SYAKHRUDDINNEWS.COM– Rabu sering disebut sebagai hari penyeimbang. Semangat hari Senin yang masih membara telah diuji pada Selasa, lalu Rabu hadir sebagai ruang untuk mengevaluasi langkah.
Di hari inilah seseorang dapat mengukur sejauh mana mimpi telah dikejar, janji telah ditepati, dan kebaikan telah ditanamkan.
Rabu mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya milik mereka yang berlari paling cepat, tetapi juga mereka yang tetap berjalan ketika orang lain memilih berhenti.
Tanggal 5 Agustus juga menyimpan banyak catatan dalam lembar sejarah dunia. Pada 5 Agustus 1963, Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Inggris menandatangani Partial Nuclear Test Ban Treaty, sebuah perjanjian penting yang membatasi uji coba senjata nuklir di atmosfer, luar angkasa, dan bawah laut.
Kesepakatan itu menjadi simbol bahwa di tengah pertarungan politik dan militer, dunia masih memiliki harapan untuk memilih jalan damai.
Di Indonesia, Agustus adalah bulan yang selalu membangkitkan rasa kebangsaan.
Setiap helai merah putih yang berkibar bukan sekadar kain yang tertiup angin, melainkan lambang pengorbanan para pejuang yang rela meninggalkan keluarga, harta, bahkan nyawa demi sebuah kata yang sangat sederhana: merdeka.
Karena itu, memasang bendera bukan sekadar memenuhi imbauan pemerintah, tetapi juga bentuk penghormatan kepada sejarah yang telah mengantarkan kita menjadi bangsa yang berdiri tegak.
Mari jadikan Rabu ini sebagai momentum memperbaiki diri, memperkuat semangat bekerja, dan menumbuhkan rasa cinta kepada negeri.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya dikenang karena masa lalunya, tetapi juga karena warganya mampu menjaga warisan perjuangan dengan tindakan nyata, sekecil apa pun itu.
Selamat pagi, Sahabat MoKa. Semoga Rabu ini menghadirkan kesehatan, keberkahan, serta langkah-langkah yang membawa manfaat bagi sesama. Mari awali hari dengan senyum, bekerja dengan hati, dan menutupnya dengan rasa syukur.
Pantun Pembuka Bulan Agustus sedang berlangsung, Merah putih berkibar di angkasa. Mengapa masih enggan memasang sang saka? Padahal kemerdekaan lahir dari darah dan air mata bangsa.
Dunia penerbangan kembali diguncang; Kali ini bukan karena cuaca buruk atau gangguan mesin, melainkan ulah seorang pilot maskapai asal Malaysia yang diduga berhasil membawa lebih dari 26 kilogram narkotika menuju Indonesia.
Kasus ini membuat otoritas Malaysia ikut kebingungan. Bagaimana mungkin seorang awak pesawat yang melewati berlapis prosedur keamanan masih bisa lolos dari pemeriksaan di bandara keberangkatan?
Kini, investigasi dilakukan untuk menelusuri apakah ada celah sistem, kelalaian petugas, atau kemungkinan keterlibatan jaringan yang lebih besar.
Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi dunia aviasi internasional. Kepercayaan yang selama ini melekat pada profesi pilot justru dinodai oleh tindakan segelintir oknum.
Bagi Indonesia, keberhasilan menggagalkan penyelundupan tersebut menunjukkan bahwa pengawasan di pintu masuk negara tidak boleh lengah, sekalipun pelakunya mengenakan seragam yang selama ini identik dengan profesionalisme.
Perang melawan narkoba tidak mengenal status, jabatan, maupun profesi. Sebab, ketika uang haram mengalahkan nurani, maka keselamatan generasi bangsa menjadi taruhannya.
Komentar MoKa; Seragam kehormatan sejatinya adalah simbol kepercayaan, bukan tameng untuk menyiasati hukum. Narkoba tidak hanya merusak tubuh, tetapi juga menghancurkan martabat profesi.
Karena itu, integritas harus menjadi pemeriksaan pertama yang melekat pada setiap insan, jauh sebelum melewati mesin pemindai di bandara.
Bendera Merah Putih Dibakar di Bandung; Polisi Selidiki Pelaku; Api yang membakar sehelai kain memang mudah dipadamkan. Namun, ketika yang terbakar adalah Merah Putih, yang ikut terusik bukan sekadar sepotong bendera.
Melainkan harga diri dan nurani sebuah bangsa. Jagat maya pun dibuat geger setelah beredar rekaman seorang pria berhoodie hitam diduga membakar bendera Merah Putih yang terpasang,
Di depan rumah warga di Kelurahan Maleber, Kecamatan Andir, Kota Bandung pada Minggu dini hari. Beruntung, seorang warga yang melintas dengan sigap memadamkan kobaran api sebelum bendera habis dilalap.
