SYAKHRUDDINNEWS.COM– Ahad selalu punya cara sendiri untuk mengetuk kesadaran manusia. Ia tidak datang dengan bunyi alarm pekerjaan, tidak pula hadir bersama tumpukan target dan rapat yang melelahkan. Ahad datang seperti embun di ujung daun — tenang, diam, tetapi mampu menyegarkan kembali kehidupan yang nyaris layu oleh kesibukan. Di hari inilah banyak orang akhirnya sempat mendengar suara dirinya sendiri, setelah enam hari terakhir lebih sibuk mendengar tuntutan dunia.
Pagi Ahad terasa berbeda. Jalanan yang biasanya tergesa mendadak melambat. Warung kopi mulai dipenuhi percakapan ringan. Anak-anak kembali bermain di halaman. Para orang tua duduk lebih lama di teras rumah, menikmati udara yang tidak dipaksa berlari. Bahkan langit pun seperti ikut bersabar. Matahari bersinar tanpa membakar, angin bertiup tanpa tergesa. Alam seolah sedang mengajarkan bahwa hidup tidak selalu harus berpacu dengan waktu.
Namun Ahad bukan hanya tentang libur dan rebah sejenak. Ia adalah ruang untuk menata ulang isi kepala dan isi hati. Sebab sering kali manusia terlalu sibuk mengejar kehidupan, sampai lupa menikmati hidup itu sendiri. Kita mengejar penghasilan, tetapi kehilangan ketenangan. Kita memperbanyak pertemanan, tetapi makin sulit menemukan ketulusan. Kita aktif di mana-mana, tetapi perlahan asing dengan keluarga sendiri.
Di banyak rumah, Ahad menjadi hari paling sederhana sekaligus paling berharga. Sarapan bersama terasa lebih nikmat meski hanya dengan menu seadanya. Tawa anak-anak terdengar lebih jelas. Obrolan yang selama ini tertunda akhirnya menemukan waktunya. Sebab sesungguhnya kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan, melainkan dari kebersamaan yang masih diberi kesempatan oleh Tuhan.
Mozaik kehidupan hari ini ingin mengingatkan bahwa manusia tidak dibentuk hanya untuk menjadi kuat, tetapi juga untuk mampu berhenti sejenak. Tidak semua yang lambat berarti tertinggal. Kadang justru dalam langkah yang diperlambat itulah kita mampu melihat mana yang benar-benar penting untuk dipertahankan. Sebab hidup yang terlalu cepat sering membuat manusia lupa menikmati perjalanan.
Di sudut-sudut kota, masih ada mereka yang Ahadnya tetap dipenuhi perjuangan. Petugas kebersihan tetap menyapu jalan. Pedagang kecil tetap membuka lapak demi memenuhi kebutuhan keluarga. Tenaga kesehatan tetap berjaga di ruang-ruang rumah sakit. Para relawan kemanusiaan tetap siaga ketika bencana datang tanpa mengenal hari libur. Dari mereka kita belajar bahwa pengabdian tidak pernah mengenal kalender merah.
Ahad juga mengajarkan tentang syukur yang sederhana. Tentang secangkir kopi hangat yang masih bisa dinikmati. Tentang tubuh yang masih mampu bergerak. Tentang keluarga yang masih bisa dipeluk. Tentang sahabat yang masih sempat menyapa. Kadang manusia baru menyadari arti nikmat setelah kehilangan. Padahal selama ini Tuhan menitipkan begitu banyak kebahagiaan dalam bentuk yang sederhana.
Dan ketika senja Ahad perlahan turun, kita sadar bahwa hidup ternyata bergerak begitu cepat. Besok pagi, rutinitas akan kembali mengetuk pintu. Kesibukan akan kembali mengambil ruang. Tetapi semoga Ahad hari ini sempat meninggalkan tenaga baru untuk melanjutkan perjuangan, dan meninggalkan ketenangan agar hati tidak mudah runtuh oleh keadaan.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap mampu menjaga nurani di tengah perjalanan panjang kehidupan. Sebuah pantun pembuka untuk Anda menemani membaca mozaik di pagi Ahad yang indah :
Burung camar terbang ke rawa,
hinggap sebentar di pohon jati.
