SYAKHRUDDINNEWS.COM – Hari Selasa bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Ia adalah ruang waktu yang kembali diberikan Allah kepada manusia untuk memperbaiki langkah, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, dan menanam kebaikan sebelum hari berganti.
Selasa berada di antara semangat awal pekan dan perjalanan menuju pertengahan minggu. Karena itu, hari ini dapat dimaknai sebagai momentum untuk menjaga konsistensi. Senin boleh menjadi awal, tetapi Selasa menguji apakah semangat itu benar-benar diwujudkan dalam tindakan. Bagi kita, setiap hari sesungguhnya adalah amanah.
Waktu yang berlalu tidak akan kembali. Karena itu, jangan biarkan Selasa berlalu tanpa meninggalkan sesuatu yang berarti: pekerjaan yang selesai, silaturahmi yang terjaga, ilmu yang dibagikan, atau kebaikan kecil yang membuat orang lain tersenyum.
Allah SWT berfirman dalam QS. Asy-Syarh/Al-Insyirah ayat 5–6:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Ayat ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Ada hari ketika pekerjaan terasa berat, persoalan datang bertubi-tubi, dan jalan keluar seakan belum terlihat. Namun Al-Qur’an mengajarkan agar manusia tidak berhenti pada kesulitan.
Menariknya, setelah ayat tentang kesulitan dan kemudahan, Allah melanjutkan pada ayat 7 dengan pesan untuk terus bersungguh-sungguh setelah menyelesaikan suatu urusan. Maka pesan Selasa 20 Oktober 2026 sederhana: jangan menyerah hanya karena hari ini belum mudah. Teruslah bekerja, berikhtiar, berdoa, dan percaya bahwa Allah menyediakan jalan kemudahan.
Catatan Sejarah; Tanggal 20 Oktober memiliki sejumlah catatan penting dalam sejarah Indonesia. Pada 20 Oktober 2014, Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk masa jabatan 2014–2019.
Lima tahun kemudian, 20 Oktober 2019, Joko Widodo kembali dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia untuk periode 2019–2024, bersama Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden.
Kemudian pada 20 Oktober 2024, sejarah kembali mencatat pergantian kepemimpinan nasional. Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia masa jabatan 2024–2029 dalam Sidang Paripurna MPR.
Tiga momentum tersebut memberi satu pelajaran penting: waktu terus bergerak, kepemimpinan berganti, tetapi tanggung jawab kepada rakyat tetap harus dijalankan.
Tanggal 20 Oktober akhirnya bukan sekadar angka. Ia menjadi bagian dari perjalanan demokrasi Indonesia dan pengingat bahwa setiap amanah memiliki awal, perjalanan, dan pertanggungjawaban.
Jika kemarin ada kegagalan, jangan menjadikannya alasan untuk berhenti. Jika hari ini ada kesulitan, jangan buru-buru menganggap semuanya berakhir. Sebab, sebagaimana pesan Al-Qur’an, bersama kesulitan ada kemudahan, sebuah pantun pembuka untuk Anda :
Pergi pagi membawa bekal,
Singgah sebentar membeli jamu.
Selasa datang membuka amal,
Mari bekerja dengan niat yang baru.
Parlemen Iran menyetujui Mehrdad Akhlaghi sebagai Menteri Pertahanan baru pada 18 Oktober 2026. Tak lama setelah dilantik, ia langsung mengirim peringatan keras kepada Amerika Serikat: jika Washington kembali menyerang Iran, Teheran siap memberikan “kerusakan yang sangat besar” kepada AS dan sekutunya di kawasan.
Akhlaghi bahkan memperingatkan Presiden Donald Trump agar memikirkan keselamatan pasukan Amerika di Timur Tengah. Pernyataan tersebut muncul ketika ketegangan Iran–AS masih sangat tinggi, termasuk isu kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir dan energi Iran.
Akhlaghi menegaskan bahwa Iran telah menyiapkan langkah menghadapi berbagai skenario serangan. Dengan tampilnya menteri pertahanan baru yang berlatar belakang industri rudal, pergantian kepemimpinan di Kementerian Pertahanan Iran bukan sekadar pergantian pejabat, tetapi menjadi sinyal bahwa Teheran memilih menunjukkan kesiapan menghadapi kemungkinan perang berikutnya.
Dua tahun pemerintahan: apa yang sudah dirasakan rakyat? dua tahun bukan waktu yang singkat. pemerintah boleh memaparkan sederet capaian, angka pertumbuhan dan pembangunan, tetapi rakyat punya ukuran yang jauh lebih sederhana: apakah hidup terasa lebih mudah, lebih aman dan lebih sehat?
