SYAKHRUDDINNEWS.COM – Senin kembali menyapa. Hari yang biasanya identik dengan kesibukan, anak-anak berangkat ke sekolah, orang tua mengejar pekerjaan, dan kendaraan memenuhi jalanan Kota Daeng.
Namun Senin kali ini terasa berbeda, Antrean BBM masih menjadi cerita utama, Sistem pengisian BBM bersubsidi berdasarkan plat nomor ganjil dan genap mulai diberlakukan sejak Minggu, 13 September 2026.
Sebagai salah satu langkah untuk mengurai antrean panjang di SPBU Sulawesi Selatan. Kebijakan ini dijadwalkan berlangsung hingga 20 September 2026.
Di sisi lain, ruang kelas pun ikut berubah. PAUD, TK, SD, hingga SMP di Kota Makassar melaksanakan pembelajaran secara daring dari 12 sampai 19 September 2026.
Bukan karena libur, tetapi karena keadaan memaksa. Kelangkaan dan antrean BBM telah memengaruhi mobilitas siswa, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua.
Maka rumah untuk sementara menjadi ruang belajar, sementara layar gawai menjadi jembatan antara guru dan murid.
Inilah wajah kehidupan: ketika BBM terbatas, bukan hanya kendaraan yang berhenti bergerak, tetapi sebagian aktivitas masyarakat ikut menyesuaikan langkah.
Semoga pembatasan ini bukan sekadar mengatur siapa yang boleh mengisi BBM, tetapi menjadi jalan keluar agar kebutuhan masyarakat kembali normal.
Jangan panik, jangan menimbun, dan jangan mengambil hak orang lain. Krisis akan lebih cepat berlalu jika semua pihak menahan diri dan saling memahami.
Mengenang 14 September dalam sejarah; Tanggal 14 September juga menyimpan catatan sejarah. Di Indonesia, tanggal ini dikenal sebagai Hari Kunjung Perpustakaan.
Sebuah momentum untuk mengingatkan bahwa membaca adalah jalan menuju pengetahuan dan kemajuan.
Dalam catatan sejarah nasional, 14 September 1908 juga dikaitkan dengan berdirinya Balai Pustaka, lembaga yang kemudian memiliki peran penting dalam perkembangan dunia literasi Indonesia.
Di panggung dunia, 14 September 1960 tercatat sebagai hari berdirinya OPEC, organisasi negara-negara pengekspor minyak.
Menarik untuk direnungkan: hari ini kita sedang berbicara tentang BBM, energi, antrean dan kebutuhan masyarakat, sementara sejarah dunia mencatat tanggal yang sama sebagai salah satu tonggak penting dalam tata kelola minyak dunia.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda; Ngantri BBM dengan plat ganjil-genap,
Antrean panjang belum juga senyap.
Sekolah belajar dari rumah sementara,
Semoga krisis segera menemukan jalan keluarnya.
Presiden Prabowo Subianto tampil dalam sesi terbuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di India. Di panggung pertemuan negara-negara kekuatan ekonomi berkembang itu.
Prabowo hadir bersama sejumlah pemimpin dunia, termasuk Presiden Tiongkok Xi Jinping, Perdana Menteri India Narendra Modi, dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Kehadiran Indonesia bukan sekadar seremoni diplomatik. Dalam pidatonya, Prabowo mendorong perlunya reformasi lembaga-lembaga internasional agar tata dunia menjadi lebih adil dan mampu merepresentasikan kepentingan negara-negara berkembang.
Ia juga menegaskan bahwa negara-negara Selatan Global memiliki kekuatan dan posisi strategis dalam membentuk arah masa depan dunia.
Dari India, suara Indonesia pun terdengar lebih lantang: dunia tidak boleh hanya ditentukan oleh segelintir kekuatan besar.
Indonesia ingin menjadi bagian dari percakapan global—bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bangsa yang ikut menentukan arah perubahan.
Sementara itu, lembar berita kembali menghadirkan beragam kisah. Ada 684 lulusan Universitas Muhammadiyah Bandung yang melangkah memasuki dunia baru dengan bekal ilmu dan harapan.
Ada pula pertemuan para pemimpin dunia, termasuk Prabowo, Putin dan Xi Jinping, yang memperlihatkan pesan tentang pentingnya menjaga bumi melalui simbol sederhana: menanam dan menyiram pohon.
