SYAKRUDDINNEWS.COM – Hari Selasa adalah hari kedua dalam perjalanan pekan. Ia datang setelah Senin membuka lembaran kesibukan, dan menjadi ruang untuk melanjutkan apa yang telah dimulai.
Selasa mengajarkan kita tentang ketekunan. Sebab, tidak semua pekerjaan selesai dalam satu hari. Ada cita-cita yang membutuhkan waktu, ada perjuangan yang memerlukan kesabaran, dan ada harapan yang harus terus dirawat meski hasilnya belum terlihat.
Karena itu, jangan biarkan Selasa berlalu hanya sebagai pergantian nama hari. Jadikan ia kesempatan untuk memperbaiki langkah, menambah ilmu, mempererat silaturahmi dan melakukan kebaikan, sekecil apa pun bentuknya.
Menariknya, 8 September diperingati sebagai Hari Aksara Internasional. UNESCO menetapkannya pada tahun 1966 untuk mengingatkan dunia tentang pentingnya kemampuan membaca dan menulis bagi kehidupan manusia.
Hari Aksara mengingatkan kita bahwa membaca bukan sekadar mengenal huruf, dan menulis bukan sekadar merangkai kata. Literasi adalah pintu menuju pengetahuan, kesempatan, kemandirian dan kehidupan yang lebih baik.
Maka, di tengah derasnya arus informasi dan teknologi hari ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar menjadi manusia yang melek informasi?
“Sebab orang yang pandai membaca belum tentu mampu memahami kehidupan. Dan orang yang pandai menulis belum tentu mampu menuliskan kebaikan”
Selasa pagi, mari kita membaca dunia dengan hati, menulis sejarah dengan perbuatan, dan meninggalkan jejak yang kelak dapat dikenang sebagai sebuah kebaikan.
Karena hidup ini pada akhirnya bukan tentang berapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan.
Pantun pembuka: Pergi ke kampus boncengan dua,
Singgah sebentar membeli jamu.
Selasa hadir membawa ceria,
Semoga kebaikan menyertai langkahmu.
Jangan Main Judol, Kalau Tak Mau Kehilangan Kursi ; Judi online kini bukan lagi sekadar urusan kalah dan menang.
Kalau yang dipertaruhkan seorang aparatur negara, yang bisa ikut tergadaikan bukan hanya uang dan gaji, tetapi juga jabatan, pekerjaan, bahkan masa depan.
Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, memberikan peringatan keras kepada pegawai di lingkungan Kementerian Sosial yang terindikasi bermain judi online.
Pesannya tegas: Jangan coba-coba!
Sebab, seorang ASN maupun PPPK bukan hanya bekerja untuk dirinya sendiri. Ia membawa nama institusi, menerima kepercayaan negara, dan setiap bulan menerima penghasilan dari uang rakyat.
Kalau waktu kerja dipakai untuk “klik-klik” judi online, sementara tugas pelayanan sosial terbengkalai, lalu apa bedanya kantor pelayanan dengan meja perjudian?
Jangan sampai tangan yang seharusnya membantu orang miskin, justru sibuk mencari keberuntungan dari judi.
Lebih ironis lagi, ketika seorang pegawai bekerja di lembaga yang setiap hari berhadapan dengan warga miskin, penyandang disabilitas, korban bencana dan kelompok rentan, tetapi uangnya sendiri justru habis di meja judi online.
Dan kalau kemudian terbukti melanggar aturan, kursi empuk di kantor pun bukan jaminan untuk tetap aman.
Kontrak PPPK bisa tidak diperpanjang. ASN dapat dikenai sanksi disiplin sesuai ketentuan. Maka sebelum menekan tombol “deposit”, pikirkan baik-baik:
Yang sedang dipertaruhkan bukan cuma uang. Bisa jadi pekerjaan sedang dipertaruhkan. Nama baik sedang dipertaruhkan dan masa depan keluarga sedang dipertaruhkan.
Judi online menjanjikan kemenangan dalam hitungan detik, tetapi kerugiannya bisa mengejar seseorang bertahun-tahun.
Gaji boleh kecil, tetapi jangan sampai harga diri ikut dijual. Karena menjadi aparatur negara itu bukan sekadar soal menerima gaji setiap bulan, Tetapi soal menjaga amanah setiap hari.
Bayi Tak Berdosa, Diperdagangkan dengan Harga Rp15 Juta; ada berita yang membuat hati terdiam sejenak. Seorang bayi yang baru berusia satu hari.
Seharusnya berada dalam dekapan ibunya, justru diduga dicuri dari ruang nifas RSU Sundari, Medan.
Ironisnya, aksi tersebut diduga dilakukan oleh seorang perempuan yang pernah bekerja sebagai perawat di rumah sakit itu.
Dengan mengenakan pakaian perawat dan masker, ia disebut cukup leluasa masuk dan membawa bayi tersebut keluar.
Bayi mungil itu kemudian diserahkan kepada pasangan yang sebelumnya berharap mendapatkan anak. Dari penyidikan polisi, terdapat tiga kali transfer uang dengan total Rp15 juta.
Pada 31 Agustus 2026, bayi tersebut diserahkan setelah tersangka menerima transfer Rp10 juta. Belakangan pasangan itu mengetahui bahwa bayi yang diterimanya berjenis kelamin laki-laki, berbeda dengan informasi sebelumnya yang menyebut bayi perempuan.
Kasus ini kemudian terbongkar setelah keluarga dan pihak rumah sakit menyadari bayi tersebut hilang dan melaporkannya kepada polisi.
