SYAKHRUDDINNEWS.COM -Renungan Malam Santiaji Tagana Sulawesi Selatan
Ketika Perintis Harus Bergeser dari Panggung
Malam ini, di Kantor Dinas Perhubungan Sulawesi Selatan, Santiaji Tagana kembali berlangsung.
Api semangat itu menyala di antara para yunior
Anak-anak muda yang mungkin tidak pernah menyaksikan bagaimana semuanya bermula.
Saya hanya dapat memandang dari kejauhan.
Foto-foto yang dikirim para yunior menjadi jendela kecil bagi saya untuk menyaksikan mereka berkumpul,
berdiri dalam barisan, belajar, berdiskusi dan menyiapkan diri menjadi insan yang kelak berada di garis depan ketika bencana datang.
Ada rasa haru yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata.
Sebagai salah seorang Perintis Tagana dari Sulawesi Selatan,
Malam ini jiwa saya sebenarnya ingin berada di tengah-tengah mereka. Ingin duduk bersama, mendengar suara mereka, menyaksikan mata yang penuh semangat, dan mungkin sekadar menepuk bahu mereka sambil berkata:
“Majulah terus, wahai para Penerus Tagana. Jangan pernah takut berada di garis depan kemanusiaan.”
Tetapi waktu mempunyai bahasa sendiri.
Kami yang dahulu berdiri gagah, kini harus belajar memahami bahwa panggung pengabdian juga mengenal pergantian pemain.
Kami yang Perintis harus bergeser dari panggung.
Bukan karena semangat telah padam.
Bukan karena cinta kepada Tagana telah berakhir.
Tetapi karena usia mengajarkan satu hal yang sangat sederhana: tongkat estafet harus berpindah tangan.
Lutut yang dahulu tegar menapaki jalan-jalan bencana,
kini terkadang harus dibalut.
Langkah yang dahulu ringan menuju lokasi pengungsian,
kini harus ditemani tongkat.
Tubuh boleh melemah, tetapi ingatan tentang pengabdian tidak pernah kehilangan tenaga.
Di situlah kami kemudian mencoba membuka lembaran baru:
LANSIGANA — Lanjut Usia Siaga Bencana Indonesia.
Jika dahulu kami berdiri bersama Tagana di garis depan,
kini kami ingin tetap menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan melalui pengalaman, doa, pengetahuan dan keteladanan.
Sebab menjadi lanjut usia bukan berarti selesai mengabdi.
Rambut boleh memutih.
Langkah boleh melambat.
Tetapi jiwa kemanusiaan tidak mengenal kata pensiun.
24 Maret 2004 di Lembang, Jawa Barat
Saya teringat kembali pada sebuah perjalanan panjang
dimulai dari Lembang, Jawa Barat, 24 Maret 2004.
Di sanalah sebuah semangat dibangun.
Di sanalah kami belajar bahwa menjadi Tagana
bukan sekadar mengenakan seragam,
bukan sekadar berdiri dalam barisan,
dan bukan pula sekadar hadir ketika bencana terjadi.
Tagana adalah tentang kesediaan datang
ketika orang lain memilih menyelamatkan diri.
Waktu kemudian berjalan.
Tahun berganti. Generasi berganti.
Wajah-wajah lama perlahan menghilang dari barisan.
Sebagian telah berpulang kepada Sang Khalik,
sebagian mulai dibatasi usia dan kekuatan fisik.
Namun yang membuat hati kami tenang
adalah melihat Tagana muda kita bangkit.
Mereka datang membawa tenaga, keberanian, pengetahuan dan teknologi.
Mereka siap memikul tanggung jawab yang dahulu kami pikul dengan segala keterbatasan zaman.
Mereka adalah penerus.
Dan kami adalah saksi.
Saksi bahwa sebuah perjuangan yang dimulai dengan langkah-langkah kecil,
ternyata dapat tumbuh menjadi sebuah gerakan kemanusiaan yang besar.
Malam ini, ketika saya melihat foto-foto Santiaji Tagana Sulawesi Selatan melalui layar, tiba-tiba terasa seperti sedang melihat kembali diri kami puluhan tahun silam.
Wajah-wajah muda itu seakan berkata:
“Jangan khawatir, senior.
Kami akan melanjutkan.”
Dan entah mengapa, kalimat yang tidak pernah benar-benar terucapkan itu membuat mata terasa panas.
Barangkali inilah kebahagiaan seorang Perintis.
Bukan lagi ketika namanya disebut.
Bukan ketika fotonya dipasang.
Bukan pula ketika ia berdiri di podium.
Tetapi ketika ia melihat orang lain mampu meneruskan jalan yang dahulu ia rintis.
Indonesia tanah airku.
Di sanalah aku berdiri.
Menjadi pandu ibuku.
Dan sepanjang perjalanan itu,
Tagana telah mengajarkan kepada kami bahwa pengabdian tidak selalu harus berada di depan.
Ada saatnya kita berdiri di tengah.
Ada saatnya kita berada di belakang.
Dan ada saatnya kita hanya mampu menyaksikan dari kejauhan.
Tetapi selama hati masih berdenyut untuk kemanusiaan,
kita tidak pernah benar-benar meninggalkan barisan.
Malam ini saya mungkin tidak berada di tengah-tengah kalian.
Tetapi doa saya berjalan bersama langkah kalian.
Majulah, wahai Tagana muda Sulawesi Selatan.
Jadilah generasi yang tidak hanya tangguh menghadapi bencana,
tetapi juga lembut ketika berhadapan dengan air mata manusia.
Jangan biarkan seragam hanya menjadi kebanggaan.
Jadikan ia amanah.
Jangan biarkan pelatihan hanya menjadi kegiatan.
Jadikan ia bekal kehidupan.
Dan jangan biarkan nama Tagana hanya menjadi sebuah identitas.
Jadikan Tagana sebagai jalan panjang pengabdian kepada sesama, kepada bangsa dan kepada tanah air.
Kami Para Perintis mungkin perlahan meninggalkan panggung.
Tetapi dari kejauhan, kami akan tetap memandang.
Dengan mata yang mungkin sudah berkaca-kaca.
Dengan lutut yang mungkin tak lagi setegap dahulu.
Namun dengan dada yang masih penuh kebanggaan.
Karena di hadapan kami telah tumbuh generasi penerus yang siap melanjutkan perjuangan.
Pantun Renungan
Pergi ke Lembang membawa harapan,
Langkah pertama penuh keberanian.
Kami beranjak meninggalkan barisan,
Namun Tagana tetap di hati dan ingatan.
Ke Makassar membawa pelita,
Cahayanya terang di malam kelam.
Usia boleh memisahkan kita,
Namun pengabdian tak pernah padam.
Selamat bersantiaji, wahai Tagana Sulawesi Selatan.
Majulah terus.
Jaga nama baik kemanusiaan.
Dan jangan pernah lupa
di belakang langkahmu hari ini,
ada jejak para perintis yang dengan air mata dan doa akan selalu menyertaimu.
Penulis Naskah ,
H. Syakhruddin.DN
Perintis Tagana dari Sulawesi Selatan