SYAKHRUDDINNEWS.COM – Senin sering dianggap sebagai hari untuk kembali menghadapi kesibukan. Setelah menikmati jeda akhir pekan, manusia kembali berhadapan dengan pekerjaan, tanggung jawab, target, bahkan persoalan yang belum selesai.
Namun, Senin bukan sekadar pergantian hari. Ia adalah kesempatan untuk memulai kembali.
Tanggal 26 Oktober 2026 jatuh pada hari Senin. Dalam kalender resmi Indonesia, tanggal tersebut bukan termasuk hari libur nasional maupun cuti bersama, sehingga dapat dimaknai sebagai hari kerja dan aktivitas biasa.
Bagi kita, Senin mengandung pesan sederhana: jangan membawa kegagalan kemarin sebagai beban untuk menghentikan langkah hari ini. Yang berlalu biarlah menjadi pengalaman, sementara hari ini adalah ruang untuk memperbaiki diri.
Senin dan pesan Al-Qur’an; Sangat indah jika semangat mengawali pekan dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam QS. Asy-Syarh/Al-Insyirah ayat 5–6:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Ayat ini mengajarkan bahwa kesulitan bukanlah akhir dari perjalanan. Di tengah kesulitan, Allah menyediakan jalan kemudahan. Karena itu, ketika Senin datang membawa pekerjaan dan persoalan, jangan buru-buru mengeluh. Hadapi dengan doa, ikhtiar, kesabaran dan keyakinan.
Bahkan ayat berikutnya, QS. Asy-Syarh ayat 7–8, memberikan dorongan untuk terus berusaha setelah menyelesaikan suatu urusan dan mengarahkan harapan kepada Allah.
Inilah spirit Senin: selesai satu urusan, lanjutkan dengan urusan berikutnya; jatuh, bangkit; gagal, belajar; lelah, beristirahat sejenak—tetapi jangan kehilangan harapan kepada Allah.
Apa yang terjadi pada 26 Oktober di masa lalu? Tanggal 26 Oktober ternyata menyimpan sejumlah catatan sejarah dunia.
Pada 26 Oktober 1863, The Football Association dibentuk di London dan menjadi salah satu tonggak penting dalam pembentukan serta pembakuan aturan sepak bola modern.
Pada 26 Oktober 1825, Erie Canal di Amerika Serikat resmi dibuka untuk pelayaran. Kanal tersebut menjadi jalur penting perdagangan dan transportasi pada masanya.
Kemudian pada 26 Oktober 1881, terjadi peristiwa baku tembak di O.K. Corral, Tombstone, Arizona—salah satu peristiwa yang kemudian menjadi bagian terkenal dari sejarah Amerika Barat.
Mungkin ada yang memulai Senin dengan dompet yang belum penuh. Ada yang memulai dengan persoalan keluarga. Ada yang sedang mengejar pekerjaan. Ada pula yang hanya ingin melewati hari dengan tenang.
Tetapi selama matahari masih terbit, harapan belum selesai.
Jangan takut menghadapi Senin. Jangan pula terlalu larut mengenang kegagalan kemarin. Bukalah pintu pagi dengan doa, kerjakan yang mampu dikerjakan, bantu orang yang membutuhkan, dan serahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.
Sebuah pantun Pembuka:
Ke pasar pagi membeli pepaya,
Singgah sebentar membeli jamu.
Senin datang membawa cahaya,
Mari melangkah dengan iman dan ilmu.
Ketegangan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kembali memasuki babak yang mengkhawatirkan. Menurut laporan yang dikutip Reuters, dua pejabat senior keamanan Iran disebut telah menyiapkan rencana untuk menargetkan kabel komunikasi bawah laut di kawasan Teluk apabila terjadi serangan baru terhadap Iran.
Kabel-kabel tersebut merupakan jalur penting bagi lalu lintas internet dan komunikasi internasional, sehingga ancaman terhadap infrastrukturnya bukan sekadar persoalan militer, tetapi dapat mengguncang konektivitas digital dan ekonomi kawasan.
Di tengah meningkatnya pengerahan militer AS di Timur Tengah dan belum tuntasnya jalur diplomasi Washington–Teheran, kabar ini menjadi peringatan bahwa perang modern tidak hanya berlangsung di darat, laut, dan udara, tetapi juga dapat merambah urat nadi dunia digital yang tersembunyi di dasar laut.
