SYAKHRUDDINNEWS.COM – Jumat kembali menyapa kehidupan kita. Fajar menyingsing, ayam berkokok, dan langkah manusia mulai bergerak menjemput rezeki. Namun, bagi umat Islam, Jumat bukan sekadar pergantian hari dalam kalender.
Ia merupakan hari istimewa untuk memperkuat iman, mempererat silaturahmi, memperbanyak doa, serta mengevaluasi perjalanan hidup yang telah dilalui.
Hari Jumat mengajarkan bahwa manusia membutuhkan jeda untuk merenungkan makna keberadaannya. Kesibukan boleh memenuhi hari-hari kita, tetapi jangan sampai membuat hati kehilangan arah.
Harta dapat bertambah, jabatan bisa meningkat, dan nama seseorang mungkin dikenal di mana-mana. Namun, semua itu tidak akan bermakna apabila manusia melupakan kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab terhadap sesama.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Al-Jumu’ah ayat 9: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”
Ayat ini mengingatkan kita tentang pentingnya mendahulukan panggilan Allah di tengah kesibukan dunia. Ada saatnya manusia berhenti mengejar kepentingan pribadi, menundukkan kesombongan, dan kembali mengingat bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang berhasil dikumpulkan, melainkan juga tentang apa yang telah diberikan kepada orang lain.
Pesan Jumat juga relevan bagi siapa pun yang memegang amanah publik. Kekuasaan bukanlah milik pribadi yang dapat dipertahankan sesuka hati. Jabatan merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan sesuai aturan, dengan mengutamakan kepentingan masyarakat.
Ketika amanah berakhir, manusia akan dikenang bukan semata-mata karena tingginya kedudukan, tetapi juga karena jejak pengabdiannya.
Tanggal 16 Oktober menyimpan sejumlah peristiwa yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah umat manusia. Pada 16 Oktober 1793, Ratu Marie Antoinette dieksekusi di tengah pergolakan Revolusi Prancis.
Pada tanggal yang sama tahun 1923, Walt Disney bersama saudaranya, Roy O. Disney, mendirikan studio yang kelak berkembang menjadi perusahaan hiburan dunia. Sementara pada 16 Oktober 1978, Karol Wojtyła terpilih menjadi Paus Yohanes Paulus II.
Tanggal ini juga diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia, sebuah momentum untuk mengingatkan masyarakat dunia bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia.
Di tengah kemajuan teknologi dan pembangunan, masih ada keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Karena itu, kepedulian terhadap petani, ketahanan pangan, gizi anak, serta masyarakat rentan harus tetap menjadi perhatian bersama.
Perhatian masyarakat Sulawesi Selatan pada pertengahan Oktober 2026 tertuju ke Kabupaten Gowa. Sitti Husniah Talenrang resmi diberhentikan dari jabatan Bupati Gowa melalui keputusan Menteri Dalam Negeri.
Sebagai tindak lanjut putusan Mahkamah Agung yang mengabulkan permohonan terkait usulan pemberhentian oleh DPRD Gowa. Wakil Bupati Darmawangsyah Muin kemudian ditetapkan sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Gowa.
Peristiwa tersebut menghadirkan sebuah perbandingan sejarah yang menarik. Dalam catatan silsilah Kerajaan Gowa, terdapat pula Raja Gowa ke-13, I Tepu Karaeng Daeng Parabbung Tunipasulu, yang memerintah pada penghujung abad ke-16.
Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa ia dimakzulkan dan dikeluarkan dari lingkungan kerajaan. Nama Tunipasulu sendiri berkaitan dengan makna orang yang dikeluarkan atau diusir.
Di sinilah letak ironi sejarah yang patut direnungkan: pada masa yang berbeda, dalam sistem pemerintahan yang juga berbeda, muncul kisah tentang seorang pemimpin Gowa yang harus meninggalkan kedudukannya.
Namun, kita perlu menegaskan bahwa kesamaan angka ke-13 bukan bukti adanya hubungan sebab-akibat ataupun kesamaan perkara. Raja pada masa kerajaan hidup dalam tatanan politik tradisional, sedangkan pemberhentian kepala daerah sekarang berlangsung melalui mekanisme hukum dan ketatanegaraan modern.
Bagi Mozaik Kehidupan, kisah ini bukan ruang untuk menghakimi seseorang, melainkan kesempatan untuk membaca kembali makna kekuasaan.
Sejarah mengajarkan bahwa tidak ada kedudukan yang benar-benar abadi. Raja dapat kehilangan takhta, pejabat dapat mengakhiri masa jabatan, dan pemimpin yang hari ini dihormati suatu saat akan menjadi bagian dari catatan masa lalu.
Yang membedakan seorang pemimpin bukan sekadar berapa lama ia menduduki kursi kekuasaan, melainkan bagaimana ia menggunakan kewenangan, memperlakukan rakyat, menaati aturan, serta mempertanggungjawabkan amanahnya.
Al-Qur’an memberikan pedoman yang relevan dalam Surah An-Nisa ayat 58, yang memerintahkan agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan keputusan di antara manusia ditetapkan dengan adil.
