SYAKHRUDDINNEWS.COM – Sabtu, 12 September 2026, hadir sebagai ruang jeda setelah masyarakat melewati hiruk-pikuk lima hari kerja. Sabtu biasanya identik dengan waktu berkumpul bersama keluarga, berolahraga, berbelanja, atau sekadar menikmati kopi di sudut kota.
Tetapi Sabtu kali ini terasa berbeda. Di sejumlah sudut Kota Makassar, kendaraan justru berbaris panjang di SPBU. Mobil, truk, hingga sepeda motor mengular, sebagian bahkan memenuhi bahu jalan.
Antrean bukan lagi sekadar urusan membeli bahan bakar, tetapi telah menjadi cerita tentang waktu yang terbuang, biaya yang bertambah, dan kesabaran masyarakat yang terus diuji.
Pertamina menyatakan stok BBM berada dalam kondisi aman dan mencukupi, bahkan distribusi telah ditambah sekitar 10–15 persen di wilayah yang membutuhkan.
Sebanyak 25 SPBU di Makassar diarahkan beroperasi 24 jam. Namun pertanyaan masyarakat tetap sederhana: kalau stok aman, mengapa antrean masih mengular?
Pemerintah dan Pertamina menyebut ada sejumlah faktor, mulai dari meningkatnya permintaan, peralihan konsumen ke BBM subsidi, panic buying, hingga dugaan transaksi berulang dan penggunaan tangki atau barcode yang tidak sesuai ketentuan.
Bahkan 6.023 nomor polisi telah diblokir karena terindikasi melakukan transaksi BBM subsidi yang tidak sesuai aturan.
Di sinilah persoalan sesungguhnya. Rakyat tidak ingin terus-menerus menjadi penonton dalam drama antrean.
Mereka hanya ingin mengisi BBM secara normal, membayar sesuai harga yang ditetapkan, lalu pulang melanjutkan aktivitas.
Sebab setiap jam yang habis di SPBU adalah waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk bekerja, mengantar anak sekolah, mencari nafkah, berdagang, atau melayani masyarakat.
Pemerintah sudah membentuk langkah pengawasan lintas sektor; kini yang ditunggu adalah hasil nyata di lapangan.
Jangan sampai antrean menjadi pemandangan biasa dan kelangkaan berubah menjadi sesuatu yang dianggap lumrah.
12 September dalam catatan sejarah; Tanggal 12 September juga menyimpan sejumlah catatan sejarah. Di Indonesia, tanggal ini mengingatkan kita pada Peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984,
Sebuah peristiwa kelam yang menimbulkan korban jiwa, luka-luka, dan kerusakan. Tanggal yang sama juga mencatat gempa besar Bengkulu pada 12 September 2007 serta sejumlah peristiwa penting dunia.
Sejarah mengajarkan satu hal: setiap tanggal bukan sekadar angka di kalender. Ada cerita, ada penderitaan, ada perjuangan, dan ada pelajaran yang seharusnya tidak kita ulangi.
Maka Sabtu 12 September 2026 pun patut kita maknai sebagai momentum untuk melihat kembali kehidupan masyarakat hari ini.
Ketika antrean BBM mengular, jangan hanya menghitung panjang barisannya. Hitung pula berapa banyak waktu rakyat yang hilang, berapa banyak pekerjaan yang tertunda, dan berapa banyak kesabaran yang terkuras.
Sabtu seharusnya menjadi hari istirahat, bukan hari untuk menguji kesabaran rakyat.BBM jangan sekadar tersedia di atas kertas; ia harus benar-benar hadir di tangki kendaraan masyarakat.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda nikmati; Antrean adalah waktu yang hilang.
Antrean adalah tenaga yang terkuras.
Antrean adalah ongkos yang bertambah.
Dan bagi sebagian orang kecil, antrean berarti kehilangan
Sementara itu, Pemandangan itu terasa semakin getir ketika antrean kendaraan sampai mengular di depan Mapolda Sulsel, Jumat pagi, 11 September 2026. Fenomena serupa terjadi di sejumlah SPBU di Makassar.
Pertamina menyatakan stok BBM dalam kondisi aman dan mencukupi, sementara antrean antara lain dikaitkan dengan meningkatnya permintaan dan kepanikan masyarakat.
