SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan, pagi ini kita kembali dipertemukan dalam lembar waktu yang istimewa. Selasa, 24 Maret 2026, bukan sekadar penanggalan biasa, melainkan hari penuh makna, hari lahir ke-22 Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Indonesia, tahun ini mengusung tema “22 tahun Mengabdi untuk ketangguhan negeri”
Sebuah momentum yang mengajak kita menoleh ke belakang, menelusuri jejak panjang pengabdian, sekaligus meneguhkan langkah ke depan. Bagi penulis yang turut menjadi saksi awal dan bagian dari proses “mendandani” lahirnya organisasi kemanusiaan ini, hari ini terasa begitu dekat di hati.
Dengan penuh rasa syukur dan haru, penulis mencoba merangkai kembali kisah kelahiran, denyut perjuangan, serta pernak-pernik perjalanan yang telah mewarnai kiprah TAGANA selama lebih dari dua dekade, sebuah perjalanan yang tidak hanya mencatat sejarah, tetapi juga meneguhkan makna hadir untuk sesama di saat paling genting.
Pantun Pembuka : Pergi berlayar ke Pulau Seribu, Angin sepoi menemani arah, Dua puluh dua tahun berlalu, TAGANA setia mengabdi tanpa lelah.
Setiap tanggal 24 Maret, waktu seakan berhenti sejenak bagi Keluarga Besar Taruna Siaga Bencana (Tagana) Indonesia. Ia bukan sekadar penanda usia, melainkan peneguh ingatan akan jalan panjang pengabdian.
Tahun ini, Selasa, 24 Maret 2026 yang bertepatan dengan 5 Syawal 1447 Hijriah, Tagana genap berusia 22 tahun, usia yang matang bagi sebuah gerakan kemanusiaan yang lahir dari keprihatinan, tumbuh dalam pengorbanan, dan besar melalui dedikasi tanpa henti.
Perayaan ini tidak hadir dalam kemewahan, melainkan dalam kerja-kerja nyata yang senyap namun bermakna. Di berbagai daerah, semangat itu menjelma dalam penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan, membangun kemitraan strategis lintas sektor, serta memberdayakan masyarakat agar mampu berdiri tegak menghadapi ancaman bencana.
Semua itu dilakukan di tengah keterbatasan anggaran dan dinamika ekonomi nasional yang belum sepenuhnya pulih, namun Tagana tak pernah surut, sebab pengabdian bukan perkara cukup atau tidak, melainkan panggilan jiwa.
Sebagai saksi sekaligus pelaku sejarah, penulis menapaki jejak awal Tagana saat masih mengemban amanah di Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, pada bidang yang dahulu dikenal sebagai Banjamsos, kini Perlinjamsos.
Dari ruang-ruang kebijakan hingga medan bencana, perjalanan itu tidak pernah benar-benar usai. Bahkan setelah purnabakti pada tahun 2013, pengabdian tetap berlanjut.
Membina, melatih, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada generasi muda, khususnya di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar pada jurusan kesejahteraan sosial.
Selama lebih dari satu dekade pascapurna tugas, satu semboyan terus dijaga: “Pantang Tugas Tidak Tuntas.” Sebuah kalimat sederhana, namun menjadi nyawa dalam setiap langkah.
Kini, ikhtiar itu terus berkembang melalui gagasan pembentukan LANSIGANA – Lanjut Usia Siaga Bencana sebagai ruang pengabdian baru bagi mereka yang telah menua secara usia, namun tetap muda dalam semangat.
Waktu memang tidak bisa ditahan. Para Perintis kini perlahan menepi, memberi ruang bagi generasi muda yang lebih dinamis dan inovatif. Namun nilai-nilai yang ditanamkan tetap hidup, sebagaimana pepatah bijak mengingatkan:
Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Tagana hari ini adalah estafet panjang dari pengabdian yang tidak pernah terputus.
Sejarah Tagana tak dapat dilepaskan dari sosok visioner, Drs. Andi Hanindito, M.Si. dan kawan-kawan yang mendampinginya, seperti Iyan Kusmadiana, Safei Nasution, Pak Manu, Adox Hermawan yang berkiprah di fase berikutnya.
