SYAKHRUDDIN. COM – Pelaksanaan Idul Fitri 1 Syawal 1445H bertepatan pada Hari Rabu, 10 April 2024, berikut ini kami memuat teks Khutbah Idul Fitri 1445H yang disampaikan oleh Prof.DR.H.Abdul Rahim Yunus, MA, berikut ini, teks lengkapnya :
JAMAAH SHALAT IIDIL FITRI RAHIMAKUMULLAH
Tiada ungkapan yang patut kita ucapkan di tengah lantunan takbir, tahmid, tahlil yang berkumandang serta kebahagiaan Hari Raya Idul Fitri 1444 H kali ini, kecuali rasa syukur kepada Allah swt, biqauli ‘Alhamdulillahirabbil ‘alamin.
Dialah yang telah menganugerahkan nikmat-nikmat kehidupan dunia yang jika coba kita hitung satu-persatu, maka niscaya tak sanggup kita menghitungnya. Semua nikmat ini harus kita syukuri agar tetap mengalir dalam setiap sisi kehidupan kita. Jangan sampai kita menyesal karena tidak bersyukur kepada Allah dan mendapatkan adzab yang pedih. Untuk itu Allah mengingakan manusia dengan firman-Nya:
Artinya: “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhan kalian memaklumatkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim ayat 7).
Oleh karena itu, dalam momentum suasana bersyukur atas nikmat Allah yang dianugrahkan kepada kita sampai saat ini, sebagai bangsa Indonesia saya mengajak kita semua agar kita memperbaharui hikmah hikmah dari melaksanakan hari Raya Idil Fitri yaitu kembali ke fitrah kemanusiaan kita, yaitu hidup rukun harmoni sesama apapun suku budaya dan agamanya. Allah menegaskannya hal itu dalam Al Qur`an :
Wakazalika jaalnakum …washatan (rukun) Manusia dapat rukun jika menjalin hubungan harmonis dengan Tuhan dan dengan sesamanya. Sebaliknya jika hidupnya tidak rukun dan harmonis akan ditimpa kehinaan.
Kita sebagai bangsa Indonesia patut bersyukur sebagai bangsa yang tetap menjaga hidup rukun, damai dan harmonis dalam keragaman suku, budaya, dan agama. Paling tidak, kita sebagai bangsa Indonesia ada empat prsinsip dan sikap hidup rukun yang dapat dirasakan dalam susana kita melaksanakan Hari Raya Idil Fitri yang yang harus kita jaga dan pelihara, sehingga kita mampu menjaga persatuan dan kesatuan untuk bergerak maju baik dari aspek pembangunan fisik jasmani maupun rohani.
Apa yang keempat itu, ialah: Pertama sikap saling menghormati, atau dalam bahasa kini adalah toleransi, kedua sikap kebangsaan sebagai bangsa Indonesia, ketiga sikap menghargai kearifan lokal, dan keempat sikap ramah dan lembut alias anti kekerasan. Keempat nilai idil fitri yang secara rutin tiap tahun kita lakukan telah menjadi sikap hidup kita dalam kehidupan bernegara sehingga alhamndulillah kita tetap menjaga hidup rukun damai dan harmonis.
Sikap saling menghormati satu dengan yang lain nampak dalam suasana perayaan Idil Fitri. Semuanya menunjukkan rasa bahagia dan gembira sama sama menghadap kepada Khaliq di lapangan atau di mesjid tanpa dibedakan kedudukan antara satu dengan yang lain. Dalam Islam nilai saling menghormati atau toleransi terhadap perbedaan bukan saja perbedaan antara sesama dalam Islam, tetapi saling menghormati perbedaan agama yang dianut.
Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah yang antara lain, di satu ketika Rasulullah sedang duduk bersama sahabat sahabat beliau lalu lewat jenazah seorang Yahudi di depan beliau dan beliau berdiri memberi hormat kepada jenazah Yahudi yang lewat di hadapannya itu.