Ketika asap karhutla mengotori langit sulsel dan kualitas udara membuat warga harus kembali memikirkan kesehatan, pertanyaan itu menjadi semakin tajam: apa yang sebenarnya dirasakan rakyat dari pemerintahan yang berjalan dua tahun ini?
Rakyat tidak tinggal di dalam angka statistik. mereka menghirup udara, membeli kebutuhan pokok, mencari pekerjaan, menyekolahkan anak dan berhadapan langsung dengan pelayanan negara.
Karena itu, evaluasi dua tahun pemerintahan jangan berhenti pada seremoni dan laporan keberhasilan. rakyat membutuhkan bukti yang bisa dirasakan, bukan sekadar janji yang didengar.
Sebab ukuran paling jujur dari sebuah pemerintahan bukan tepuk tangan di panggung, melainkan senyum rakyat di kehidupan nyata.
Nusron Wahid adalah sosok politikus yang perjalanan kariernya tidak pernah sepi dari sorotan. Dari aktivis muda NU hingga masuk ke panggung politik nasional, namanya berkali-kali berada di tengah isu besar.
Pada 2024, ia dipercaya memimpin Pansus Hak Angket Haji DPR RI, menunjukkan posisi politiknya yang cukup kuat di parlemen. Namun, perjalanan Nusron juga diwarnai kontroversi dan perdebatan publik. Pernyataannya dalam berbagai isu politik dan keagamaan pernah menuai pro-kontra.
Karena itu, ketika namanya kembali menjadi perhatian publik dalam kapasitas sebagai pejabat negara, masyarakat tentu menuntut lebih dari sekadar kemampuan politik: integritas, transparansi, dan keberanian mempertanggungjawabkan setiap kebijakan.
Di situlah seorang pejabat diuji, bukan ketika dipuji, tetapi ketika kekuasaannya sedang berada di bawah sorotan.
Hutan latimojong terbakar, Sulsel kembali bertanya; Hutan Latimojong terbakar, dan sulawesi selatan kembali bertanya: sampai kapan hutan kita harus menjadi korban? Api bukan hanya melahap pepohonan, tetapi juga mengikis sumber kehidupan, merusak habitat, dan meninggalkan asap yang mengganggu kualitas udara.
Di balik kobaran api, ada ekosistem yang membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk pulih. Hutan yang hari ini terbakar, sesungguhnya sedang membawa pesan keras kepada kita: alam memiliki batas kesabaran.
Kini pertanyaannya bukan sekadar siapa yang menyalakan api, tetapi juga mengapa kebakaran hutan terus berulang dan bagaimana kita mencegahnya? Latimojong bukan hanya bentang alam di pegunungan sulsel, melainkan bagian penting dari kehidupan masyarakat dan penjaga keseimbangan lingkungan.
Jangan menunggu langit menghitam dan udara sesak untuk menyadari bahwa hutan adalah napas kita bersama. Ketika hutan terbakar, sesungguhnya masa depan sedang ikut dipertaruhkan
Pembaca setia MoKa yang budiman…
Sampailah kita di penghujung kisah MoKa edisi Selasa, 20 Oktober 2026. Apa pun yang kita baca hari ini, semoga tidak berhenti sebagai berita yang lewat di mata, tetapi menjadi bahan renungan yang menetap di hati.
Selasa mengajarkan kita tentang keteguhan. Hidup tidak selalu menghadirkan jalan yang mulus, tetapi selalu memberi kesempatan kepada kita untuk memilih: mengeluh atau melangkah, menyerah atau bertahan, menjadi penonton atau ikut mengambil bagian dalam perubahan.
Maka, mari kita jalani hari ini dengan pikiran yang jernih, hati yang lapang dan langkah yang tetap tegak. Sebab dunia mungkin tidak selalu membutuhkan orang yang paling hebat, tetapi dunia selalu membutuhkan orang yang mau berbuat baik ketika kesempatan datang.
Terima kasih kepada seluruh pembaca yang tetap setia menemani perjalanan MoKa. Bahkan ketika MoKa terlambat hadir, ada saja telepon dan pesan yang menanyakan, “Mana MoKa hari ini?” Bagi Penulis, pertanyaan sederhana itu adalah tanda bahwa MoKa bukan sekadar tulisan, tetapi telah menjadi bagian kecil dari keseharian pembacanya.
Sebelum berpisah, izinkan Penulis menutup perjumpaan kita dengan sebuah pantun: Pergi ke pasar membeli pepaya,
Singgah sebentar membeli selasih.
Jalani Selasa dengan penuh percaya,
Jaga langkah, tebarkan kasih.
Sampai jumpa pada edisi MoKa berikutnya. Salam sehat, salam bahagia, dan tetaplah menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.