SYAKHRUDDINNEWS.COM – Ahad kembali menyapa. Matahari perlahan membuka tirai pagi, tetapi sebagian warga Makassar mungkin masih menyimpan satu pertanyaan yang sama: di mana BBM, dan sampai kapan antrean ini berakhir?
Mohon maaf kepada pembaca setia Mozaik Kehidupan (MoKa), edisi hari ini sedikit terlambat terbit. Bukan karena lupa, apalagi kehilangan semangat untuk menulis.
Ada kalanya seorang penulis harus berhenti sejenak, mengamati keadaan, lalu mencari kata-kata yang paling tepat untuk menggambarkan kenyataan yang sedang dihadapi masyarakat.
Dan pagi ini, kenyataan itu adalah antrean BBM.
Beberapa hari terakhir, antrean kendaraan di sejumlah SPBU Kota Makassar mengular. Warga datang bukan semata-mata karena ingin membeli sebanyak-banyaknya,
melainkan karena BBM sudah menjadi kebutuhan untuk bekerja, mengantar anak, berdagang, berkuliah, mengurus keluarga, dan menjalankan roda kehidupan.
Kini pemerintah mengambil langkah baru. Mulai Ahad, 13 September hingga 20 September 2026, pengisian BBM bersubsidi diatur dengan sistem ganjil-genap berdasarkan pelat nomor kendaraan.
Kebijakan ini diharapkan dapat mengurai antrean dan membuat distribusi BBM lebih tertib.
Namun, di balik angka ganjil dan genap, ada wajah manusia yang perlu kita lihat.
Ada pengemudi ojek yang menggantungkan penghasilan hariannya pada bahan bakar. Ada pedagang kecil yang harus bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Ada keluarga yang membutuhkan kendaraan untuk keperluan mendesak. Ada pula mereka yang sudah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter BBM.
Antrean BBM akhirnya bukan sekadar cerita tentang bahan bakar. Ia telah menjadi cerita tentang waktu, kesabaran, kebutuhan, dan ketahanan masyarakat.
Semoga pengaturan ganjil-genap bukan hanya mampu memindahkan panjang antrean dari satu SPBU ke SPBU lainnya, tetapi benar-benar menjadi jalan keluar menuju pelayanan BBM yang normal, tertib, adil, dan mudah dijangkau masyarakat.
Sebab rakyat tidak membutuhkan antrean yang semakin rapi untuk sebuah kelangkaan.
Rakyat membutuhkan BBM yang tersedia.
13 September: Tanggal yang Menyimpan Banyak Cerita; Setiap tanggal dalam kalender sesungguhnya menyimpan jejak perjalanan manusia.
Pada 13 September 1993, dunia mencatat sebuah peristiwa penting ketika Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menandatangani Oslo Accords di Washington. Peristiwa itu menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya mencari jalan damai di tengah konflik Israel-Palestina.
Jauh sebelumnya, pada 13 September 1956, IBM memperkenalkan RAMAC 305, yang dikenal sebagai salah satu tonggak awal penggunaan penyimpanan data berbasis cakram untuk komputer komersial.
Pada tanggal yang sama tahun 2000, sebuah bom meledak di area parkir Bursa Efek Jakarta dan menewaskan 15 orang. Sebuah catatan kelam yang mengingatkan kita bahwa perjalanan sejarah tidak selalu dipenuhi keberhasilan, tetapi juga tragedi yang harus menjadi pelajaran.
Begitulah tanggal 13 September.
Ada harapan, ada kemajuan, tetapi juga ada luka.
Maka Ahad ini pun sepatutnya kita maknai bukan sekadar sebagai hari libur, tetapi sebagai kesempatan untuk menengok kehidupan dengan mata yang lebih jernih.
Apa yang sedang terjadi di sekitar kita? Antrean BBM mengajarkan satu hal sederhana: kebutuhan manusia tidak pernah berhenti. Ketika satu mata rantai tersendat, kehidupan masyarakat ikut merasakan dampaknya.
Karena itu, semoga hari ini membawa kabar baik. Semoga kendaraan tidak lagi mengular di jalan. Semoga SPBU kembali normal. Semoga petugas dapat melayani dengan baik.
Dan yang paling penting, semoga masyarakat tidak perlu lagi bertanya:
“Entah sampai kapan BBM ini langka?”
