SYAKHRUDDINNEWS.COM – Jumat, 11 September 2026. Ada tanggal-tanggal yang sekadar lewat di kalender, tetapi ada pula tanggal yang meninggalkan luka panjang dalam ingatan manusia.
Tanggal 11 September 2001, dunia dikejutkan oleh serangan teroris di Amerika Serikat. Empat pesawat dibajak; dua menghantam Menara Kembar World Trade Center.
Satu menyerang Pentagon, sementara pesawat keempat jatuh di Pennsylvania setelah penumpang dan awak melakukan perlawanan. Hampir 3.000 orang kehilangan nyawa.
Dua puluh lima tahun kemudian, tragedi itu masih menjadi pelajaran bahwa sebuah hari biasa dapat berubah menjadi hari yang mengubah sejarah.
Namun, 11 September juga memiliki makna lain bagi Indonesia: Hari Radio Nasional, bertepatan dengan lahirnya Radio Republik Indonesia (RRI).
Radio mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi penting: ketika manusia berada dalam kegelisahan, informasi yang benar dapat menjadi cahaya.
Dan hari ini, kegelisahan masyarakat kita bukanlah gedung yang runtuh, melainkan kebutuhan dasar yang terasa semakin sulit dijangkau.
Di Makassar dan sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, antrean BBM memanjang, bahkan kendaraan mengular ke badan jalan.
Pertamina meminta pengawasan diperketat, sementara pemerintah daerah membentuk satuan tugas untuk merespons persoalan BBM dan LPG 3 kilogram.
LPG terasa menghilang. BBM dicari sampai harus mengantre panjang. Air bersih susah. Listrik pun sempat menjadi persoalan.
Bagi sebagian orang, semua itu mungkin hanya angka dalam laporan atau berita di layar telepon. Tetapi bagi rakyat kecil, ini adalah urusan dapur, urusan pekerjaan, urusan anak-anak, dan urusan bertahan hidup.
Ketika gas sulit ditemukan, ibu rumah tangga gelisah. Ketika BBM mengular, pekerja menghitung waktu yang terbuang. Ketika air tak mengalir, satu jeriken pun terasa seperti barang berharga.
Di sinilah makna Jumat seharusnya hadir: bukan hanya sebagai hari untuk memperbanyak doa, tetapi juga hari untuk memperbanyak kepedulian.
Pemerintah perlu memastikan kebutuhan dasar benar-benar sampai kepada masyarakat.
Pengawasan harus berjalan, distribusi harus transparan, dan jangan sampai kepanikan masyarakat justru menjadi ladang keuntungan bagi mereka yang bermain di tengah kesulitan.
Sebab rakyat tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin gas untuk memasak, BBM untuk bekerja, air untuk minum dan mandi, serta listrik untuk menerangi rumah.
Sederhana sekali permintaannya. Tetapi jika yang sederhana itu menjadi sulit diperoleh, maka yang perlu ditanya bukan hanya “mengapa masyarakat panik?”, melainkan juga “mengapa kebutuhan dasar bisa membuat rakyat sampai kehilangan ketenangan?”
Jumat ini mari kita berdoa agar kegelisahan segera berubah menjadi ketenangan. Agar antrean segera berakhir. Agar LPG kembali mudah ditemukan. Agar air kembali mengalir. Dan agar setiap kebijakan benar-benar terasa sampai ke rumah-rumah rakyat.
Karena negara yang kuat bukan hanya negara yang mampu membangun gedung tinggi dan jalan panjang, tetapi negara yang mampu memastikan rakyatnya tidak harus mengantre panjang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda nikmati ; Ke pasar membeli kelapa, Singgah sebentar membeli pepaya. Jumat datang membawa cahaya, Semoga yang sulit menemukan jalan keluarnya.
