SYAKHRUDDINNEWS.COM – “Sabtu: Di Antara Syukur, Harap, dan Doa”
Sabtu selalu datang dengan langkah paling lembut. Ia mengetuk pintu hari dengan senyum tipis, membawa jeda dari hiruk-pikuk, menghadiahkan waktu untuk kembali pulang kepada keluarga, kepada dapur yang mengepul hangat, kepada rindu yang lama terpendam.
Di hari ini, kita seperti diajak untuk sejenak meletakkan beban, menyeruput kopi perlahan, dan membiarkan hati bernapas.
Bagi banyak orang, Sabtu adalah hari berkumpul. Di meja makan, tangan-tangan saling menjangkau, doa terucap sebelum suap pertama. Aroma masakan ibu menguar, mengikat kenangan masa kecil yang tak pernah benar-benar pergi.
Sementara bagi para pekerja bangunan, kuli angkut, dan mereka yang menggantungkan hidup pada upah mingguan, Sabtu adalah hari panen kecil:
Lembaran Sudirman berpindah tangan dari mandor, menjadi bekal hidup, menjadi harapan untuk esok yang lebih baik. Sabtu adalah hari bahagia, dengan caranya masing-masing.
Di tengah denyut kota yang tak pernah sepenuhnya diam, Pemerintah Kota Makassar menggelar pelantikan para camat dan pejabat struktural di Tribun Karebosi, Hujan turun perlahan, seakan membasuh langkah baru yang akan ditempuh.
Atas nama Pengurus Shelter Warga Kelurahan Pa’Baeng-Baeng, kami menyampaikan selamat bertugas kepada Bapak Muh. Aril Syahbani Kahar, S.IP, sebagai Camat Tamalate, serta terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak H. Emil Yudianto Tajuddin, SE, M.Si.
Pamong senior yang kini mengemban amanah baru sebagai Sekretaris Dinas Pertanahan Kota Makassar. Dalam rinai hujan Jumat pagi itu, terselip harap: semoga jabatan bukan sekadar titel, melainkan jalan pengabdian; bukan sekadar kursi empuk, melainkan tangga menuju pelayanan yang tulus.
Sabtu ini juga menyimpan bahagia lain. Di Bekasi, Jawa Barat, sepasang anak manusia mengikat janji suci. Ananda Arie Nugraha,S.T,M.T putra pertama dari almarhum Bapak Rahmadi dan Ibu Almarhumah Nurwahidah akrab disapa cucu almarhum Abd. Hamid Daeng Naro dari Kampung Pattolosang Limbung, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa.
Mengucap akad nikah, menyatukan dua hati dalam satu tujuan: membangun rumah yang bernaung dalam ridha Ilahi, dengan perempuan pilihan hatinya, Syifa Fauziah,S.Pd,M.Pd putri ketiga dari Almarhum Bapak Bachtiar dan Ibu Fitriany Wijaya, yang leluhurnya berasal dari Bangka Belitung (Babel) namun sudah beranak pinak di Bekasi, Jawa Barat.
Dari Makassar, segenap kerabat dan keluarga baik di Makassar maupun di Limbung, mengiringi doa kami terbang bersama angin: semoga cinta kalian tumbuh dalam sabar, berbuah dalam syukur.
Namun, hidup selalu menyertakan sisi lain yang getir. Api melalap lima rumah di Jalan Bulogading, Makassar. Pagi yang seharusnya tenang berubah menjadi kepanikan.
Beruntung, tak ada korban jiwa, tetapi kehilangan harta dan kenangan adalah luka yang tak ringan. Di balik bara yang padam, kita belajar tentang rapuhnya kepemilikan, dan kuatnya solidaritas.
Dari Ngada, Nusa Tenggara Timur, kabar lebih pilu datang: seorang siswa sekolah dasar mengakhiri hidupnya. Tragedi ini menjadi cermin buram tentang masih timpangnya keadilan pendidikan.
Tangis seorang anak seakan mengetuk nurani kita: bahwa negara belum sepenuhnya hadir bagi mereka yang hidup dalam kekurangan. Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah adalah ikhtiar, namun empati dan kepedulian sosial adalah energi yang membuat ikhtiar itu bernyawa.
Sementara itu, di Jawa Barat, penipuan digital merajalela, menelan ribuan korban. Di Semarang, ambulans, simbol pertolongan. disalahgunakan untuk menagih utang.
Betapa zaman telah berubah, namun nilai kemanusiaan justru kerap tergerus. Ambulans seharusnya melaju untuk menyelamatkan nyawa, bukan menakut-nakuti sesama.