Sebab sebuah kota yang bergerak membutuhkan energi.
Dan energi itu bukan hanya BBM.
Energi terbesar sebuah kota adalah harapan masyarakatnya. Selamat menikmati Ahad.
Mohon maaf atas keterlambatan MoKa hari ini. Tetaplah membaca, tetaplah berpikir, dan tetaplah menulis.
Karena dari sebuah tulisan sederhana, terkadang kita bisa menitipkan suara banyak orang.
Salam Mozaik Kehidupan, sebuah pantun untuk Anda nikmati ;
Beli BBM di pagi hari,
Antrean panjang membuat penat.
Semoga kelangkaan segera pergi,
agar kehidupan kembali lancar dan masyarakat kembali semangat.
Gunung Bromo kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Kepulan asap dan abu dari kawasan kawah menjadi peringatan bahwa alam sedang memperlihatkan kekuatannya.
Demi keselamatan pengunjung dan masyarakat sekitar, aktivitas wisata di kawasan Gunung Bromo ditutup total hingga kondisi dinyatakan aman oleh pihak berwenang.
Keputusan ini tentu menjadi kabar kurang menggembirakan bagi wisatawan, tetapi keselamatan manusia harus tetap menjadi prioritas utama.
Bromo bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga kawasan gunung api aktif yang harus dihormati. Di tengah keinginan menikmati keindahan matahari terbit dan lautan pasir, kewaspadaan tidak boleh ditinggalkan.
Ketika gunung kembali membara, manusia hanya bisa menahan langkah, menjauh dari zona bahaya, dan menunggu alam kembali bersahabat. Wisata bisa ditunda, tetapi keselamatan tidak boleh dipertaruhkan.
Sementara itu, Antrean BBM yang mengular di sejumlah titik Kota Makassar ternyata bukan hanya soal kendaraan yang menunggu giliran mengisi bahan bakar.
Dampaknya mulai merambah ke berbagai sendi kehidupan masyarakat, termasuk dunia pendidikan.
Akibat kelangkaan dan panjangnya antrean BBM, kegiatan belajar mengajar bagi peserta didik PAUD hingga SMP di Kota Makassar dilaksanakan secara daring mulai 12 hingga 19 September 2026.
Ruang kelas untuk sementara menjadi sunyi, sementara rumah-rumah berubah menjadi ruang belajar dengan layar gawai sebagai jembatannya.
Kebijakan ini tentu bukan pilihan yang mudah. Di satu sisi, anak-anak tetap membutuhkan pendidikan dan pendampingan.
Di sisi lain, mobilitas guru, orang tua, dan masyarakat ikut terdampak ketika BBM sulit diperoleh. Pembelajaran daring menjadi jalan tengah agar proses pendidikan tetap berjalan, meskipun dengan segala keterbatasannya.
Namun, di balik layar telepon genggam dan komputer, ada pertanyaan yang patut direnungkan: sampai kapan masyarakat harus bersahabat dengan antrean panjang BBM?
Sebab, ketika kelangkaan bahan bakar mulai membuat anak-anak belajar dari rumah, kita sedang melihat bahwa persoalan energi bukan lagi sekadar urusan kendaraantetapi telah menyentuh kehidupan keluarga dan masa depan generasi.
Semoga kondisi ini segera teratasi. Semoga distribusi BBM kembali normal, antrean berakhir, dan anak-anak Makassar dapat kembali duduk di bangku sekolah, bertemu guru dan sahabat-sahabatnya, serta belajar dengan tenang.
Antrean Mengular, Rakyat dipaksa menunggu : Antrean BBM semakin panjang. Kendaraan mengular dari satu SPBU ke SPBU lainnya.
Waktu habis di jalan, mesin kendaraan terus menyala, sementara warga hanya bisa bertanya dalam hati: sampai kapan keadaan seperti ini?
Keresahan itu akhirnya menemukan suaranya. Sejumlah mahasiswa berdemonstrasi di depan Kantor Pertamina Sulawesi. Mereka datang bukan sekadar membawa poster dan tuntutan, tetapi membawa suara masyarakat yang sudah lelah menunggu kepastian.
Mereka mendesak Pertamina dan pemerintah menghadirkan solusi cepat atas kelangkaan BBM yang mulai mengganggu aktivitas masyarakat.
