SYAKHRUDDINNEWS.COM – Minggu pagi di Kawasan Car Free Day (CFD) Boulevard Makassar bukan sekadar tentang keringat yang menetes, langkah kaki yang bergerak, atau tubuh yang diajak kembali bugar.
Ada sesuatu yang jauh lebih indah dari sekadar olahraga.
Ada persahabatan yang tumbuh dari kebersamaan. Ada kepedulian yang tidak mengenal usia. Dan ada hati yang tergerak ketika mendengar seorang sahabat sedang terbaring sakit.
Usai melakukan olahraga bersama, Pengurus dan Anggota Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Sulawesi Selatan, di bawah koordinasi Hj. Hafidah Arsyad, melanjutkan langkah menuju kediaman Hj. Nuraeni Rauf, COO Catering Tonyamang, di Jalan Onta Lama Makassar.
Namun pagi itu, rumah bukanlah tempat tujuan akhir.
Sang sahabat sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Mitra Husada, Kamar 408, Jalan Merapi Makassar.
Maka rombongan pun beranjak.
Bukan membawa sesuatu yang mewah.
Bukan pula datang dengan seremoni yang panjang.
Mereka datang membawa senyum, doa, perhatian dan kenangan.
Di antara rombongan tampak Amirah Sambe, Dharvawaty Gani, Sumiaty Sattar, Nirmawati, serta rekan-rekan lainnya. Kehadiran mereka menjadi semacam oase kecil di tengah suasana rumah sakit yang sunyi.
Sebab bagi orang yang sedang sakit, terkadang yang paling dibutuhkan bukan hanya obat dari dokter.
Tetapi juga sapaan sahabat, genggaman tangan, senyum yang tulus, dan kalimat sederhana: “Sabar, kami semua mendoakanmu.”
Dari Keringat Menuju Air Mata
Ada sesuatu yang mengharukan dalam perjalanan pagi itu.
Mereka baru saja berolahraga bersama, menggerakkan tubuh agar tetap sehat di usia yang tidak lagi muda. Tetapi sesudahnya, mereka justru menggerakkan hati untuk menjenguk seorang sahabat yang sedang diuji dengan sakit.
Bukankah hidup memang demikian?
Hari ini kita berjalan bersama.
Besok mungkin kita yang harus dituntun.
Hari ini kita masih mampu mengayunkan langkah.
Esok boleh jadi langkah itu harus ditemani.
Karena itu, persahabatan di usia lanjut bukan lagi sekadar tentang siapa yang paling kuat berjalan, tetapi siapa yang masih bersedia datang ketika sahabatnya sedang terbaring.
Hj. Nuraeni Rauf sendiri dikenal sebagai sosok yang rajin berolahraga. Aktivitas fisik menjadi bagian dari kesehariannya. Namun kali ini, tubuh yang biasanya aktif bergerak harus beristirahat sejenak di ruang perawatan.
Di sanalah makna kehidupan terasa begitu dalam.
Tubuh boleh berhenti melangkah, tetapi persahabatan tidak boleh berhenti mengetuk pintu hati.
Jejak Lama yang Tak Pernah Hilang
Ada pula kenangan panjang yang menyertai pertemuan itu.
Sejak masa mudanya, Hj. Nuraeni Rauf telah aktif di Korps Sukarela PMI Kota Makassar. Dari lingkungan kemanusiaan itulah terjalin banyak persahabatan, termasuk kebersamaannya dengan Sekjen LLI Sulsel.
Waktu boleh bergulir.
Rambut boleh berubah warna.
Tenaga boleh berkurang.
Tetapi jejak pengabdian tidak pernah benar-benar menjadi tua.
Kenangan tentang masa muda, tentang kegiatan kemanusiaan, tentang membantu sesama, dan tentang persahabatan yang dibangun dalam perjalanan panjang kehidupan, semuanya seperti kembali hadir di kamar 408 pagi itu.
Mungkin itulah hadiah terindah dari sebuah persahabatan:
ketika masa lalu masih sanggup menghadirkan kehangatan di tengah ujian hari ini.
LLI: Bukan Sekadar Organisasi
Kunjungan ini kembali mengingatkan kita bahwa LLI bukan hanya tentang usia lanjut.
LLI adalah tentang martabat, kebersamaan, kepedulian dan rasa kekeluargaan.
Ketika seorang anggota sakit, yang lain datang.
Ketika seorang sahabat berduka, yang lain menguatkan.
Ketika seseorang mulai merasa sendiri, ada tangan-tangan yang datang mengetuk pintu dan berkata:
“Engkau tidak sendiri. Kami masih bersamamu.”
Dan mungkin, bagi orang yang sedang sakit, kalimat sesederhana itu memiliki kekuatan yang luar biasa.
Sebab obat menyembuhkan tubuh melalui ikhtiar medis, sementara kasih sayang menyembuhkan sebagian luka yang tidak terlihat oleh mata.
Doa dari Sahabat
Kini, kita titipkan Hj. Nuraeni Rauf dalam doa.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan, mengangkat segala rasa sakit, memudahkan proses pengobatan, serta memberikan kesembuhan yang sempurna.
Semoga kamar 408 bukan menjadi ruang kesedihan, tetapi menjadi ruang menuju kesembuhan.
Semoga esok, lusa, atau pada hari yang Allah kehendaki, Hj. Nuraeni Rauf kembali berdiri, kembali tersenyum, kembali berolahraga, dan kembali berkumpul bersama sahabat-sahabat LLI Sulsel.
Karena masih banyak pagi yang menunggu.
Masih banyak jalan yang ingin dilalui.
Masih banyak sahabat yang ingin berkumpul.
Dan masih banyak kebaikan yang ingin ditorehkan.
Cepat sembuh, Hj. Nuraeni Rauf.
Keringat yang dahulu jatuh bersama di jalan kehidupan, semoga hari ini berganti menjadi air mata doa dari para sahabat.
Dan ketika nanti kembali sehat, semoga kita dapat bertemu lagi di Boulevard, bukan di kamar rumah sakit.
Berjalan bersama.
Tertawa bersama.
Berolahraga bersama.
Sebab usia boleh bertambah, tetapi persahabatan tidak mengenal kata tua.
Ke Onta Lama membawa cerita,
Singgah sejenak menabur kasih.
Semoga lekas pulih seperti sedia kala,
Sehat kembali, ceria kembali.
Karena setiap perjumpaan meninggalkan kenangan, dan setiap persahabatan adalah bagian dari perjalanan kehidupan.
Pagi berlari di tepian Boulevard,
Langkah sehat mengusir penat.
Bila sahabat sedang terbaring lemah,
Kehadiran kita menjadi penguat.

