SYAKHRUDDINNEWS.COM – “Ahad: Di Antara Sunyi Tuhan, Riuh Manusia, dan Ambisi Kekuasaan”
Pembaca setia Mozaik Kehidupan yang penulis muliakan, Kita bersua di simpang waktu bernama Ahad, hari yang sering kita sambut dengan senyum ringan, tetapi jarang kita renungi maknanya secara mendalam.
Ahad datang sebagai jeda di antara pekan yang riuh, sejenak mengajak kita menepi, menghela napas, dan menata kembali langkah.
Dalam jejak bahasa Arab, Ahad bermakna satu, tunggal, awal dari segala hitungan. Ia mengingatkan kita pada asal mula, pada kesadaran bahwa hidup ini bermula dari satu kehendak Ilahi.
Dalam lidah kita, ia menjelma menjadi Minggu, hari libur, hari jeda, hari yang seolah diciptakan untuk memberi ruang bagi jiwa agar tidak lelah menanggung beban dunia.
Kata Minggu menyeberangi samudra dari bahasa Portugis, Domingo, Hari Tuhan. Penjajahan memang mewariskan luka, tetapi juga meninggalkan serpih bahasa yang kini membumi dalam keseharian kita.
Dari Domingo, lidah Nusantara merangkai Minggu: akrab, sederhana, namun sarat makna. Di balik sebutan Hari Tuhan, tersimpan kisah purba tentang penciptaan.
Enam hari Allah berkarya, dan pada hari ketujuh, Ia beristirahat. Bukan karena letih, bukan sebab lemah, melainkan untuk menanamkan satu hikmah: bahwa segala yang hidup harus mengenal batas.
Manusia kerap lupa pada batas itu. Kita berlari tanpa jeda, menumpuk agenda, mengejar target, memburu ambisi, hingga lupa bercermin pada diri sendiri. Maka Ahad hadir sebagai penanda: berhentilah sejenak. Duduklah. Dengarkan degup jantungmu. Rasakan hidup yang berdenyut dalam kesederhanaan.
Barangkali karena itulah, setiap Ahad pagi, jalan-jalan protokol berubah wajah. Aspal yang biasanya panas oleh deru mesin, kini menjelma panggung langkah-langkah santai.
Car Free Day menjadi ruang temu: anak-anak bersepeda dengan tawa renyah, pasangan lansia melangkah perlahan, pemuda berlari mengejar keringat, dan pedagang kaki lima merangkai harap di balik etalase sederhana.
Di sanalah kehidupan menemukan denyut paling jujurnya.
Tawa, sapa, tawar-menawar, dan aroma jajanan berpadu menjadi satu. Hari Ahad bagi para pedagang bukan sekadar hari libur, melainkan hari pembuka rezeki. Diskon kecil menjadi magnet, senyum tulus menjadi promosi, dan doa lirih menjadi harapan agar dagangan habis sebelum siang.
Ahad menyatukan yang berolahraga dan yang berdagang, yang bersantai dan yang bekerja, yang sekadar berjalan dan yang menata masa depan. Di sanalah makna istirahat menjadi lentur: bukan berhenti total, melainkan menjalani hidup dengan rasa.
Pagi Ahad menyapa dengan cahaya lembut. Angin bergerak pelan, seolah mengajak kita menimbang kembali arah, meneguhkan pilihan, dan merapikan niat.
Di antara denyut kampus dan riuh kota, terselip pesan-pesan sunyi yang sesungguhnya sedang memanggil nurani, sementara alam bulan Februari ditandai dengan cuaca hujan yang silih berganti.
Di sudut hari yang teduh itu, Dedi Hamid dan Andi Habibah Tenri menautkan janji suci. Akad nikah akan berlangsung Ahad, 08 Februari 2026, pukul 09.00 Wita di Hotel Swiss-Belinn Panakkukang, Makassar.
