SYAKHRUDDINNEWS.COM – Puisi Lirih Untuk Purbaya Sadewa
Senin, 14 September 2026 Purbaya Sadewa… hari ini engkau pergi, bukan karena langkahmu telah usai, tetapi karena perjalananmu diputus di tengah jalan.
Masih banyak mimpi yang belum selesai, masih ada tangan-tangan kecil yang ingin kau genggam, masih ada rakyat pinggiran yang menaruh harapan pada keberanianmu.
Kau pernah berkata, barangkali bantuan untuk rakyat lebih baik sampai sebagai rupiah yang bisa mereka gunakan sendiri.
Namun suara itu rupanya tak selalu seirama dengan selera mereka yang di atas sana.
Di eramu, sejumlah konglomerat mungkin merasa terusik, sejumlah mereka yang bermain mata dengan kepentingan dan kekuasaan tak lagi bisa tidur dengan tenang.
Engkau singkirkan mereka tanpa banyak basa-basi, tanpa pandang bulu.
Tetapi kami yang hidup di pinggir jalan kekuasaan sering kali hanya mampu bertanya lirih:
Siapa sebenarnya yang terganggu? Mereka yang kehilangan kepentingan, atau mereka yang kehilangan kenyamanan?
Purbaya… kami tak tahu seluruh rahasia di balik pintu-pintu kekuasaan. Kami hanya tahu satu hal: engkau datang dengan keberanian, bekerja dengan keyakinan, lalu pergi sebelum seluruh pekerjaanmu sempat kau tuntaskan.
Maka malam ini, izinkan kami menundukkan kepala.
Bukan untuk meratapi jabatanmu, sebab jabatan hanyalah persinggahan.
Tetapi untuk mengenang keberanianmu ketika banyak orang memilih diam.
Terima kasih, Bapak Purbaya Sadewa. Masa pengabdianmu mungkin singkat, tetapi jejakmu panjang.
Engkau mungkin telah meninggalkan kursi, namun keberanianmu telah meninggalkan pertanyaan di hati rakyat:
Mengapa orang yang hendak membela rakyat kecil kadang justru harus tersingkir sebelum perjuangannya selesai?
Selamat jalan, Sang Idolaku. Bila sejarah kelak membuka kembali lembaran hari ini, semoga namamu tidak dikenang karena berapa lama engkau berkuasa,
tetapi karena berapa berani engkau melawan arus demi rakyat.