Melihat perilaku Rasulullah ini, serentak salah seorang sahabat heran dan mengatakan kepada Rasulullah bahwa jenazah tersebut adalah orang Yahudi yang tak layak mendapat penghormatan. Rasulullah pun langsung menegur sahabat tersebut dengan kalimat, “Bukankah ia juga manusia?”. Hadis ini berbunyi:
Maksudnya: Di hadapan beliau, lewat jenazah seorang Yahudi, dan sontak beliau langsung berdiri. Sahabat berkata kepadanya, sungguh jenazah itu adalah seorang Yahudi. Lalu Rasullullah, menjawabnya, bukan Yahudi itu juga manusia.
Dalam sejarahnya, Rasulullah juga dalam salah satu kesempatan menerima tamunya penganut agama Kristen dari Najran, Yaman, dan beliau bersama sahabat-sahabatnya menerimanya di Mesjid Nabawi di Medina. Bahkan ketia waktu ibadah mereka tiba, Rasulullah mengizikannya melakukan ibadah mereka dalam mesjid beliau.
Dan di Medina pulalah Rasulullah di awal kehadirannya di kota ini, beliau membuat perjanjan hidup damai dan saling membantu dengan masyarakat Yahudi untuk menghadapi jika ada musuh yang menyerang mereka. Rasulullah membuat kesepakatan damai dengan penduduk Medina tanpa terhalangi dengan perbedaan agama dan kepercayaan.
Dalam naskah tersebut dapat dibaca antara lain berbunyi: ‘Bagi umat Islam agamanya dan bagi umat Yahudi agamanya”. Naskah damai ini masih dapat kita baca dalam buku Sirah Ibn Hisyam.
Toleransi terhadap saudara kita sesama warga bangsa dalam perbedaan harus dilakukan toleransi antar penganut agama yang berbeda dan toleransi antara kita dalam Islam yang berbeda aliran aliran, karena perbedaan itu hanyalah karena perbedaan pemahaman dari Sumber yang sama yaitu Al-Qur`an dan Sunnah.
Alhamdulillah sebagai bangsa Indonesia, toleransi senantiasa kita tetap jaga dan pelihara. Hal ini antara lain kita tunjukkan dalam mengawali puasa di Bulan Ramadan tahun ini, saling menghargai perberdaan penetapan awal Ramadan.
Hidup rukun dan harmoni kita sebagai Bangsa Indonesia ditunjukkan pula dalam sikap berbangsa dan bernegara. Kita dapat menyadari dan menerima bahwa Indonesia bukanlah negara agama dan juga bukan negara sekular yang anti pada agama. Kita hidup di tengah beragamnya suku, budaya, dan agama yang semua itu menjadi sebuah kekayaan Indonesia yang tetap kita harus jaga dan pertahankan.
Sebagai umat beragama taat kepada perjanjian yang disepakati adalah keharusan yang tak bisa ditolak. Bangsa kita telah meyepakati empat pilar dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tuggal Ika. Kita melihat dan merasakan sendiri bagaimana negara tetap menfasilitasi warganya dalam menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya masing masing.
Negara hadir memfasilitas dan mengurus semua agama. Rumah-rumah ibadah yang memenuhi syarat sesuai aturan yang berlaku harus dijaga dan dimanfaatkan oleh penganutnya masing masing. Al-Qur’an memang telah menyatakan bahwa menjaga dan memelhara rumah rumah ibada semuany adalah Perlindungan Allah.
Allah berfirman:
Dan sekiranya Allah tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain tentu telah dirobohlah biara-biara Nasrani, Gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan mesjid-mesjid yang di dalamnya banyak disebut nama Tuhan,…
Bagi kita umat Islam Indonesia, negara selalu hadir dalam proses pelaksanaan kegiatan ibadah seperti ibadah haji, penentuan awal ibadah puasa dalam Bulan Ramadan dan penentuan Hari Raya Idil Fitri dan Idul Adha, dll, demikian juga bagi umat agama lain, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, negara hadir mengurus kegiatan keagamaan mereka.
