Pagi hari Selasa, 17 Desember 2024, Penulis menemani istri yang harus dilarikan ke UGD (Unit Gawat Darurat) karena mengalami sesak napas. Semalam, hanya tidur beralaskan matras yang dibagikan oleh petugas pada pukul 22.00 WITA dan kembali diambil pada pukul 06.00 pagi. Di Kamar 5025, kami menemani istri dalam suhu ruangan yang cukup dingin.
Beruntung, Ananda Tri sebelum pulang menurunkan suhu menjadi 24 derajat dari sebelumnya 16 derajat, yang membuat kami harus berselimut tebal.
Setelah melaksanakan salat Subuh di kamar tersebut, lalu membuka jendela yang mengarah ke sisi timur bangunan Siloam Hospital Makassar.
Di sana tampak lahan luas di bagian belakang yang belum terjamah pembangunan, kecuali pagar beton yang mengelilingi area kosong. Penulis bertanya-tanya apakah ini masih bagian dari Siloam Hospital atau milik pihak lain.
Lahan tersebut berpotensi menjadi kompleks perumahan dengan akses yang sangat dekat ke Central Point of Indonesia (CPI), yang dikenal juga sebagai Pantai Losari Baru Makassar.
Pemandangan pagi itu memperlihatkan lima ekor sapi yang sedang merumput. Penulis berpikir, mungkin sapi-sapi itu dipersiapkan untuk Iduladha mendatang.
Mereka tampak menikmati hamparan rumput hijau. Tak jauh dari situ, seekor bangau putih melayang dan hinggap di atas rawa kecil, mungkin di sana terdapat ikan-ikan yang bercengkerama di pagi yang cerah.
Sambil mengetik di ponsel Xiaomi 14T, pikiran melayang mengenang masa-masa awal pernikahan kami di perantauan di Bumi Borneo. Perjalanan rumah tangga kami penuh lika-liku, hingga kini harus mendampingi istri yang sedang menjalani proses penyembuhan stroke.
Penanganan berupa cuci darah yang awalnya dijalani dua kali seminggu kini meningkat menjadi tiga kali akibat kesalahan konsumsi makanan.
Rasa sesak yang dialami istri kemarin malam disebabkan oleh es teler yang dikonsumsi pada Senin malam, menyebabkan kondisi ini hingga harus dilarikan ke UGD Siloam Hospital.
Sambil menunggu Tri Puspita Sari untuk bergantian menjaga pasien, seraya memperhatikan istri yang perlahan mulai membaik.
Kehadiran seorang suster yang ramah pagi itu sempat mengalihkan lamunan, Ia mengganti obat di jaringan infus yang sudah terpasang permanen di tubuh istri.
Mentari pun mulai meninggi, menggantikan awan cumulus yang sebelumnya membentuk pemandangan menakjubkan. Bangunan-bangunan warga serta rumah susun yang kini dihuni oleh mereka yang dulu tergusur tampak tertata rapi.
Sebagai penjaga pasien, Penulis tidak ingin waktu terbuang hanya dengan duduk termenung di samping istri. Penulis memilih tetap aktif menulis, memanfaatkan waktu untuk mengolah bakat yang di miliki.
Dalam refleksi ini, sadar bahwa setiap perjalanan hidup memiliki jalannya masing-masing. Ada yang di akhir kariernya harus berpisah dari pasangan, ada pula yang harus menghadapi cobaan berat, seperti meringkuk di penjara.
Namun, Penulis merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk merawat istri tercinta, meski perjalanan ini telah memasuki tahun ketiga.
Sebagai seorang hamba, kita hanya bisa berserah diri kepada-Nya, menerima suratan takdir yang telah tertulis. Kita menjalani kehidupan dengan semangat, seperti ikrar di Tagana: Pantang Tugas Tidak Tuntas. Salamaki!
Siloam Hospital, Selasa, 17 Desember 2024