Dua perempuan, berinisial ARN alias Amel (37) dan PF (19), diamankan dan dijerat dalam perkara dugaan perdagangan orang.
Polisi juga menyita sejumlah barang bukti, antara lain bukti transfer, percakapan elektronik, rekaman CCTV, kain bedong, serta pakaian perawat yang diduga digunakan dalam aksi tersebut.
Dilaporkan sebanyak 370 Anak Palestina Dipenjara, Dunia Muslim Tak Boleh Diam ; Ada angka yang sulit diterima akal sehat: sekitar 370 anak Palestina berada di balik jeruji penjara Israel.
Mereka bukan sekadar angka dalam sebuah laporan. Mereka adalah anak-anak yang seharusnya berada di ruang kelas, bermain bersama teman, bercanda bersama keluarga dan menatap masa depan dengan penuh harapan.
Laporan Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy menyebut, sepanjang enam bulan pertama 2026, sebanyak 276 anak Palestina ditahan.
Penahanan terhadap anak-anak itu disebut telah menjadi bagian berulang dari operasi penangkapan di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Di sinilah nurani dunia sedang diuji. Ketika anak-anak kehilangan kebebasan, dunia tidak boleh kehilangan suara.
Dunia Muslim, khususnya, tidak boleh diam. Bukan berarti membalas kekerasan dengan kekerasan, tetapi menyuarakan keadilan, mendesak perlindungan anak, serta mendorong lembaga internasional agar hak-hak anak Palestina tidak diperlakukan sebagai persoalan yang boleh dilupakan.
Sebab anak tetaplah anak, di Palestina maupun di belahan dunia mana pun. Jika suara kita belum mampu membuka pintu penjara, setidaknya jangan biarkan suara kemanusiaan ikut dipenjara. Palestina membutuhkan kepedulian, bukan sekadar keheningan.
Sementara itu, Abu Anak Krakatau membuat Penerbangan Terhenti, Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitasnya.
Erupsi yang terjadi di Selat Sunda memuntahkan abu vulkanik ke udara dan dampaknya merembet hingga mengganggu lalu lintas penerbangan.
Sebanyak delapan bandara sempat ditutup sementara demi keselamatan penerbangan. Tidak kurang dari 1.558 penerbangan terdampak dan sekitar 170 ribu penumpang ikut merasakan dampaknya.
Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Bila masuk ke mesin pesawat, partikel halus tersebut dapat mengganggu sistem penerbangan dan membahayakan keselamatan.
Karena itu, ketika alam memberi tanda, manusia harus belajar untuk berhenti sejenak.
Pesawat boleh tertunda, perjalanan boleh berubah jadwal, tetapi keselamatan tidak boleh ditawar. Anak Krakatau kembali mengingatkan kita: teknologi manusia boleh semakin canggih, tetapi kekuatan alam tetap harus dihormati.
Di Makassar Krisis Air Bersih; Makassar kembali diuji oleh alam. Di tengah geliat kota yang terus bergerak, sebagian warga justru harus berhadapan dengan persoalan paling mendasar dalam kehidupan: air bersih.
Keran yang biasanya menjadi tempat mengalirnya kehidupan, kini hanya menyisakan tetes-tetes harapan. Warga pun harus mencari air ke tempat lain, membeli air, atau menunggu bantuan datang.
Air bukan sekadar kebutuhan untuk mandi dan mencuci. Air adalah kebutuhan untuk memasak, minum, beribadah, merawat anak-anak dan menjaga kesehatan keluarga.
Ketika air bersih sulit diperoleh, maka yang ikut terganggu bukan hanya aktivitas rumah tangga, tetapi juga martabat kehidupan manusia.
MoKa mengajak kita melihat persoalan ini bukan sekadar sebagai berita tentang kekurangan air, tetapi sebagai panggilan kepedulian.
Pemerintah, pengelola air bersih dan seluruh elemen masyarakat perlu bergerak bersama, agar tidak ada warga Makassar yang harus memilih antara membeli air untuk minum atau memenuhi kebutuhan hidup lainnya.
Sebab kota yang maju bukan hanya kota dengan gedung tinggi dan jalan yang ramai, tetapi kota yang mampu memastikan setiap warganya mendapatkan hak paling mendasar: air bersih untuk kehidupan.
Sampai di sini dahulu jumpa kita dalam kolom Mozaik Kehidupan (MoKa). Begitu banyak peristiwa yang sebenarnya ingin disampaikan, namun karena ruang dan waktu yang terbatas.
Maka yang hadir di hadapan pembaca adalah berita dan cerita dalam skala prioritas, terutama menyangkut berbagai topik hangat yang sedang menjadi perhatian masyarakat.
MoKa akan terus berusaha hadir memenuhi ruang gawai Anda, menyajikan potongan-potongan kehidupan dengan segala warna dan dinamikanya.
Karena itu, kami mohon perkenan pembaca untuk memberikan umpan balik, saran, kritik, maupun usulan yang dapat menjadi bahan evaluasi dan pengembangan MoKa ke depan.
Sebab MoKa bukan hanya milik penulis, tetapi juga milik para pembaca yang setia menemani setiap edisinya.
Sebuah pantun penutup untuk Anda:
Abu vulkanik Anak Krakatau mengganggu penerbangan, Anak bebek berjalan beriringan. Berita hadir menjadi bahan renungan, Semoga MoKa membawa manfaat dan kebaikan.