Namun, di balik kabar tersebut, perhatian kita tertuju pada laut. Kapal Virgo Transport 08 sempat hilang kontak di perairan Laut Jawa dengan ratusan penumpang di dalamnya.
Dalam situasi penuh kecemasan itu, kapal MT Mauhau milik Pertamina Patra Niaga turut membantu menyelamatkan 16 korban. Sebuah tindakan yang mengingatkan kita bahwa ketika manusia berada dalam bahaya, pertolongan tidak mengenal batas.
Berita bukan sekadar deretan judul yang datang lalu berlalu. Di dalamnya ada harapan, kecemasan, keberhasilan, bahkan air mata.
Dari ruang wisuda kita belajar tentang perjuangan; dari panggung diplomasi kita belajar tentang tanggung jawab; dan dari laut yang bergelora kita belajar bahwa satu tangan yang terulur dapat menjadi jalan keselamatan bagi sesama.
Disisi lain, Jelang Subuh Mencekam di Borong Raya; Dini hari sekitar pukul 03.00 WITA, ketika sebagian besar warga Makassar terlelap menyambut datangnya waktu subuh,
Suasana di Jalan Borong Raya, Kecamatan Manggala, justru berubah mencekam.
Dua kelompok warga terlibat bentrokan dan saling serang menggunakan busur panah, batu, serta petasan.
Palang jalan turut dibakar, membuat situasi semakin panas dan mengusik ketenangan warga sekitar.
Aparat kepolisian bergerak cepat ke lokasi untuk membubarkan massa. Tembakan gas air mata dilepaskan hingga bentrokan akhirnya dapat dikendalikan menjelang subuh.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa amarah yang dibiarkan tumbuh dapat berubah menjadi ancaman bagi keselamatan banyak orang. Jalan raya semestinya menjadi ruang bersama, bukan arena pertarungan.
Subuh seharusnya menghadirkan ketenangan, bukan suara petasan, batu, dan anak panah.
Semoga persoalan di antara kelompok yang bertikai dapat diselesaikan melalui jalur hukum dan dialog, sehingga warga dapat kembali beraktivitas tanpa rasa takut.
Akhirnya, setelah melewati lembar demi lembar perjuangan, suka dan duka, tugas, ujian, serta doa yang tak pernah putus, tibalah saatnya kita merayakan sebuah pencapaian.
Wisuda bukanlah akhir perjalanan. Ia adalah tanda bahwa satu pintu telah berhasil dilewati, sekaligus awal untuk membuka pintu kehidupan yang lebih luas.
Dalam suasana penuh syukur dan kebersamaan, kami mengundang Bapak/Ibu Civitas Akademika Fakultas Dakwah dan Komunikasi untuk hadir dalam Ramah Tamah Wisuda Sarjana S1 Angkatan 121 FDK.
Training Center Kampus I Jl. Sultan Alauddin No. 63, Makassar
Senin, 14 September 2026 Pukul 19.00 WITA — Malam
Mari hadir, duduk bersama, berbagi cerita, dan mengabadikan kebersamaan. Sebab di balik toga dan gelar akademik, ada perjuangan, persahabatan, doa orang tua, serta tangan-tangan yang pernah membantu hingga langkah ini sampai di garis keberhasilan.
Kehadiran Bapak/Ibu bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi menjadi bagian dari kenangan indah yang akan dibawa para wisudawan dalam perjalanan hidup mereka,di tengah antrean BBM yang makin mengular.
Selamat kepada para wisudawan.Hari ini boleh berbangga, tetapi esok harus kembali berjuang.Karena toga akan dilepas, tetapi ilmu dan pengabdian harus tetap melekat.
Sampai disini jumpa kita hari ini dan selanjutnya mari kita menghadiri ramah tamah ini bukan sekadar pertemuan untuk melepas penat dan merayakan kebahagiaan, tetapi menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi.
Merawat kebersamaan, dan meneguhkan komitmen bahwa FDK Bermartabat bukan hanya slogan, melainkan semangat untuk melahirkan insan akademik yang berilmu, berakhlak, berintegritas, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Sebuah Pantun penutup:
Ke Sultan Alauddin membawa berita, Singgah sebentar membeli kurma. Ramah tamah mempererat kita, FDK Bermartabat, jaya selamanya.