Dari gagasan dan ketekunannya, lahirlah sebuah sistem penanggulangan bencana berbasis masyarakat yang kini menjadi pilar penting di Indonesia. Ia bukan hanya perintis, tetapi juga penjaga api semangat yang hingga kini masih menyala di dada setiap anggota Tagana.
Tagline yang sederhana namun sarat makna, “Di mana ada bencana, di situ ada Tagana,” bukan sekadar slogan. Ia adalah janji, bahkan sumpah diam yang diikrarkan oleh setiap relawan, untuk hadir lebih dulu, bertahan lebih lama, dan bekerja tanpa pamrih di tengah duka manusia.
Dalam menghadapi kompleksitas bencana alam, nonalam, maupun sosial, Tagana terus bertransformasi. Program seperti Community-Based Disaster Management (CBDM) dan Tagana Masuk Sekolah (TMS) menjadi bukti bahwa Tagana tidak hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi juga sebelum dan sesudahnya. Kini, peran itu bahkan diperluas sebagai bagian dari upaya membangun “Sekolah Rakyat,” sebuah langkah strategis dalam menciptakan masyarakat yang tangguh sejak dini.
Sejak dideklarasikan pada 24 Maret 2004 di Lembang, Jawa Barat, dari hanya 60 orang perwakilan provinsi, Tagana telah menjelma menjadi kekuatan besar yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Namun di balik capaian itu, masih tersimpan pekerjaan rumah yang belum tuntas, kesejahteraan dan jaminan kesehatan bagi para relawan yang telah mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa.
Perjalanan ini juga diwarnai kehilangan. Nama-nama seperti almarhum Drs. Purnomo Sidik, M.Si dan Bapak Sutarso, M.Sw, menjadi bagian dari mozaik sejarah yang tak tergantikan. Mereka telah pergi, namun jejak pengabdian mereka tetap hidup, mengalir sebagai amal jariyah yang tak pernah putus.
Hari ini, Tagana berdiri di persimpangan zaman, antara harapan dan tantangan. Di satu sisi, tuntutan profesionalitas semakin tinggi. Di sisi lain, perhatian terhadap kesejahteraan relawan masih perlu diperjuangkan. Kebijakan yang berubah, dinamika pemerintahan, hingga penyesuaian anggaran menjadi realitas yang harus dihadapi dengan bijak.
Namun satu hal yang tak boleh berubah: semangat pengabdian.
Sebagai bagian dari perjalanan panjang ini, Penulis hanya ingin menitipkan harapan, agar Tagana tetap menjadi rumah bagi nilai-nilai kemanusiaan, tempat di mana kepedulian tumbuh, dan pengabdian menemukan maknanya yang paling hakiki.
Kepada para Perintis Tagana yang kini memilih melangkah dengan ritme yang lebih tenang, menjaga kebugaran tubuh sembari merawat jejak-jejak pengabdian. Kenangan masa lalu tetap hidup, terpatri saat panji-panji Tagana pertama kali ditancapkan dengan penuh semangat dan pengorbanan.
Meski tak lagi berada di garis depan seperti dahulu, api pengabdian itu tak pernah padam. Mereka tetap berkarya dalam sunyi, menuangkan pengalaman menjadi tulisan-tulisan yang jernih dan sarat makna. Sayangnya, sebagian dari karya itu kerap terlewat, tak sempat terbaca ulang, seolah menjadi lembaran berharga yang tersimpan diam dalam lipatan waktu.
Dirgahayu ke-22 Tagana Indonesia. Teruslah hadir, teruslah mengabdi, sebab negeri ini selalu membutuhkanmu. “Di mana ada bencana, di situ ada Tagana.”
Pantun Penutup
Kami telah meletakkan pondasi
Membangun pilar kebanggaan Tagana
Tugas Anda meneruskan panggilan jiwa
Di setiap peristiwa bencana.
Sekali layar terkembang
Pantang biduk surut ke pantai