Tetapi di sinilah pertanyaan MoKa mulai menggigit: kalau stok aman, mengapa antrean tetap panjang?
Kalau pasokan mencukupi, mengapa masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam di SPBU? Dan kalau persoalannya hanya panic buying, mengapa kegelisahan itu begitu mudah tumbuh di tengah masyarakat?
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah membentuk Satgas BBM untuk mengawasi distribusi. Tim juga menemukan dugaan sejumlah pelanggaran dalam proses penyaluran BBM di Sulsel, khususnya Makassar.
Pertamina meminta pengawasan lintas sektor diperkuat agar antrean BBM dan persoalan LPG bersubsidi dapat segera diurai.
Yang membuat persoalan semakin lengkap adalah gas LPG 3 kilogram yang juga sulit ditemukan masyarakat.
Pertamina bahkan telah menambah pasokan LPG 3 kilogram di Sulsel, sementara masyarakat tetap berharap gas melon kembali mudah diperoleh dengan harga dan jalur distribusi yang wajar.
Sahabat, rakyat sebenarnya tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin BBM tersedia ketika dibutuhkan, LPG tersedia ketika hendak memasak, air mengalir ketika keran dibuka, dan pelayanan publik hadir tanpa membuat mereka harus berjuang terlalu lama.
Karena itu, persoalan BBM dan LPG jangan berhenti pada siapa yang salah dan siapa yang benar.
Yang lebih penting adalah bagaimana distribusi dibenahi, pengawasan diperketat, penyalahgunaan ditindak, dan masyarakat memperoleh kepastian.
Jangan biarkan rakyat terus berdiri dalam antrean sambil bertanya dalam hati:
“Besok masih begini lagi?”
MoKa tidak hendak menambah kepanikan. Justru sebaliknya, MoKa ingin mengajak semua pihak menjaga ketenangan sekaligus memastikan persoalan ini diselesaikan secara terbuka dan sungguh-sungguh.
Disisi lain; Kegiatan Sang Cucu; Sabtu, 12 September 2026, Pantai Akkarena Jalan Tanjung Bunga Makassar menjadi ruang sederhana untuk menghadirkan kebahagiaan keluarga.
Di tempat inilah, cucu tercinta bersama teman-temannya dari KB-TKIT DAFI School mengikuti Family Gathering dengan tema “Indahnya Bersama Keluarga dalam Harmoni dan Kebahagiaan.”
Sejak pagi, wajah-wajah ceria anak-anak memenuhi suasana. Ada tawa, ada semangat, ada pula kebanggaan ketika Ayah dan Bunda hadir memberi dukungan.
Bagi seorang kakek, melihat cucu tumbuh, bermain, belajar dan berani tampil di tengah teman-temannya adalah kebahagiaan yang tidak selalu bisa diukur dengan kata-kata.
Kegiatan diisi dengan berbagai permainan, outbound, serta lomba yel-yel kelas yang menuntut kekompakan dan kreativitas anak-anak.
Yang menarik, panggung yel-yel sepenuhnya menjadi milik ananda, sementara Ayah dan Bunda berdiri di belakang memberikan tepuk tangan dan semangat.
Di sinilah makna pendidikan terasa: anak-anak belajar tampil percaya diri, bekerja sama, menghargai teman, sekaligus mengenal arti sportivitas.
Kostum boleh berbeda, yel-yel boleh beragam, dan setiap kelas boleh berharap menjadi yang terbaik, tetapi sesungguhnya tidak ada yang kalah dalam sebuah pertemuan yang menghadirkan tawa dan kebersamaan.
Sebab, Family Gathering bukan semata-mata tentang perlombaan dan hadiah. Ia adalah kesempatan untuk menanamkan kenangan indah dalam ingatan anak-anak bahwa pernah ada satu pagi.
Ketika keluarga berkumpul di tepi pantai, menyaksikan mereka berlari, bersorak dan tertawa tanpa beban.
Bagi cucu, mungkin hari ini hanyalah sebuah kegiatan sekolah. Tetapi bagi orang tua dan kakek-nenek, momen seperti ini kelak menjadi bagian dari album kehidupan yang tak ternilai.