Ahad datang membawa jeda,
menyentuh jiwa menenangkan hati.
Di tengah bara konflik dan pergolakan dunia, Vladimir Putin melontarkan kalimat yang mengguncang banyak orang: “Lebih baik mati digantung karena kesetiaan daripada hidup diberi penghargaan karena pengkhianatan.” Sebuah ungkapan keras yang tidak hanya mencerminkan keteguhan sikap, tetapi juga menunjukkan bagaimana loyalitas ditempatkan lebih tinggi daripada kenyamanan hidup.
Dalam dunia politik dan kekuasaan, kalimat seperti ini sering menjadi penanda bahwa kepercayaan adalah mata uang paling mahal sekali dikhianati, tak ada penghargaan yang mampu menebusnya.
Ucapan itu pun mengalir luas sebagai simbol keberanian dan keteguhan prinsip. Bagi sebagian orang, kesetiaan adalah harga diri yang tak bisa diperjualbelikan, bahkan ketika risiko terbesar menanti di ujung jalan.
Sebab sejarah berkali-kali membuktikan, mereka yang teguh memegang amanah mungkin tak selalu hidup nyaman, tetapi namanya kerap dikenang lebih lama dibanding mereka yang memilih selamat dengan mengorbankan kepercayaan.
Presiden Donald Trump, Situasi itu semakin mengejutkan karena di antara para perwira tinggi yang mengajukan pengunduran diri disebut terdapat pejabat penting setingkat Kepala Staf Gabungan. Langkah kolektif tersebut memicu perdebatan luas di Washington, dengan banyak pihak menilai bahwa ketegangan antara kepentingan politik dan prinsip profesional militer kini mencapai titik paling sensitif dalam sejarah modern Amerika.
Di tengah suasana yang memanas, berbagai kalangan menilai pengunduran diri massal itu bukan sekadar persoalan administratif, melainkan sinyal kuat adanya kegelisahan di internal militer terhadap arah kebijakan negara.
Para pengamat menyebut keputusan para jenderal itu mencerminkan upaya menjaga netralitas dan kehormatan institusi pertahanan, sementara kubu pendukung Trump menilai langkah tersebut sebagai bentuk pembangkangan terhadap otoritas sipil. Peristiwa ini pun menjadi sorotan dunia, karena stabilitas hubungan antara Gedung Putih dan militer selama ini dianggap sebagai salah satu fondasi utama demokrasi Amerika Serikat.
Pagi itu, langit Samata Gowa seperti turut memberi restu. Di halaman Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, deretan mahasiswa berdiri dengan wajah penuh semangat, menanti dimulainya Pemantapan Pelatihan Tagana Kompi FDK, Sabtu, 9 Mei 2026.
Kegiatan tersebut resmi dibuka oleh Prof. Dr. Syamsuddin AB. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pelatihan Tagana bukan sekadar kegiatan tambahan mahasiswa, melainkan bagian penting dari proses akademik, khususnya pada mata kuliah Pemetaan Daerah Bencana dan Rawan Konflik yang diasuh oleh Drs. H. Syakhruddin DN.
Bagi Prof. Syamsuddin, membangun kesadaran kemanusiaan tidak cukup hanya melalui teori di ruang kelas. Mahasiswa harus diperkenalkan langsung pada denyut lapangan, pada situasi darurat yang membutuhkan ketangguhan, kepekaan sosial, sekaligus keberanian mengambil tindakan.
Terlebih, dosen pengampu mata kuliah tersebut juga dikenal sebagai salah seorang Perintis Tagana Indonesia tahun 2004 di Lembang, Jawa Barat, sehingga pengalaman lapangan menjadi kekuatan utama dalam proses pembelajaran.
Suasana pembukaan pelatihan semakin khidmat saat dilakukan pemasangan topi pelatihan kepada tiga perwakilan peserta. Simbol sederhana itu menjadi penanda dimulainya proses menempa diri sebagai mahasiswa yang tak hanya cakap secara akademik, tetapi juga siap hadir di tengah masyarakat ketika bencana dan situasi darurat terjadi. Prosesi tersebut disaksikan para instruktur Tagana Kabupaten Gowa di bawah koordinasi Muhammad Jufri Tubarani.