Ketika seorang pejuang sosial pulang menghadap-nya; Ada manusia yang pergi meninggalkan nama, ada pula yang pergi meninggalkan jejak. Dr. Drs. H. Hartono Laras, M.Si. termasuk di antaranya. Ahad, 25 Oktober 2026, pukul 12.31 WIB, di RS Alia Depok, sang pejuang sosial itu menutup mata untuk selamanya.
Lahir di Klaten, 6 Maret 1963, ia menapaki jalan pengabdian dari bawah sebagai petugas sosial kecamatan, hingga dipercaya menjadi Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan, kemudian Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial RI periode 2017–2021.
Baginya, jabatan bukan kemewahan, melainkan amanah untuk hadir di tengah mereka yang miskin, lemah, terlupakan, dan membutuhkan uluran tangan negara.
Menariknya, ketika jabatan birokrasi berakhir, pengabdiannya tidak ikut berhenti. Ia memilih ruang akademik, menjadi dosen di Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung, membagikan pengalaman kepada generasi penerus.
Pada 2023, ia meraih gelar Doktor Ilmu Pemerintahan dari IPDN dengan predikat sangat memuaskan, melalui kajian tentang kebijakan bantuan sosial bagi masyarakat terdampak pandemi COVID-19. Kini, semua itu telah menjadi kenangan.
Tidak ada lagi meja kerja, rapat, dokumen, ruang kuliah, atau agenda yang menunggu. Yang ikut bersama seseorang ketika pulang bukan jabatan, bukan pangkat, bukan gelar melainkan amal, ilmu, dan kebaikan yang pernah ditanamnya.
Allah SWT mengingatkan: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185). Ayat itu seakan mengetuk pintu hati kita: sehebat apa pun perjalanan manusia, pada akhirnya semua akan sampai di stasiun yang sama—ke hadapan-Nya.
Selamat jalan, Pak Hartono Laras. Kepergianmu bukan sekadar kehilangan bagi keluarga besar Kementerian Sosial, dunia akademik, dan para pekerja sosial; kepergianmu adalah cermin bagi kami yang masih diberi napas.
Bahwa hidup ternyata bukan tentang berapa lama kita memegang jabatan, tetapi seberapa banyak tangan yang pernah kita bantu, seberapa banyak ilmu yang kita wariskan, dan seberapa banyak kebaikan yang tetap hidup setelah kita tiada.
Hari ini engkau telah menyelesaikan perjalanan dunia. Kami yang masih tinggal masih memiliki kesempatan untuk menulis halaman berikutnya. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf, menerima seluruh amal kebajikan, melapangkan dan menerangi alam kuburmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Selamat beristirahat, pejuang sosial. Jabatan telah selesai. Pengabdian telah ditunaikan. Kini, engkau pulang menghadap Sang Pemilik kehidupan.
Ketika ASN Bersarung, Tradisi Menyapa Birokrasi; Sarung naik ke kantor, bukan berarti wibawa turun! Gagasan Kementerian Agama agar ASN mengenakan sarung selama sepekan menghadirkan warna baru dalam kehidupan birokrasi.
Di balik kain sederhana yang biasa dikenakan santri, jamaah masjid, dan masyarakat kampung itu, tersimpan pesan tentang kesederhanaan, kesopanan, dan akar budaya bangsa.
Kantor pemerintahan yang biasanya dipenuhi jas, batik, dan pakaian formal, sesekali mungkin perlu disapa oleh aroma tradisi. Sebab, menjadi aparatur negara bukan hanya soal seragam, tetapi juga soal sikap, integritas, dan keteladanan.
Namun, jangan sampai sarung hanya menjadi kostum seminggu, sementara budaya melayani hilang sepanjang tahun. Justru di sinilah letak tantangannya: ketika sarung melekat di pinggang, semestinya kesantunan juga melekat dalam perilaku; ketika kain dikenakan dengan sederhana, semestinya pelayanan kepada rakyat pun semakin sederhana, cepat, dan tidak berbelit-belit.
Sarung boleh sederhana, tetapi integritas jangan pernah dilipat! Karena pada akhirnya, rakyat tidak terlalu peduli apa yang dipakai seorang ASN, melainkan bagaimana ia memperlakukan mereka ketika datang membawa harapan ke meja pelayanan
Widodo AS Berpulang, Sang Panglima di Masa Reformasi; Kabar duka menyelimuti keluarga besar TNI. Laksamana TNI (Purn.) Widodo Adi Sutjipto (Widodo AS), mantan Panglima TNI, berpulang pada Sabtu malam, 24 Oktober 2026, di Jakarta, dalam usia 82 tahun.