Oleh karena itulah maka Islam dalam hubungannya dengan hidup berbangsa dan bernegara mewajibkan rakyat agar mentaati Ulil Amri, yakni pemerintah. Dalam Al Qur`an ditegaskan bahwa : “Taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan Pemerintah.” (Al-Nisa` : 59).
Alhamdulillah kita baru saja menjalankan agenda hidup berbangsa kita dengan melaksanakan Pemilihan Umum, memilih Presiden dan wakil Presiden, anggota parlemen, dan semuanya berlangsung lancar, damai dan aman. Pesan-pesan yang kita baca dari Al-Qur`an dan dari Sunnah Rasulullah dan Sunnah Sahabat, menunjukkan kepada kitab bahwa hasil kesepakatan yang telah dijalankan hendaklah diikuti, dan dilaksanakan .
Dalam Al Qur`an ditegaskan: “Bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan duniawi, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad dan bersepakat maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berserah diri. (Ali Imran: 159).
Dalam sejarahnya, Rasulllah dalam suatu kesempatan pertemuan membahas satu persoalan, Beliau tidak mengikuti pendapatnya, akan tetapi mengikuti pendapat yang lebih banyak. Umar bin Khattab, sebelum meninggal dunia, untuk mempersiapkan penggantinya, beliau menunjuk 7 (tujuh) orang untuk berunding, siapa yang banyak pemilihnya itulah yang menggantikannya.
Waktu itu, Usman bin Affan mengungguli Ali bin Abi Thalib dan calon lainnya, sehingga Usman menjadi Amirul Mukminin sesudah Umar. Alhamdulillah dalam pesta demokrasi yang baru saja kita lakukan itu, merupakan bagian dari proses pelaksanaan ajaran Islam yang juga telah dipraktekkan di zaman Rasulullah dan Sahabat Sahabatnya.
ALLAHU AKBAR 3X WALILLAHIL HAMD
Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah,
Sikap ketiga yang perlu kita semai pada momentum Idul Fitri adalah menerima kearifan lokal yang sudah melekat dalam tradisi dan budaya masyarakat. Tradisi dan budaya luhur yang ada harus kita pertahankan sebagai identitas mulia bangsa Indonesia.
Pada momentum lebaran, banyak tradisi yang mampu menjadikan kita lebih moderat dalam beragama. Di antaranya adalah budaya halal bi halal yakni berkunjung dan bersilaturahmi untuk saling memaafkan pada hari raya Idul Fitri.
Halal bi halal sebagai warisan para ulama ini sangatllah luhur dan tradisi khas bangsa Indonesia. Di setiap daerah di Indonesia pun, halal bi halal dikemas dalam bentuk kegiatan dan acara berbeda-beda yang mampu menambah semarak dan kebahagiaan umat Islam, dan ikut serta pula saudara saudara kita sebagsa dari umat non muslim menyampaikan ucapan halal bi halal di setiap momen Idil Fitri. Ini harus kita pertahankan dan wariskan kepada para generasi penerus yang pada muaranya, Indonesia akan bisa senantiasa damai dan membahagiakan.
Nabi saw bersabda: “Laisal gina `an katsratil `ardh, wa lakinnal gina gina nafs”. Artinya: “Yang namanya kaya bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup (bahagia).” (HR. Bukhari dan Muslim).
JAMAAH IID YANG DI MULIAKAN ALLAH
Selanjutnya sikap yang keempat adalah anti kekerasan. Idul Fitri menjadi momentum tepat untuk menghaluskan hati dan menyingkirkan benih-benih kekerasaan yang bercokol dalam diri. Nilai-nilai kemanusiaan yang muncul dari Idul Fitri seperti kebersamaan, saling memaafkan, kebahagiaan, dan kerukunan akan mampu memunculkan kecintaan yang pada akhirnya setiap individu akan anti terhadap kekerasan. Kita tidak diperbolehkan melakukan kekerasan terlebih mengatasnamakan agama karena pada dasarnya, agama mengajarkan cinta dan kasih sayang.Hal itu ditegaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya:
Artinya: “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR Muslim).