Prof. Syamsuddin juga berharap seluruh peserta mengikuti kegiatan ini secara saksama. Sebab, materi kebencanaan dan penanganan darurat seperti ini menjadi salah satu ciri khas pembelajaran di Program Studi Kesejahteraan Sosial, yang menuntut mahasiswa tidak hanya berpikir, tetapi juga bergerak dan bertindak.
Di balik semangat pembukaan itu, terselip pula kabar yang menghadirkan rasa prihatin. Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial, Dr. Syamsidar, belum sempat hadir membersamai kegiatan karena kondisi kesehatan yang kurang memungkinkan. Meski demikian, semangat pelatihan tetap berlangsung hangat dan penuh antusiasme.
Salah seorang ketua tingkat peserta, Ummul, mengaku kegiatan tersebut terasa menarik karena mahasiswa tidak hanya menerima teori, melainkan langsung mempraktikkan teknik pertolongan dalam kondisi darurat. Baginya, pengalaman seperti inilah yang membuat perkuliahan terasa hidup dan memiliki makna nyata bagi masyarakat.
Langit Indonesia perlahan memasuki babak baru musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dan lebih kering dibanding rata-rata tiga dekade terakhir. Data BMKG menunjukkan, sekitar 57 persen zona musim di Indonesia berpotensi mengalami durasi kemarau lebih lama dari biasanya, sementara lebih dari 64 persen wilayah diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal. Fenomena El Nino lemah hingga moderat yang mulai aktif pada pertengahan 2026 menjadi salah satu pemicu berkurangnya hujan di banyak daerah.
Catatan kekeringan ekstrem selama 30 tahun terakhir memperlihatkan bagaimana kemarau panjang dapat meninggalkan dampak luas bagi kehidupan masyarakat. Tahun 1997–1998 dan 2015 tercatat sebagai periode paling berat, ditandai kebakaran hutan besar, krisis air bersih, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan.
BMKG memang menegaskan bahwa kemarau 2026 bukan yang paling parah sepanjang sejarah, namun tetap perlu diwaspadai karena berpotensi memperluas risiko kekeringan, gagal panen, dan kebakaran lahan di sejumlah wilayah Indonesia. Di tengah suhu yang makin panas dan curah hujan yang makin menipis, kesiapsiagaan menjadi kunci agar ancaman kemarau tidak berubah menjadi bencana berkepanjangan.
Polemik pembangunan PSEL Makassar kembali mencuat setelah muncul usulan tender ulang proyek strategis pengolahan sampah tersebut. Namun, Ketua Dewan Pengawas Danantara, Purbaya Yudhi Sadewa, justru meminta agar proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) tetap dilanjutkan dan dibangun di kawasan Tamalanrea. Menurutnya, proyek ini sangat penting untuk menjawab persoalan sampah Kota Makassar yang kian mendesak dan membutuhkan solusi jangka panjang.
Purbaya menilai, keberadaan PSEL bukan sekadar proyek infrastruktur biasa, melainkan langkah besar menuju pengelolaan lingkungan modern dan sumber energi alternatif bagi kota metropolitan seperti Makassar. Ia berharap seluruh pihak dapat mengedepankan kepentingan masyarakat dibanding tarik-menarik kepentingan politik maupun administrasi.
Dengan tetap dilanjutkannya pembangunan di Tamalanrea, pemerintah diharapkan mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan sampah sekaligus membuka peluang investasi dan teknologi ramah lingkungan di Sulawesi Selatan.
Sampai disini jumpa kita dan selamat menikmati Ahad yang indah, dengan sebuah pantun penutup :
Jalan-jalan ke tepi dermaga,
inggah sebentar membeli ketan.
Jika Mozaik sampai menyapa,
jadikan kebaikan sebagai pegangan.
Salam Presisi : Syakhruddin Tagana