Anak-anak akan tumbuh, waktu akan berlalu, tetapi kenangan tentang kebersamaan keluarga akan tetap tinggal di hati. Itulah hadiah sesungguhnya dari sebuah Family Gathering.
Kapal Maulid, Merajut Silaturahmi di Pengujung Bulan Maulid
Memanfaatkan hari terakhir bulan Maulid tahun 2026, Keluarga Besar Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Sulawesi Selatan bersama Komunitas Senam Nusantara (KSN) akan menggelar kegiatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di kawasan wisata Pantai Tanjung Bayang,
tepatnya di rumah kediaman Hj. Andi Yunita Dirham. Kegiatan ini bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi.
Menikmati suasana rekreasi, sekaligus merawat kebersamaan antara para anggota LLI dan generasi muda KSN yang selama ini rutin beraktivitas bersama setiap Ahad di kawasan Boulevard Makassar.
Menurut Koordinator Kegiatan, Hj. Andi Yunita Dirham, sengaja kegiatan tersebut digagas pada penghujung bulan Maulid.
Ada pesan sederhana di baliknya: bahwa momentum keagamaan tidak harus selalu berlangsung di ruang-ruang formal.
Di tepi pantai pun kecintaan kepada Rasulullah dapat dirawat, selama hati dipenuhi keikhlasan.
Menariknya, pembiayaan kegiatan sepenuhnya berasal dari swadaya anggota. Bahkan, sebuah perahu milik H. Dirham akan didesain menjadi “Kapal Maulid”, terinspirasi dari tradisi masyarakat Cikoang, Kabupaten Takalar.
Perahu bukan sekadar alat transportasi, tetapi menjadi simbol perjalanan cinta, kebersamaan, dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Sementara itu, Ketua III Bidang Pengembangan Organisasi LLI Sulsel, Hj. Hasnah Sambaloge, menyampaikan bahwa kebersamaan LLI dan KSN akan terus dilanjutkan.
Pada Oktober mendatang, direncanakan kegiatan bersama digelar di kawasan Bili-Bili, sekaligus dirangkaikan dengan perayaan ulang tahun sejumlah anggota LLI dan KSN.
Persiapan teknis telah dikoordinasikan bersama Siswantoro alias Pak Wawan selaku penanggung jawab teknis.
Bagi Hasnah, rangkaian kegiatan tersebut sekaligus menjadi pembuktian bahwa roda organisasi harus berjalan secara kolektif dan tidak bertumpu pada satu figur.
“Di LLI Sulsel, kepemimpinan bersifat kolektif kolegial,” tegasnya. Sebab organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang bergantung pada satu orang,.
Melainkan organisasi yang mampu menghadirkan banyak tangan untuk bekerja, banyak hati untuk mengabdi, dan banyak langkah untuk terus bergerak.
Di penghujung Maulid, laut menjadi saksi: bahwa usia boleh bertambah, tetapi semangat kebersamaan tidak boleh menua.
Sebuah pantun penutup untuk Anda Ke Tanjung Bayang menikmati senja, Perahu berlayar membawa bahagia. Maulid Nabi menjadi cahaya, Silaturahmi terjaga, hati pun ceria.
Sampai di sini jumpa kita, sahabat pembaca Mozaik Kehidupan. Selamat bermalam minggu, nikmati kebersamaan dengan keluarga, sahabat, dan orang-orang yang kita cintai.
Sebab bahagia tidak selalu harus mahal; terkadang ia hadir sederhana, lewat secangkir kopi, percakapan ringan, tawa yang lepas, atau sekadar duduk bersama tanpa banyak kata.
Pergi ke pantai membawa bekal, Angin berhembus terasa nyaman. Sabtu malam janganlah lalai, Jaga hati, jaga perasaan.
Semoga malam ini menjadi jeda untuk mensyukuri perjalanan hidup yang telah kita lalui. Yang sedang sendiri, semoga menemukan ketenangan; yang sedang bersama keluarga, semoga semakin erat kasih sayangnya; dan yang sedang menghadapi persoalan.
Semoga Allah bukakan jalan keluar. Sampai jumpa di Mozaik Kehidupan berikutnya, teruslah menulis, teruslah berbagi, karena setiap jejak kehidupan selalu menyimpan cerita yang layak dikenang.