Hingga kini identitas pelaku masih belum diketahui. Aparat Kepolisian Sektor Andir telah melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan bukti dan meminta keterangan para saksi.
Publik pun diimbau menahan diri untuk tidak berspekulasi sebelum hasil penyelidikan diumumkan. Sebab, dalam negara hukum, setiap peristiwa harus diungkap berdasarkan fakta, bukan prasangka.
Komentar MoKa; Bendera Merah Putih bukan sekadar kain yang berkibar di tiang. Ia adalah lambang perjuangan, pengorbanan, dan persatuan yang diwariskan para pendiri bangsa.
Apa pun motif di balik peristiwa ini, biarlah hukum bekerja mengungkap kebenaran. Sementara itu, tugas kita adalah menjaga persatuan, menghormati simbol negara, dan tidak mudah terpancing oleh provokasi yang dapat memecah belah anak bangsa.
Sementara itu, di tengah suasana haru dan bangga yang menyelimuti acara ramah tamah Wisuda Sarjana Angkatan ke-120 Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Satu nama mencuri perhatian, Sittiara Baraqah Faisyal, lulusan terbaik FDK Tahun Akademik 2026, berdiri di podium kehormatan mewakili seluruh wisudawan dan wisudawati, yang berlangsung di Four Point by Sheraton, Jalan Andi Djemma Makassar, Selasa 4 Agustus 2026.
Dengan tutur kata yang tenang dan penuh makna, ia menyampaikan pesan yang menjadi cermin perjalanan panjang para sarjana yang telah menempuh ikhtiar akademik hingga mencapai garis akhir.
Sesekali menyeka air mata haru, di hadapannya hadir Dekan FDK beserta jajaran pimpinan fakultas, para dosen, orang tua, wali, dan tamu undangan yang menyaksikan lahirnya generasi baru insan social worker dari prodi kesejahteraan sosial.
Suasana yang semula khidmat seketika berubah hangat ketika Sekretaris Jurusan Manajemen Haji dan Umrah tampil menghibur hadirin melalui sebuah lagu andalannya.
Penampilan spontan itu mengundang tepuk tangan meriah dan senyum para tamu. Bahkan, apresiasi khusus datang langsung dari Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi.
Prof. Dr. H. Abd. Rasyid Masri, yang menjanjikan sebuah hadiah sebagai bentuk penghargaan atas penampilan tersebut dan akan diserahkan pada kesempatan berikutnya.
Dalam sambutannya, Dekan FDK mengingatkan para calon alumni agar tidak berhenti belajar setelah meninggalkan bangku kuliah.
\Menurutnya, alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi memiliki bekal kompetensi yang memadai untuk berkiprah dan bersaing di tengah masyarakat.
Ia juga menyinggung berbagai peluang kerja yang kini dibuka pemerintah, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, hingga Sekolah Rakyat bagi mereka yang berprose di bidang pekerjaan sosial.
Baginya, ruang pengabdian terbuka lebar bagi lulusan FDK yang memiliki keberanian, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Namun, Prof. Abd. Rasyid juga mengajak para wisudawan membaca realitas dengan jernih. Ia mengakui bahwa kondisi perekonomian saat ini belum sepenuhnya pulih.
Pengalaman yang baru saja ia saksikan dalam perjalanan luar daerah menjadi gambaran nyata. “Saya melihat sendiri truk-truk pengangkut barang antardaerah harus mengantre panjang untuk mendapatkan BBM.
Kondisi ini menjadi isyarat bahwa konflik yang masih berlangsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran turut membawa dampak tidak langsung terhadap distribusi energi dan aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Pesan itu menjadi penutup yang sarat makna: seorang sarjana tidak hanya dituntut memiliki ilmu, tetapi juga kepekaan membaca dinamika zaman agar mampu menghadirkan solusi di tengah masyarakat, ujarnya.
Sampai di sini dahulu perjumpaan kita. Insyaallah, Mozaik Kehidupan (MoKa) akan kembali menyapa gawai di genggaman Anda esok pagi, menghadirkan cerita, hikmah, dan kabar yang layak diketahui.
Terima kasih telah meluangkan waktu menjadi sahabat setia MoKa. Semoga setiap langkah yang Anda ayunkan hari ini senantiasa dipenuhi keberkahan, kesehatan, dan kemudahan dalam setiap ikhtiar.
Salam sejahtera, selamat beraktivitas, dan sampai jumpa esok pagi.
Pantun Penutup
Wisuda sarjana hari ini berlangsung di kampus UINAM, Mengukir asa dalam balutan doa yang mendalam. Jangan berhenti belajar sepanjang hayat dijalankan, Sebab ilmu yang diamalkan akan menerangi kehidupan.