ALLAHU AKBAR 3X WALILLAHIL HAMD
Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah,
Dalam suasana kita ber-Idil Fitri ini dari mimbar ini saya mengajak kita semua agar senantiasa menjaga mempertahankan dan menguatkan nilai luhur yang diingatkan kembali kepada kita dari Idil Fitri dalam kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, ini yakni sikap tolerans atau saling menghormati, sikap hidup berbangsa yang berdasarkan pilar-pilar kebangsaan kita, sikap hidup menghargai budaya dan kearifan lokal bangsa kita yang beraneka ragam, dan hidup ramah, lembut, menghindari sikap sikap kekerasan.
Karena sudah pasti sikap hidup inilah yang diwariskan oleh pendahulu kita membuat bangsa kita ini dapat menjaga hidup rukun dan damai dalam kebergaman kita, bergam suku, etinis, dan agama. Manisnya nilai taqwa yang yang telah kita raih setalah menjalankan ibadah puasa in dan diakhiri dengan menjalankan Idil Fitri mudah-mudahan dan sudah pasti akan menguatkan kembail dan meningkatkannya nilai nilai luhur itu dalam membangun kebahagiaan hidup antar sesama manusia yang berbeda suku, ras budaya agama dan kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan sesama manusia secara global, sebagaimana kita dapatkan di momen Idil Fitri ini.
Al-Quran S.Ali Imran : 133, meminta kita bersegra meninggalkan hal – hal yang tidak sejalan dengan nilai luhur itu, untuk menjadikan dunia kita sekarang bagaikan sorga yang membentang, dengan memiliki sikap hidup suka menolong dan membantu, menahan diri agar tidak menimbulkan amarah diri kita dan amarah sesama kita, dan kalu hal itu masih dan perna kita lakukan marilah kita saling maaf memaafkan. Dalam hal ini Allah berfirman:
“Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan menjadikan hidup ini sebagai sorga yang luasnya seluas langit dan bumi yang dipersiapkan untuk orang orang bertaqwa, yaitu” orang orang yang suka menolong dengan menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang orang begitu karena ia berbuat kebaikan.”
Mengahiri khotbah ini, marilah kita memanjatkan do`a kepada Allah SWT., :
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, bukakanlah mata hati kami akan pancaran hidayah-Mu, agar kami dapat menjalani kehidupan yang lebih baik, lebih damai, lebih rukun sesama kami pascaramadan ini. Jadikanlah seluruh ibadah kami dalam bulan suci ramadan ini sebagai amalan yang diterima, serta jadikanlah kesalahan dan kehilafan kami sebagai kesalahan dan kehilafan yang tiada terlewati tanpa ampunan-Mu.
Ya Allah, Ya Karim, Ya Wahhab, Kami sadar bahwa hidup kami di Dunia ini hanya sementara, janganlah Engkau biarkan kami terpesona dan terperdaya oleh bujuk rayu kehidupan dunia tanpa memperdulikan hidup beragama dan bebangsa kami sesuai tuntunanmu-Mu, jadikanlah ilmu dan harta yang Engkau anugrahkan kepada kepada kami sebagai jembatan kami meraih kasih sayangmu di dunia dan diakhirat.
Gerakkan hati kami untuk memberikan bantuan dan perolongan kepada saudara saudara kami yang membutuhkannya terutama, yang hidupnya masih terjepit dengan kemidkinan dan kemelaratan.
Ya Wahid, Ya Ahad, Ya Matin, bimbinglah kami agar pesatuan dan persaudaraan kami, tetap kokoh dan kuat, rukun dan harmonis; dan terhindar dari perpecahan, permusuhan, dan konflik, kuatkanlah ukhuwah basyariyah (kemanusiaan), ukhuwah wathaniyah (kebangsaan) dan ukhuwah islamiyah diantara pemimpin pemimpin kami, serta warga masyarakat bangsa kami (sdn)
