SYAKHRUDDINNEWS.COM – Rabu kembali mengetuk pintu kehidupan. Hari yang sering dianggap biasa, padahal tidak ada hari yang benar-benar biasa. Setiap matahari terbit membawa kesempatan baru, sementara setiap matahari tenggelam diam-diam mengurangi jatah waktu yang kita miliki.
Kita sering sibuk menghitung berapa banyak uang yang terkumpul, berapa tinggi jabatan yang diraih, berapa luas rumah yang dimiliki.
Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak menghitung, berapa banyak hati yang kita bahagiakan? Berapa banyak tangan yang pernah kita bantu? Berapa banyak air mata yang berhasil kita hapus?
Sebab pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk menjadi paling kaya, paling berkuasa atau paling dikenal. Yang akan dikenang justru bukan seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa banyak orang yang pernah kita angkat ketika mereka terjatuh.
Pembaca setia; Tanggal 9 September memiliki catatan penting dalam perjalanan bangsa. Hari ini diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional (Haornas), mengenang pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional pertama di Surakarta pada 9 September 1948.
Olahraga mengajarkan satu hal yang sering dilupakan manusia: menang itu menyenangkan, tetapi kalah bukanlah kehancuran. Yang berbahaya justru ketika seseorang berhenti berusaha hanya karena pernah gagal.
Dalam kehidupan pun demikian; Ada yang hari ini sedang berjaya, jangan buru-buru merendahkan mereka yang sedang berjuang. Ada yang sedang berada di bawah, jangan merasa dunia telah berakhir.
Roda kehidupan tidak pernah mengenal kata berhenti. Hari ini kita di atas, esok bisa saja di bawah. Hari ini kita menolong, suatu saat mungkin kitalah yang membutuhkan pertolongan.
Karena itu, jangan terlalu bangga dengan apa yang ada di tangan. Harta bisa habis, jabatan bisa berakhir, popularitas bisa lenyap, bahkan usia pun ada batasnya.
Yang tersisa hanyalah nama baik dan amal kebaikan; Maka Rabu ini, mari kita berhenti sejenak dari kesibukan mengejar dunia.
Tengok ke kanan dan kiri. Mungkin ada keluarga yang membutuhkan perhatian. Ada sahabat yang menunggu disapa. Ada tetangga yang sedang kesulitan. Atau barangkali ada seseorang yang pernah kita sakiti dan sampai hari ini masih menyimpan luka.
Jangan menunggu tua untuk belajar berbuat baik. Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan.
Jangan menunggu kehilangan untuk memahami arti kehadiran seseorang. Dan jangan menunggu ajal datang untuk bertanya: “Apa yang sudah saya lakukan selama hidup?”
Rabu adalah pertengahan perjalanan. Masih ada waktu untuk memperbaiki yang keliru, meminta maaf kepada yang terluka, membantu yang membutuhkan dan memperbanyak kebaikan.
Sebab kita tidak pernah tahu, berapa Rabu lagi yang masih disediakan Tuhan untuk kita.
Hidup bukan tentang berapa lama kita berada di dunia, tetapi tentang seberapa berarti kehadiran kita bagi sesama.
Mozaik Kehidupa (Moka) merangkai peristiwa, membaca kehidupan, dan mengajak kita bercermin sebelum waktu benar-benar meninggalkan kita.
Pantun Pembuka : Air mengalir di dalam kali, Kemarau datang tanah mengering. Sebelas ribu lebih menanti, Setetes air begitu penting.
Perang Belum Usai, Timur Tengah Kembali Membara; Setelah sempat ada jeda dan upaya gencatan senjata, ketegangan kembali meningkat. Iran masih mempertahankan kemampuan rudal dan militernya, sementara Israel terus melakukan serangan di kawasan, termasuk terhadap sasaran di Lebanon.
Yang lebih mengkhawatirkan, perang ini tidak lagi sekadar Iran berhadapan dengan Israel. Amerika Serikat ikut berada di garis depan konflik.
Dalam beberapa hari terakhir, terjadi aksi saling serang antara pasukan Amerika dan Iran di sekitar perairan Teluk, termasuk terhadap kapal tanker minyak Iran. Tehran kemudian mengancam akan membalas setiap serangan terhadap asetnya.
Selat Hormuz kini menjadi titik paling genting; Lalu lintas kapal di jalur yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia itu merosot tajam. Iran bahkan mengancam membentuk zona terbatas baru di Teluk.
Qatar memperingatkan bahwa jika krisis berlanjut, dunia dapat menghadapi “bencana industri” akibat terganggunya pasokan energi.
Harga minyak pun ikut bergetar; Minyak Brent sempat mendekati US$98 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Sementara itu, di Lebanon, serangan Israel terus berlangsung. Korban sipil kembali berjatuhan, menambah kekhawatiran bahwa perang akan semakin melebar ke berbagai negara dan kelompok bersenjata di kawasan.
Di balik dentuman rudal dan pesawat tempur, ada rakyat biasa yang kembali menjadi korban. Mereka tidak memilih perang.
Mereka hanya ingin anak-anaknya tidur dengan tenang, harga kebutuhan tidak melonjak, dan esok pagi masih bisa membuka pintu rumah tanpa takut mendengar suara ledakan.