Nilai tersebut berlaku bagi siapa pun yang memegang tanggung jawab, baik dalam pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, maupun kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, sejarah Gowa mengingatkan kita bahwa kekuasaan memiliki batas, sedangkan akibat dari sebuah kepemimpinan dapat dikenang jauh melampaui masa jabatannya.
Karena itu, sebelum bertanya berapa lama seseorang berkuasa, masyarakat patut bertanya: seberapa besar manfaat yang telah diberikan kepada rakyatnya?
Pantun pembuka
Pergi ke Sungguminasa membeli sukun, Singgah sebentar di tepi perigi Jabatan datang bukan untuk dirangkul bertahun-tahun, Amanah rakyat harus dijaga sepenuh hati.
Presiden Prabowo Subianto melantik sejumlah pejabat baru pada Kamis, 15 Oktober 2026, di Istana Negara, Jakarta. Nama-nama yang disebut dalam susunan pelantikan tersebut antara lain Marsekal TNI Yusuf Jauhari dan Jenderal TNI Richard Taruli Horja Tampubolon sebagai Wakil Menteri Pertahanan,
Dr. Alim Setiawan Slamet sebagai Wakil Menteri Pertanian, M. Maulana Bungaran sebagai Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, serta Letjen TNI Kristomei Sianturi sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Turut disebut Prof. Satyawan Pudyatmoko dan Mayjen TNI Sriyanto di Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional, serta Jenderal TNI Maruli Simanjuntak dan Jenderal TNI Tandyo Budi Revita dalam penataan jabatan strategis TNI.
Dari susunan tersebut, bidang pertahanan, ketahanan pangan, penanggulangan bencana, dan pelestarian lingkungan menjadi perhatian penting.
Penempatan pejabat dengan latar belakang militer pada sejumlah posisi strategis memperlihatkan bahwa pengalaman organisasi dan koordinasi menjadi salah satu aspek penugasan.
Namun, efektivitas setiap pengangkatan tetap harus dinilai berdasarkan kewenangan, program kerja, dan hasil nyata yang dicapai, bukan semata-mata latar belakang atau pangkat pejabat yang bersangkutan.
Bagi masyarakat, pelantikan bukan sekadar pergantian nama di kursi kekuasaan, melainkan awal dari tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.
Kepala BNPB, misalnya, diharapkan mampu memperkuat kesiapsiagaan dan respons bencana, sementara pejabat di bidang pertanian dituntut mendukung ketahanan pangan nasional.
Publik menantikan pemerintahan yang transparan, efektif, dan berpihak kepada kepentingan rakyat. Sebab, ukuran keberhasilan seorang pejabat bukan terletak pada seremoni pelantikan, melainkan pada manfaat kebijakan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, dalam laporan pada Kamis, 15 Oktober 2026, menyampaikan penyaluran sebanyak 403.000 liter air bersih kepada 4.936 kepala keluarga atau sekitar 13.235 jiwa yang tersebar di 12 kelurahan pada tujuh kecamatan di Kota Makassar.
Bantuan tersebut disalurkan dalam kurun waktu 8 September hingga 14 Oktober 2026, sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Di tengah kehidupan kota yang terus bergerak, air bersih menjadi kebutuhan mendasar yang tidak boleh terabaikan. Sebab, setiap tetes air bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, melainkan juga menyangkut kesehatan, kebersihan, dan keberlangsungan hidup masyarakat.
Sementara itu, Pemerintah Kota Parepare menerapkan pembelajaran daring bagi siswa TK hingga SMP pada 15–16 Oktober 2026 akibat kabut asap dan memburuknya kualitas udara.
Dua persoalan ini mengingatkan kita bahwa tantangan lingkungan dapat menyentuh berbagai sisi kehidupan, mulai dari kebutuhan air bersih hingga keselamatan anak-anak di ruang belajar.
MoKa mencatat, pembangunan tidak cukup hanya diukur dari megahnya gedung dan panjangnya jalan, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjamin kebutuhan dasar rakyatnya.
Air bersih harus tersedia, udara sehat harus dijaga, dan anak-anak berhak memperoleh pendidikan tanpa harus mengorbankan kesehatan mereka. Sebab, lingkungan yang layak adalah fondasi bagi masyarakat yang sehat dan masa depan generasi yang lebih baik.
Sampai di sini jumpa kita dalam Mozaik Kehidupan (MoKa). Esok hari, insyaallah, MoKa akan kembali menemui Anda dengan aneka informasi terkini, rangkaian peristiwa, serta kabar pilihan yang layak Anda ketahui.
Semoga setiap informasi yang tersaji bukan sekadar menambah wawasan, tetapi juga menjadi bahan renungan dalam menapaki kehidupan yang penuh warna.
Selamat menikmati hari Jumat yang penuh berkah. Selamat beribadah, selamat beraktivitas, dan tetaplah menebarkan kebaikan di mana pun kita berada.
Terima kasih atas kebersamaan Anda bersama MoKa. Sampai jumpa pada edisi berikutnya, bila tiada aral melintang. Salam hangat, salam manis dan salam MoKa!
Pantun Penutup: Anak di pangku dilepaskan,
Beruk di rimba disusukan.
Jumat berkah mari manfaatkan,
Silaturahmi terus dieratkan.