Kakak ipar mereka, Harun Asmadi, akan menjadi saksi, sebagaimana disampaikan Hamkah Hamied Dg Sarro. Di antara lantunan doa dan senyum keluarga, cinta mereka melangkah menuju babak baru , semoga menjadi taman sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Di sisi lain, salah seorang pembaca setia Mozaik Kehidupan, Bapak AS, menuturkan kisah sunyi hidupnya. Sejak istri tercinta berpulang, hari-harinya dilalui dalam kesendirian.
Foto sang belahan jiwa terpajang di kamar, menjadi teman bicara dalam sepi. “Dengan membaca Mozaik Kehidupan,” ujarnya lirih, “saya semakin paham bahwa dunia ini hanyalah tempat singgah sementara.” Sebuah kesadaran yang lahir dari duka, tetapi bersemi menjadi kebijaksanaan.
Di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, suara kebijaksanaan mengalir dari mimbar akademik. Prof. Dr. H. Abd. Rasyid Masri, M.Pd., M.Si., MM, sang dekan, menanamkan pesan tegas namun penuh kasih: kampus adalah taman masa depan, bukan ladang kehancuran.
Mahasiswa diingatkan agar menjauh sejauh-jauhnya dari narkoba dan zat adiktif dalam bentuk apa pun — mulai dari liquid sintetis, gorilla, sabu cair, THC oil, hingga berbagai modus baru yang kian licin menyusup di balik gaya hidup modern. Sanksinya jelas dan tak bisa ditawar: drop out dan proses hukum.
Namun lebih dari sekadar larangan, pesan itu sejatinya adalah pelukan moral. Sebab narkoba bukan hanya merusak raga, melainkan merobek martabat, memutus harapan, dan mengoyak masa depan. “Jika narkoba menyentuh hidupmu,” tutur beliau, “di situlah masa depan mulai kehilangan arah.”
Dari lorong kampus, kita beranjak ke Banten — tanah yang berdenyut oleh semangat kebersamaan. Hari Pers Nasional 2026 menjadikan provinsi ini sebagai tuan rumah, dan kepercayaan itu disambut hangat.
Ribuan insan pers menggerakkan roda ekonomi: hotel penuh, UMKM bergeliat, pariwisata bersemi, dan kota menjadi lebih hidup.
HPN bukan sekadar perayaan profesi, melainkan pertemuan gagasan, jembatan jejaring, dan ruang menanam citra positif daerah. Dari sana pula lahir gerakan Kota ASRI — Aman, Sehat, Resik, dan Indah, sebuah ikhtiar merawat bumi, menumbuhkan kesadaran, dan menanam harapan kolektif.
Namun di belahan dunia lain, Ahad berdenyut dengan nada yang berbeda. Dari Amerika Serikat, kabar datang menyeruak: Presiden Donald Trump dikabarkan ingin mengabadikan namanya pada bandara dan stasiun kereta.
Infrastruktur publik, yang seharusnya menjadi milik bersama, hendak dibubuhi jejak ego personal. Nama besar ingin dipahat di dinding sejarah, meski harus ditebus dengan dana miliaran dolar.
Stasiun Penn New York dan Bandara Internasional Dulles Washington disebut-sebut menjadi target — sebuah pertaruhan antara anggaran publik dan ambisi pribadi.
Di titik ini, Ahad seperti mengajarkan ironi: Di satu sisi dunia, manusia diajak melambat, menyadari batas, dan merayakan kesederhanaan. Di sisi lain, ada hasrat yang terus melaju, ingin dikenang, ingin diabadikan, ingin menang dalam permainan simbol dan kuasa.
Maka Ahad bukan sekadar hari libur. Ia adalah cermin, tentang bagaimana kita memaknai hidup: apakah sebagai perjalanan yang patut dinikmati, atau sebagai perlombaan yang harus dimenangkan.
Dan di sanalah Mozaik Kehidupan menemukan denyutnya, di antara sunyi Tuhan, riuh manusia, dan ambisi kekuasaan.
Salam Takzim : Syakhruddin Tagana

Luar biasa sodaraku….
aSAL JANGAN BIASA DI LUAR
Selamat berhari DOMINGGO untuk semua mahluk hidup …