Perang mungkin dimulai oleh para pemimpin, tetapi penderitaannya selalu sampai ke meja makan rakyat. Maka pertanyaannya bukan lagi siapa yang menang.
Tetapi… sampai kapan Timur Tengah harus membayar harga sebuah perang dengan darah, air mata dan masa depan generasinya?
Sementara itu. Antrean BBM Memanjang; Pagi belum benar-benar ramai, tetapi antrean kendaraan di SPBU sudah mengular panjang.
Motor dan mobil berjejer, menunggu sesuatu yang sederhana: BBM untuk melanjutkan kehidupan.
Situasi makin serius. TNI, Polri, dan Satpam diturunkan untuk mengatur antrean, menjaga ketertiban, sekaligus mencegah kericuhan.
Di balik barisan panjang itu, ada pedagang yang takut terlambat ke pasar, ada pekerja yang mengejar waktu, ada keluarga yang berharap kendaraan tetap bisa bergerak.
BBM bukan sekadar bahan bakar. Bagi rakyat kecil, ia adalah urat nadi penghidupan. Kalau antrean sudah mengular, pertanyaannya sederhana:
Apakah kita sedang menghadapi kelangkaan, atau hanya sedang diuji untuk bersabar?
Disisi lain, Ketika Air Menjadi Barang Mewah; Sebanyak 11.888 jiwa atau 3.607 kepala keluarga di Kota Makassar terdampak kekeringan dan menerima bantuan air bersih.
Angka itu memang terlihat seperti statistik.
Tetapi di balik angka 11.888, ada ibu yang harus menghemat air untuk memasak. Ada anak yang menunggu ember terisi. Ada keluarga yang mungkin harus memilih: air untuk minum, memasak, atau mandi?
Ketika air bersih datang dengan mobil tangki, wajah-wajah warga pun berubah. Bukan karena mereka mendapatkan sesuatu yang mewah. Tetapi karena air adalah kehidupan.
Di kota yang terus tumbuh dengan gedung, jalan, kendaraan dan pusat perbelanjaan, ternyata masih ada warga yang harus menunggu air datang dari sebuah tangki.
Ironis memang. Kita sering menganggap air sebagai sesuatu yang selalu tersedia.
Tinggal putar keran. Namun bagi ribuan warga terdampak kekeringan, satu jeriken air bisa menjadi barang yang sangat berharga.
Maka distribusi air bersih bukan sekadar bantuan. Ia adalah bentuk kepedulian pemerintah kepada warganya yang sedang menghadapi musim yang tidak bersahabat.
Dan semoga hujan segera turun; Sebab ketika langit kembali menumpahkan airnya, yang paling bahagia mungkin bukan mereka yang memiliki kolam renang.
Tetapi mereka yang selama ini menunggu air untuk sekadar memasak dan minum.
Dilaporkan dampak Gunung Bergejolak, Maskapai Tercekik; Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan kita: alam tidak pernah benar-benar bisa diajak bernegosiasi.
Ketika gunung memuntahkan abu, langit berubah menjadi ruang yang harus diwaspadai.
Pesawat pun terpaksa menepi. Penerbangan terganggu, jadwal berubah, penumpang tertahan. Dan di balik kursi-kursi pesawat yang kosong, ada angka yang tidak kecil.
Kerugian maskapai penerbangan diperkirakan menyentuh Rp19 miliar setiap hari.
Bagi penumpang, mungkin hanya berarti tiket tertunda dan perjalanan tertahan.
Tetapi bagi maskapai, itu berarti bahan bakar yang tetap harus dihitung, pesawat yang tidak produktif, awak yang tetap harus dibayar, dan jadwal penerbangan yang berantakan.
Inilah wajah lain dari bencana. Bencana tidak hanya menghancurkan rumah dan mengancam nyawa. Ia juga mampu menghentikan roda ekonomi.
Maka ketika alam sedang memberi tanda, manusia seharusnya tidak hanya sibuk menghitung kerugian.
Pembaca setia Mozaik Kehidupan (MOKA), sampai di sini dulu jumpa kita hari ini. Insyaallah, esok kita akan kembali hadir dengan aneka informasi dan cerita kehidupan, menyajikan kabar yang layak Anda ketahui dan renungi.
Namun sebelum berpisah, ada satu hal yang patut menjadi perhatian kita bersama.
Hari-hari ini, masyarakat sedang diuji dengan berbagai kesulitan. Gas LPG mulai langka, BBM harus antre berjam-jam, kebakaran terjadi di berbagai tempat, air PDAM tak mengalir.
Sementara PLN melakukan pemadaman bergilir yang tak jarang ikut berdampak pada peralatan elektronik masyarakat.
Di tengah semua itu, rakyat hanya berharap satu hal: semoga negara segera hadir, bukan sekadar melihat, tetapi benar-benar mendengar dan bertindak.
Karena ketika kebutuhan dasar mulai sulit didapat, yang dibutuhkan rakyat bukan janji yang panjang, melainkan solusi yang nyata.
Demikian MOKA hari ini. Tetaplah sabar, tetaplah peduli, dan jangan pernah kehilangan harapan.
Sebuah pantun penutup: Menunggu BBM sampai berjam-jam, Panas matahari tak lagi terasa. Ketika kebutuhan mulai sulit didapat, Rakyat berharap negara segera hadir.