Namun persoalannya ternyata tidak berhenti pada BBM. Elpiji 3 kilogram pun ikut dikeluhkan langka. Tabung melon yang selama ini menjadi sahabat dapur keluarga kecil, pedagang kaki lima, warung makan, hingga pelaku UMKM, kini semakin sulit ditemukan di sejumlah tempat.
Di sinilah persoalan menjadi lebih serius. Ketika BBM sulit, orang sulit bergerak. Ketika elpiji sulit, dapur sulit menyala. Dua kebutuhan dasar masyarakat sama-sama tersendat. Lantas, rakyat harus mengadu kepada siapa?
Mahasiswa boleh turun ke jalan. Warga boleh menyampaikan keluhan. Media boleh terus memberitakan.
Tetapi yang paling dibutuhkan sekarang adalah tindakan nyata. Pemerintah dan Pertamina perlu memastikan distribusi berjalan, stok tersedia, serta masyarakat memperoleh informasi yang jelas dan dapat dipercaya.
Jangan biarkan antrean panjang berubah menjadi simbol ketidakberdayaan rakyat. Jangan pula biarkan tabung elpiji kosong menjadi pemandangan baru di rumah-rumah warga.
Sebab rakyat tidak sedang meminta sesuatu yang mewah. Mereka hanya ingin BBM tersedia ketika hendak bekerja, dan api kompor menyala ketika hendak memasak.
BBM mengular, elpiji menyusul. Rakyat sudah bersabar, jangan sampai kesabaran itu dipaksa menjadi keresahan.
Tanjung Bayang dan Maulidnya LLI Sulsel : Kemarin, kawasan wisata Tanjung Bayang menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Sulawesi Selatan dalam suasana penuh kekeluargaan melalui Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 2026.
Dengan tema “Dengan Cinta kepada Sang Teladan, Kita Tingkatkan Ukhuwah Islamiyah.” Hikmah Maulid disampaikan oleh Dr. Rusli Razak, sementara jalannya acara dipandu dengan hangat oleh Andi Yunita Dirham sebagai pemancu acara.
Kehadiran para anggota bukan sekadar menghadiri kegiatan keagamaan, tetapi menjadi momentum untuk bertemu, bersalaman, bercengkerama dan kembali mengikat tali silaturahmi.
Dalam sambutannya, Sekretaris LLI Sulsel, H. Syakhruddin.DN, mengingatkan bahwa kekuatan LLI bukan hanya terletak pada program dan kepengurusan, tetapi pada ukhuwah dan kebersamaan seluruh anggotanya.
Di usia yang semakin matang, perbedaan hendaknya tidak menjadi alasan untuk menjauh, tetapi menjadi ruang untuk saling memahami, menghargai dan melengkapi.
Sesama anggota harus saling menyapa, saling membantu dan saling mendoakan, sehingga LLI benar-benar menjadi rumah besar bagi para lanjut usia untuk berbagi pengalaman, kebahagiaan dan pengabdian.
Maulid di Tanjung Bayang akhirnya meninggalkan pesan sederhana namun dalam: semakin bertambah usia, jangan semakin berjarak, tetapi semakin dekat dalam persaudaraan.
Mari menjadikan kecintaan kepada Rasulullah SAW sebagai energi untuk memperbaiki akhlak, memperkuat silaturahmi dan menjaga persatuan.
Sebab, organisasi dapat berdiri karena struktur, tetapi akan tetap hidup karena hati yang saling terhubung dalam ukhuwah.
Dari Tanjung Bayang kita pulang membawa satu tekad: LLI semakin kompak, semakin peduli, dan semakin bermanfaat bagi sesama.
Sahabat MoKa, demikian mozaik kehidupan hari ini.
Setiap peristiwa selalu menyimpan pesan; tinggal bagaimana kita membaca, memaknai, lalu menjadikannya pelajaran.
Sampai jumpa pada mozaik berikutnya. Tetap sehat, tetap semangat, dan jangan pernah berhenti berbuat baik.
Ke pasar pagi membeli pepaya,
Singgah sebentar membeli jamu.Hidup akan indah penuh makna,
Bila kebaikan selalu di nomor satu.
Salam Mozaik Kehidupan — Syakhruddin.DN