Dan dini hari, bumi Pacitan diguncang gempa. Alam kembali mengingatkan bahwa kita hanyalah tamu di semesta ini. Segala yang kita banggakan bisa runtuh dalam sekejap, menyisakan satu hal yang paling berharga: rasa saling menjaga.
Sementara itu, Langit Februari belum sepenuhnya bersih dari sisa hujan. Awan-awan tipis menggantung, seolah ikut menunggu sebuah kepastian: kapan puasa akan bermula. Di ufuk barat, senja perlahan merekah, membawa tanya yang tak sekadar astronomi, melainkan juga spiritual, tentang awal Ramadan yang kembali menyapa umat.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka lembar diskusi itu. Prof. Thomas Djamaluddin, peneliti astronomi, mengurai kemungkinan: awal Ramadan 1447 Hijriah berpeluang jatuh pada dua tanggal, 18 atau 19 Februari 2026. Bukan karena data langit yang saling bertentangan, melainkan perbedaan cara memaknai hadirnya bulan sabit tipis, hilal yang menjadi penanda waktu suci.
Di Indonesia, pemerintah bersama mayoritas organisasi Islam berpegang pada kriteria hilal lokal. Sebuah pendekatan yang mengajarkan kesabaran: menunggu hingga bulan benar-benar tampak di langit Nusantara. Namun pada petang 17 Februari 2026, posisi bulan masih berada di bawah ufuk, tersembunyi dari pandangan mata.
Tak ada sabit yang bisa disaksikan, tak ada cahaya yang bisa dijadikan saksi. Maka, dengan tenang dan penuh pertimbangan, awal Ramadan diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Di sudut-sudut kota, pengumuman ini bergaung lirih. Di masjid, di warung kopi, di ruang keluarga. Sebagian tersenyum, sebagian menghitung hari. Sebab Ramadan bukan sekadar tanggal; ia adalah perjumpaan jiwa dengan keheningan, latihan kesabaran, dan harapan untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Sementara itu, waktu terus melaju. Dari langit yang menanti hilal, perhatian bergeser ke rel-rel panjang yang menghubungkan kota demi kota. Tiket kereta api mudik Lebaran 2026 mulai diburu. Seperti tradisi tahunan, kerinduan pulang kampung kembali mengetuk dada.
Malam ini, Jumat, 6 Maret 2026, tepat pukul 00.00 WIB, pemesanan tiket untuk keberangkatan Selasa, 24 Maret 2026—H+2 Lebaran, resmi dibuka. Di layar-layar gawai, jari-jari bersiap. Ada doa di setiap klik: semoga kursi tak kehabisan, semoga perjalanan lancar, semoga perjumpaan dengan orang tua dan sanak keluarga segera terwujud.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa saat ini pemesanan tiket baru tersedia hingga 22 Maret 2026, mengikuti skema H-45. Angka itu akan terus bertambah, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya antusiasme masyarakat.
Rel, lokomotif, dan gerbong seakan ikut merasakan degup rindu para perantau. Di balik deru mesin, ada kisah tentang anak yang ingin mencium tangan ibunya, ayah yang ingin memeluk anaknya, dan keluarga yang ingin kembali duduk melingkar di meja sederhana, berbagi cerita dan tawa Lebaran.
Begitulah hidup: di satu sisi kita menunggu hilal di langit, di sisi lain kita menanti jadwal kereta di bumi. Keduanya mengajarkan hal yang sama, tentang sabar, harap, dan pulang. Sebab pada akhirnya, Ramadan dan mudik adalah dua jalan sunyi yang sama-sama menuju rumah: rumah raga, dan rumah jiwa.
Begitulah Sabtu menyusun mozaiknya: ada tawa, ada air mata; ada harap, ada cemas; ada cinta, ada kehilangan. Di setiap keping kisah itu, kita diajak untuk lebih peka, lebih rendah hati, dan lebih bersyukur.
Selamat menikmati Sabtu, dan selamat bermalam minggu, Semoga hari ini menjadi ruang bagi kita untuk mencintai lebih dalam, memaafkan lebih luas, dan berharap lebih jernih.
Salam Takzim, Syakhruddin Tagana


Selamat bermalam minggu daeng !
Serba serbi kehidupan tergambar jelas dalam mozaik kehidupan edisi 7 Februari 2026. Satu hal yg menjadi kerinduan yaitu Bulan Ramadhan. Semoga ALLAH SWT memberikan mita umur yg berkah sehingga dapat menjalankan ibadah puasa full dan mendapatkan keberkahannya. Aamiin YRA.