SYAKHRUDDINNEWS.COM – Selamat pagi yang indah, kita berjumpa kembali di hari ketiga, pekan pertama bulan Februari 2026. waktu bergerak seperti jarum jam yang tak pernah menoleh ke belakang.
Diam-diam ia mengingatkan: tinggal sekitar tiga belas hari lagi, kaum muslimin akan berdiri di ambang gerbang suci Ramadan 1447 Hijriah. Bulan yang selalu membuat hati seperti dibersihkan kembali, seperti rumah tua yang lama tak disapu, lalu tiba-tiba ingin ditata rapi, sebelum tamu agung datang.
Kemarin, Makassar masih diguyur hujan.Hujan yang turun tidak sekadar menetes, tetapi seperti mengajari kita satu hal: bahwa langkah boleh melambat, tetapi semangat tidak boleh tumbang.
Kadang hujan membuat jalanan menjadi licin, kendaraan lebih berhati-hati, dan rencana yang disusun rapi bisa berubah mendadak. Tapi bukankah hidup pun begitu? Hari ini tertawa, besok bisa saja diuji.
Pagi ini terang, siangnya mendung, malamnya sunyi. Hujan dan panas silih berganti, Susah dan senang pun saling berbalas kisah.Maka mari jalani hidup sesuai kodratnya, dengan sabar yang tidak dibuat-buat, dengan ikhlas yang tidak dipaksa-paksa.
Sebab pada akhirnya, kita semua akan pulang juga, dengan bekal yang sama: kain kafan belaka.
Perang yang Tak Pakai Peluru: Melawan Sampah ; Di tengah hujan yang rajin menyapa, ada suara tegas dari pucuk kekuasaan yang terdengar seperti komando perang.
Presiden Prabowo, di hadapan para prajurit, menyampaikan perintah yang sederhana, tetapi bermakna besar: “TNI saya perintahkan kepadamu, untuk kerja bakti setiap hari atau beberapa hari sekali.
Demikian pula dengan Kepolisian dan kita nyatakan perang terhadap sampah.” Kalimat itu bukan sekadar instruksi, tapi semacam teguran halus kepada kita semua:
Bahwa musuh bangsa kadang bukan hanya yang datang dari luar, melainkan juga yang tumbuh di sekitar kita, sampah yang kita biarkan, kita tumpuk, lalu kita wariskan.
Menjelang Ramadan, harapan kita sama: Semoga kita bisa menyambut bulan suci dengan lingkungan yang bersih, jalanan yang rapi, dan hati yang lebih ringan.
Karena kebersihan bukan sekadar urusan estetika, melainkan juga urusan martabat. Sebab kawasan yang bersih selalu membuat kita merasa: “Ya… hidup ini masih layak diperjuangkan.”
Menjelang Ramadan dan Idulfitri, ada satu hal yang selalu menjadi perhatian banyak keluarga: harga pangan. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa seluruh Rumah Potong Hewan (RPH) diminta melarang para jagal menaikkan harga daging sapi.
Di tengah kondisi harga pangan nasional yang disebut masih terkendali, pemerintah tetap ingin memastikan: jangan ada yang mengambil keuntungan berlebihan di atas kebutuhan orang banyak.
Berdasarkan rilis BPS, komponen volatile food mengalami deflasi bulanan 1,96 persen dan inflasi tahunan 1,14 persen, tanda bahwa stabilitas masih terjaga. Pemerintah menetapkan harga sapi siap potong dari feedloter tidak lebih dari Rp55.000/kg, dan diterima di RPH maksimal Rp56.000/kg.
Harga daging di pasar pun diharapkan tidak lebih dari Rp130.000/kg. Mentan Amran menegaskan dengan nada yang tak memberi ruang tawar-menawar:
“Seluruh RPH tidak boleh menaikkan harga daging. Pemerintah ingin memastikan harga sapi dan daging tetap stabil, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.”Sebab Ramadan seharusnya menjadi bulan ibadah, bukan bulan kecemasan. Bulan sujud, bukan bulan mengeluh di depan etalase pasar, bulan berbagi, bukan bulan menimbun.
Di Lantai 20 Aston: Ada Harapan yang Disusun Pelan-pelan, Siang itu, langit Makassar seperti sedang belajar menahan diri. Sesekali hujanrintik, tidak pula murung. Jalanan tetap bergerak, kendaraan berlalu seperti biasa.
Namun di satu titik kota, di sebuah hotel yang menjulang, ada sesuatu yang sedang disusun pelan-pelan:
Masa depan yang lebih aman untuk perempuan, anak, disabilitas, dan lansia. Di Lantai 20 Hotel Aston, Jalan Sultan Hasanuddin, Selasa 3 Februari 2026, orang-orang datang membawa peran masing-masing. Ada yang hadir dengan laptop berisi rincian program.
Ada yang membawa pengalaman lapangan. Ada yang membawa suara rakyat yang sering tak terdengar. Ada pula yang datang membawa misi sosial Yang selama ini mungkin tak ramai dibicarakan, tetapi sangat menentukan arah hidup banyak orang.
Forum itu bernama: Forum Perangkat Daerah Tahun 2026 lingkup Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar. Walikota Makassar diwakili oleh Asisten I Bidang Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat, Drs. Andi Muhammad Yasir, M.Si, yang membuka kegiatan secara resmi.
Kalimat pembukaannya terasa bukan sekadar formalitas. Ia seperti penanda bahwa urusan perempuan dan anak bukan urusan pinggiran. Melainkan urusan yang harus berdiri di pusat perhatian. Apalagi hal ini sejalan dengan visi ke-6 Walikota Makassar, yang mengusung jargon MULIA.
Bukan sekadar akronim, tetapi sebuah harapan tentang kepemimpinan dan pembangunan Makassar yang lebih baik, lebih manusiawi, lebih beradab. Dan di ruangan itu, di antara suara mikrofon, slide presentasi, dan lembar program kerja ditampilkan.
Ada satu hal yang terasa hidup: keyakinan bahwa kota yang kuat bukan hanya yang punya gedung tinggi, tetapi yang mampu melindungi yang rentan.
Duka yang Menyapa, dan Drama yang Masih Berjalan: Hari ini, kabar duka datang dari keluarga besar Lembaga Lanjut Usia Indonesia.
Telah berpulang Bapak Thomas Tupen Palan, pensiunan BBPPKS Makassar pada jabatan Widyaiswara Utama Utama. Beliau dimakamkan hari ini di pekuburan Panaikang. Saat ini jenazah beliau berada di Gereja Kare, depan Kampus Unhas. Duka selalu datang tanpa mengetuk pintu.
Ia membuat kita sadar: hidup ini bukan tentang panjangnya hari, tetapi tentang baiknya jejak.
Sementara itu, dari Luwu Utara, masyarakat kembali melakukan unjuk rasa. Penebangan pohon di pinggir jalan menjadi simbol protes terhadap keinginan menjadikan Provinsi Luwu Raya. Bagaimana akhir dari drama demonstrasi ini? Kita nantikan langkah tegas aparat setempat.
Demikian Mozaik Kehidupan hari ini. Semoga kita semua senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat, kuat dalam ikhtiar, lapang dalam hati, dan tenang dalam doa.
Karena hidup, pada akhirnya, adalah tentang bertahan; meski hujan turun, meski jalan licin, meski berita datang silih berganti… kita tetap melangkah, Sebab di ujung langkah itu, selalu ada harapan yang menunggu untuk dipeluk.