Sementara itu, Seorang oknum guru berinisial SMD dilaporkan diduga melakukan kekerasan seksual terhadap mantan siswinya yang ketika itu masih berusia 16 tahun. Dugaan perbuatan itu disebut berlangsung berulang,
dengan korban diduga dibujuk menggunakan makanan dan uang, kemudian diancam agar tetap bungkam. Yang lebih menyakitkan, pelaku dikenal sebagai sosok religius dan sering memberikan ceramah serta air doa kepada keluarga korban.
Polisi kini masih menyelidiki kasus tersebut dan menunggu hasil visum sebelum menentukan langkah hukum berikutnya.
Mozaik Kehidupan mencatat satu hal yang menggetarkan: seragam guru seharusnya menjadi lambang keteladanan, bukan selimut bagi kejahatan.
Korban disebut memendam trauma selama bertahun-tahun sebelum akhirnya berani bercerita dan mendapatkan pendampingan untuk melapor.
Di sinilah masyarakat harus membuka mata—anak didik bukan objek untuk dimanfaatkan, apalagi ketika pelaku memiliki posisi, pengaruh dan kepercayaan. Sekolah, keluarga dan lingkungan harus menjadi benteng perlindungan anak;
Sementara aparat hukum wajib mengusut tuntas dugaan ini secara adil, berpihak pada keselamatan korban, dan memastikan tidak ada ruang bagi kekerasan seksual bersembunyi di balik nama baik, jabatan, maupun simbol agama.
Siapa Herculess; Nama Hercules Rosario de Marshal bukan lahir dari panggung kekuasaan, tetapi dari perjalanan hidup yang keras.
Berasal dari Timor, ia pernah menjadi tenaga bantuan operasi dalam lingkungan TNI di Timor Timur dan kemudian mengalami cedera berat yang membuat tangan kanannya harus diamputasi serta penglihatannya terganggu.
Setelah dibawa ke Jakarta, namanya kemudian melekat kuat dengan kawasan Tanah Abang. Di sana ia dikenal sebagai salah satu tokoh preman yang disegani sejak era 1980–1990-an—sebuah masa ketika kekuasaan jalanan sering berjalan beriringan dengan uang, keberanian dan jaringan.
Namun hidup rupanya tidak berhenti di lorong-lorong Tanah Abang. Hercules kemudian meninggalkan dunia premanisme, menyatakan telah bertobat, masuk ke dunia usaha dan organisasi, hingga kini dikenal sebagai Ketua Umum GRIB Jaya dan pernah menjadi tenaga ahli Perumda Pasar Jaya.
Di sinilah kisah Hercules menjadi menarik: seorang yang dahulu ditakuti di jalanan, kini berdiri di ruang sosial dan politik.
Masa lalu tidak bisa dihapus, tetapi manusia masih mungkin mengubah arah hidupnya. Sebab, ukuran seseorang bukan hanya seberapa keras ia pernah berdiri, melainkan seberapa berani ia meninggalkan dunia lama untuk membangun kehidupan yang baru.
Ironi warga: Pagi-pagi, rakyat sudah berhadapan dengan antrean. Kendaraan berderet panjang di SPBU, sementara LPG 3 kilogram dicari dari satu tempat ke tempat lain. Pertamina menyebut stok BBM aman dan antrean antara lain dipengaruhi lonjakan permintaan serta panic buying.
Namun bagi masyarakat yang berdiri berjam-jam di bawah terik matahari, istilah itu tidak serta-merta menghapus kegelisahan. Sebab yang mereka rasakan bukan teori, melainkan kendaraan yang sulit diisi dan kebutuhan rumah tangga yang harus diperjuangkan.
Pemerintah pun tidak tinggal diam. Gubernur Sulsel telah membentuk Satgas pengawasan BBM bersubsidi, melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, Satpol PP, perhubungan, Hiswana Migas dan Pertamina.
Hari ini, Pertamina juga melakukan audiensi dengan Gubernur Sulsel untuk membahas dinamika penyaluran BBM dan LPG serta langkah mitigasinya.
Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi sangat mendasar: kapan langkah-langkah itu benar-benar terasa di tingkat rakyat?
Karena BBM bukan sekadar angka dalam laporan distribusi. Ia menggerakkan kendaraan, mengantar pekerja, membawa hasil usaha, dan menjaga roda ekonomi tetap berputar.
Lebih jauh lagi, persoalan ini menyentuh tiga urat kehidupan sekaligus: BBM menyentuh mobilitas, LPG menyentuh dapur, dan air menyentuh kehidupan.
Ketika kebutuhan dasar mulai tersendat, yang muncul bukan sekadar antrean tetapi kegelisahan.
Rakyat tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin kendaraan bisa berjalan, dapur bisa mengepul, dan hidup tidak selalu dimulai dengan pertanyaan: hari ini, apa lagi yang sulit dicari?
Sementara itu, Pelantikan Pengurus KNIPI Sinjai Periode 2026–2029 oleh Bupati Ratnawati Arif bukan sekadar seremoni mengenakan jas organisasi dan mengucapkan sumpah jabatan.
Di balik prosesi itu ada amanah yang tidak ringan: membawa suara, gagasan, dan kepentingan pemuda agar tidak berhenti di ruang rapat. KNPI harus hadir sebagai kekuatan yang mampu membaca denyut perubahan Sinjai.
Menjembatani aspirasi generasi muda, sekaligus ikut menjawab persoalan sosial yang semakin kompleks. Sebab organisasi kepemudaan yang hanya pandai berbicara, tetapi gagap bekerja, pada akhirnya hanya akan menjadi nama yang indah di atas kertas.
Di tangan pengurus baru, periode 2026–2029 seharusnya menjadi momentum membuktikan bahwa pemuda bukan sekadar penonton pembangunan.
Pelantikan oleh Bupati Ratnawati Arif adalah awal perjalanan, bukan garis akhir. Kini masyarakat menunggu karya: program yang menyentuh, kolaborasi yang nyata, dan keberanian melahirkan terobosan.
Sebab masa depan Sinjai tidak hanya diwariskan kepada generasi muda tetapi sedang dititipkan untuk mereka perjuangkan.
Si jago merah beraksi di Bontoduri : Api tak pernah memilih waktu untuk datang. Di Jalan Bontoduri, Makassar, kobaran api kembali membuat warga panik. Tiga rumah dilalap si jago merah, meninggalkan kepulan asap, kepanikan, dan harta benda yang tak sempat diselamatkan.
Dalam hitungan menit, tempat yang selama ini menjadi ruang berteduh dan berkumpul bersama keluarga berubah menjadi bara dan puing.
Api memang padam ketika air menyentuh bara. Tetapi duka tidak serta-merta padam ketika kobaran berhenti. Di balik rumah yang hangus, ada kenangan yang menjadi abu, ada pakaian yang tak sempat diselamatkan.
Ada dokumen yang lenyap, dan mungkin ada keluarga yang malam ini harus bertanya: “Besok kami tidur di mana?” Kebakaran bukan sekadar berita tentang api dan asap, tetapi tentang kehidupan manusia yang dalam hitungan menit bisa kehilangan apa yang dikumpulkannya bertahun-tahun.
Maka, setiap kebakaran seharusnya menjadi peringatan, bukan sekadar tontonan. Periksa kabel listrik, kompor, tabung LPG, colokan dan sumber api di rumah kita.
Jangan menunggu sirene Damkar terdengar, baru kita sadar bahwa keselamatan ternyata jauh lebih mahal daripada harta benda. Sebab api tidak pernah bertanya siapa yang kaya dan siapa yang sederhana—ketika lalai, semuanya bisa dilalap dalam sekejap.
Sebuah Pantun penutup untuk Anda nikmati : Ke Bontoduri membawa obor, Obor padam diterpa hujan. Rumah terbakar hati pun remuk, Semoga korban diberi ketabahan.