Ia dikenang sebagai Panglima TNI pertama dari matra Angkatan Laut, yang memimpin TNI pada 1999–2002, di masa awal reformasi yang penuh gejolak dan perubahan. Setelah mengakhiri pengabdiannya di militer, Widodo AS kembali dipercaya sebagai Menko Polhukam pada 2004–2009 dan kemudian menjadi anggota Wantimpres.
Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang perwira tinggi, tetapi juga berpulangnya seorang tokoh yang pernah ikut menjaga persatuan dan keteguhan TNI di tengah masa transisi bangsa.
Jenazah almarhum dijadwalkan dimakamkan secara militer di TMP Kalibata, Jakarta Selatan. Selamat jalan Laksamana, jejak pengabdianmu menjadi catatan sejarah; semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya
Selanjutnya; JK (Yusuf Kalla) Di hadapan civitas akademika Harvard University, mengingatkan bahwa perekonomian Indonesia menghadapi tekanan dari berbagai arah—mulai dari perang dan ketegangan geopolitik dunia, bencana alam yang berulang, korupsi yang menggerus kepercayaan serta efisiensi pembangunan, hingga beban utang yang terus membutuhkan ruang fiskal.\
Pesan JK terasa seperti alarm: Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan angka-angka ekonomi, tetapi harus memperkuat tata kelola, mengendalikan pemborosan, mempercepat pemulihan pascabencana, dan menjaga stabilitas di tengah gejolak global.
Sebab, ketika perang mengguncang rantai pasok, bencana menguras anggaran, korupsi membocorkan sumber daya, dan utang menekan fiskal, yang akhirnya paling merasakan dampaknya adalah rakyat—mereka yang menunggu pekerjaan, harga kebutuhan yang terjangkau, dan masa depan ekonomi yang lebih pasti.
Disisi lain Eropa Kembali Menegang, Ribuan Tentara Dikerahkan ke Jerman;
Ketegangan antara Rusia dan negara-negara Eropa kembali memasuki babak yang mengkhawatirkan. Inggris dan Prancis dilaporkan mengerahkan ribuan personel militernya ke wilayah Jerman pada Minggu, 25 Oktober 2026, sebagai bagian dari penguatan pertahanan menghadapi meningkatnya ancaman keamanan di kawasan Eropa.
Di balik pergerakan pasukan itu tersimpan pesan yang lebih besar: Eropa sedang memperkuat pagar pertahanannya. Jerman menjadi salah satu titik strategis, sementara bayang-bayang konflik Rusia-Ukraina terus memengaruhi kalkulasi keamanan benua tersebut. Ketika pasukan bergerak dan senjata disiagakan, dunia tentu berharap ketegangan berhenti pada upaya pencegahan—sebab perang bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga merenggut manusia dan meninggalkan luka panjang bagi generasi.
Pembaca setia MoKa yang budiman, sampai di sini jumpa kita hari ini. Senin, 26 Oktober 2026, biarlah menjadi pintu pembuka untuk menata kembali langkah, menyusun harapan, dan menjemput hari-hari dengan semangat yang tak mudah patah.
Inilah hari pertama di pekan keempat Oktober—waktu yang mengingatkan kita bahwa perjalanan hidup terus bergerak, dan setiap pagi selalu memberi kesempatan untuk memperbaiki apa yang kemarin belum sempurna.
Selamat menikmati Senin yang indah. Teruslah berkarya, karena usia boleh bertambah, waktu boleh berganti, tetapi semangat untuk memberi manfaat jangan pernah berhenti. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap karya sebagai jejak kebaikan, dan setiap perjumpaan sebagai kesempatan untuk menebarkan cahaya.
Sebuah pantun penutup untuk Anda:
Berburu ke padang datar,
Mendapat rusa belang kaki.
Berguru jangan kepalang ajar,
Agar ilmu menjadi bekal diri.
Sampai jumpa di lembaran MoKa berikutnya. Tetap sehat, tetap semangat, tetap berkaryadan jangan lupa bersyukur – Salam MoKa, Syakhruddin Tagana








Banyak orang tidak menyukai hari Senin, terutama para pegawai, karyawan, employees, worker, dll. Karena adanya fenomena psikologis dan sosial yang membuat transisi dari waktu santai ke kewajiban terasa sangat berat.
Sehingga tercipta sebuah lagu dengan judul “I Don’t Like Mondays” yang dirilis oleh sebuah Band “Boomtown Rats” dan sempat menduduki peringkat No. 1 di Inggris Raya pada tahun 80 an.