ø;
PUISI: DAENG AGAM, PENJAGA RINJANI
(Sepenggal Kisah tentang Juliana dan Jiwa Kemanusiaan)
Di ketinggian Rinjani yang berkabut,
Angin menderu, jurang menganga dalam,
Medan dahsyat menantang nyali,
Di sanalah kisah ini terpatri.
Daeng Agam, anak Makassar,
Pembela nyawa di antara batu dan akar,
Semangatnya bukan sekadar kerja,
Tapi panggilan nurani, jiwa yang rela.
Juliana, gadis Brazil, terjatuh di peluk alam,
Tulang-tulangnya retak, tubuhnya lemah,
Sementara dunia maya menuduh diam,
Daeng Agam dan tim menantang resah.
Tujuh jiwa menembus malam,
Di antara bayang kematian dan harapan,
Daeng Agam rela tidue menggantung di bukit,
Menanti mentari pagi—demi satu nyawa bangkit.
Rinjani bukan sekadar gunung,
Ia sakral, tempat Dewi Anjani bersemayam,
Di pelukannya, Agam menyatukan raga
Menjadi bagian dari roh penjaga rimba biru.
Ketika fitnah datang dari dunia siber,
Netizen Brasil justru mengirim simpati,
Mereka tahu—di medan yang liar,
Ada Daeng Agam, sosok sejati.
Bukan medali yang ia kejar,
Bukan pujian yang ia harap,
Hanya satu: kemanusiaan yang luhur,
Yang membuatnya bertahan, walau tubuh digerus kabut dan subur.
Gunung Rinjani, penjaga langit,
Saksikanlah pengorbanan tanpa pamrih,
Daeng Agam, sang pahlawan pendaki,
Telah menulis kisahnya di atas awan dan sunyi.
Makassar, 10 Muharram 1447 H
Buat Daeng Agam di Sembalu
Anak Makassar jebolan Mapala Unhas
