ini kelak menjadi lentera di tengah masyarakat.
Di Magelang, pada waktu yang hampir bersamaan, denyut kebangsaan berpacu dalam irama yang lebih luas. Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, membuka Training of Trainers Manajemen bagi tenaga pengajar Sekolah Rakyat di SMA Taruna Nusantara. Di hadapan ribuan peserta, ia menekankan satu kata kunci: karakter.
Bahwa pendidikan bukan hanya soal kecerdasan, tetapi pembentukan watak. Bahwa anak-anak dari latar belakang apa pun, berhak tumbuh dengan jiwa kebangsaan yang kuat, mencintai tanah air, dan merawat persaudaraan sebangsa.
Di sana, masa depan Indonesia sedang ditempa pelan, sabar, dan penuh keyakinan.
Selain itu, dengan kebijakan baru Menteri Sosial, ada sekitar 200 orang anggota Tagana aktif dan Forum Perdamaian (Fordam) tidak akan lagi menerima tali asih Tagana, disebabkan karena berbagai faktor. Ada yang sudah memiliki SK sebagai pegawai dengan perjanjian kontrak, ada pula yang sudah di SK-kan sebagai pegawai paruh waktu, intinya tidak dibenarkan menerima dua pendapatan dari sumber APBN yang sama.
Keputusan ini terasa getir bagi relawan Tagana, namun tak dapat berbuat banyak dari kebijakan ini, namun demikian mereka yang aktif di lapangan di saat bencana terjadi, masih tersedia anggaran pengerahan Tagana, semoga hal ini bukan lagi menjadi lahan garapan bagi pejabat yang diberi amanah untuk mempertanggungjawabkan kegiatan tersebut, dimana Tagana siang malam berjibaku di lokasi bencana.
Sementara itu, dari Bantaeng, suara kritis anak muda menggema. Kesatuan Pemuda dan Mahasiswa Bergerak Sulawesi Selatan, mengingatkan pentingnya etika dalam tata kelola pemerintahan.
Sorotan terhadap penunjukan tenaga ahli bupati yang memiliki hubungan keluarga bukanlah soal personal, melainkan panggilan nurani untuk menjaga marwah transparansi dan keadilan.
Di republik ini, kritik adalah bentuk cinta. Ia lahir bukan untuk merobohkan, melainkan untuk mengingatkan. Sebab kekuasaan, tanpa etika, mudah tergelincir pada lupa.
Dari panggung politik nasional, kabar lain menyusul. Motivator dan pengusaha Merry Riana resmi bergabung dengan Partai Demokrat. Di tangannya, harapan akan energi baru bagi dunia politik seakan disulut kembali.
Sementara di Senayan, wacana Presiden Prabowo Subianto dua periode mengemuka, didorong tingginya tingkat kepuasan publik.
Demokrasi terus berdenyut. Gagasan bertemu kepentingan, aspirasi bersua realitas. Dan rakyat, seperti biasa, menjadi penentu arah sejarah.
Beginilah mozaik kehidupan kita hari ini: dari sapu di halaman rumah, toga di ruang wisuda, kelas-kelas pembentuk karakter, Tagana yang merana hingga ruang-ruang diskusi tentang etika dan kekuasaan.
Semuanya merangkai satu cerita besar tentang Indonesia, tentang ikhtiar tanpa henti untuk menjadi bangsa yang lebih beradab, Selamat menjalani hari Rabu yang indah.
Semoga setiap langkah kita senantiasa disertai doa, dijaga kejujuran, dan dituntun kasih sayang.
Salam Takzim : Syakhruddin Tagana

Masya Allah.. mozaik ini sangat berkesan dan isfiratif. Menambah ilmu dan info info yang menarik untuk disimak. Tank you..
Lanjutkan selalu membaca Mozaik kehidupan
‘Aamiin ‘aamiin ‘aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin