SYAKHRUDDINNEWS.COM – Selasa datang tanpa banyak suara. Ia tidak mengetuk pintu, tidak pula bertanya apakah kita siap. Ia hanya mengingatkan: hidup harus terus berjalan!
Kemarin boleh menjadi kenangan, tetapi hari ini adalah kesempatan. Jangan habiskan tenaga untuk meratapi sesuatu yang telah berlalu. Sebab waktu tidak pernah mau kembali hanya karena kita menyesal.
Allah SWT telah memberi pegangan yang sangat kuat dalam QS. Al-Insyirah ayat 5–6: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Ayat ini seperti mengetuk keras pintu hati kita: jangan menyerah ketika hidup sedang berat. Kesulitan bukan tanda Allah meninggalkan kita. Bisa jadi, justru di tengah kesulitan itulah jalan keluar sedang dipersiapkan.
22 September juga mengingatkan kita bahwa sejarah tidak pernah berjalan tanpa luka. Pada 22 September 1980, perang Iran-Irak dimulai dan berlangsung bertahun-tahun.
Sejarah itu memberi pelajaran sederhana: ketika manusia memilih konflik, yang paling mahal harganya adalah kemanusiaan.
Dari sana kita belajar bahwa perdamaian bukan kelemahan, ia adalah sesuatu yang harus dijaga dengan kesadaran dan keberanian.
Maka Selasa pagi ini, jangan hanya bertanya, “Apa yang akan saya dapat hari ini?” Tetapi tanyakan pula, “Apa yang bisa saya berikan hari ini?”
Sebab umur bertambah bukan sekadar angka; ia adalah pengingat bahwa kesempatan berbuat baik semakin berharga.
Kalau sedang susah, bertahanlah.
Kalau sedang jatuh, bangkitlah.
Kalau sedang kecewa, jangan kehilangan arah.
Dan kalau sedang berhasil, jangan lupa menundukkan kepala.
Sebab hidup ini bukan perlombaan untuk menjadi paling tinggi. Hidup adalah perjalanan untuk menjadi lebih berarti, Sebagaimana pantun pembuka untuk Anda;
Burung merpati terbang ke taman,
Hinggap sebentar di atas dahan.
Selamat pagi para sahabat budiman,
Semoga hari ini penuh keberkahan.
Hari ini, Washington membuka jalan bagi penjualan 48 pesawat tempur siluman F-35 kepada Arab Saudi dengan nilai sekitar US$24,3 miliar atau Rp431 triliun.
Paket tersebut juga mencakup 49 mesin, perangkat komunikasi, pelatihan, suku cadang, serta dukungan logistik.
Namun, persetujuan Departemen Luar Negeri AS ini belum berarti transaksi final, karena masih harus melalui proses peninjauan Kongres AS.
Washington menyatakan penjualan itu ditujukan untuk memperkuat kemampuan pertahanan Saudi di tengah meningkatnya ancaman keamanan kawasan.
Langkah tersebut menjadi perhatian Israel karena selama ini Israel merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang mengoperasikan F-35, sehingga muncul kekhawatiran mengenai keunggulan militernya.
Laporan media Israel menyebut pemerintah Israel mempertimbangkan meminta kompensasi berupa tambahan kemampuan persenjataan dari Washington, termasuk sejumlah sistem yang sebelumnya belum disetujui AS.
Dengan demikian, transaksi F-35 Saudi bukan sekadar jual beli pesawat tempur, tetapi juga menjadi bagian dari dinamika hubungan Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Israel yang terus berkembang di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Sementara itu, sebuah video singkat kembali mengajarkan kita bahwa jari yang menekan tombol unggah bisa membawa persoalan jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.
Gerard Permana, pegawai SPPG di Bantul, Yogyakarta, menjadi sorotan setelah videonya menyantap makanan sambil melontarkan candaan tentang
“Hilang ingatan 70 persen” dikaitkan warganet dengan kasus siswi yang mengalami gangguan kesehatan setelah dugaan keracunan MBG.
Gerard kemudian memberikan klarifikasi dan permohonan maaf, sementara BGN menyatakan telah memberikan teguran kepada yang bersangkutan dan SPPG tempatnya bertugas.
Sorotan itu kemudian sampai kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Bukan tamparan secara fisik, melainkan teguran keras di ruang publik, dengan pesan agar ruang publik tetap aman dan ramah bagi anak-anak serta tidak menjadi tempat lahirnya perundungan.
Peristiwa ini menyisakan pesan sederhana: ketika bekerja di tengah pelayanan masyarakat, setiap ucapan memiliki konsekuensi.
Program sebesar MBG bukan sekadar soal makanan yang sampai ke meja anak sekolah, tetapi juga soal kepercayaan, empati, tanggung jawab, dan kehormatan penerima manfaat.
Disisi lain, Konser musik di kawasan Sam Poo Kong, Semarang, Sabtu malam 19 September 2026, sekitar pukul 19.30 WIB, mendadak berubah dari pesta hiburan menjadi suasana ricuh.
Sejumlah penonton terlihat berdesakan dan ada yang menerobos gerbang. Informasi awal di media sosial menyebut persoalan antrean dan penukaran tiket yang terlalu lama.
Namun polisi menjelaskan bahwa pemicu utamanya adalah miskomunikasi antara pihak ticketing dan pengunjung, terutama terkait aturan keluar-masuk arena ketika kapasitas di dalam sudah penuh.
Untungnya, kericuhan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dan tidak ada penonton yang diamankan.
Polisi melakukan pengamanan hingga sekitar pukul 23.00 WIB dan menyatakan situasi telah kembali kondusif.
Meski demikian, Polsek Semarang Barat berencana memanggil pihak penyelenggara untuk meminta penjelasan mengenai persiapan dan pengaturan penonton.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konser bukan sekadar soal panggung, musik, dan gemerlap lampu; ketika komunikasi dan pengaturan massa tidak berjalan jelas, hiburan bisa seketika berubah menjadi kepanikan.
Diinformasikan bahwa Ramadan Kembali Mengetuk Pintu; Waktu terus bergulir, dan Ramadan perlahan mulai tampak di ufuk penanggalan.
Muhammadiyah melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) menetapkan 1 Ramadan 1448 H bertepatan dengan Senin, 8 Februari 2027.
Penetapan ini menggunakan pendekatan hisab hakiki kontemporer dengan prinsip keseragaman tanggal Hijriah secara global.
Bagi umat Islam, angka 8 Februari 2027 bukan sekadar catatan kalender. Ia menjadi penanda bahwa bulan penuh rahmat, ampunan dan latihan kesabaran akan kembali hadir.
Ramadan mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, menata hati, memperbanyak ibadah, mempererat silaturahmi dan berbagi kepada sesama.
Sebab Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang menemukan kembali makna diri di hadapan Allah SWT. Ketika kalender mencatat kedatangannya, semoga hati kita pun telah siap menyambutnya.
Akhirnya kabar duka kembali datang dari pencarian KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa.
Tim penyelam Basarnas Special Group bersama tim gabungan menemukan satu korban dalam kondisi meninggal dunia pada Ahad, 20 September 2026.
Korban ditemukan sekitar pukul 14.14 WITA di dalam badan kapal yang karam dan kemudian dievakuasi menuju KN SAR Kamajaya.
Dengan penemuan tersebut, jumlah korban meninggal yang telah ditemukan menjadi 10 orang, sementara operasi pencarian masih terus berlangsung.
Yang membuat tragedi ini semakin menyisakan tanda tanya adalah persoalan data penumpang.
Dari manifes yang diterima KSOP Banjarmasin, tercatat 243 orang, namun setelah dilakukan pendataan terhadap 108 penumpang yang selamat, ditemukan 22 orang yang ternyata tidak tercantum dalam manifes tersebut.
KSOP masih melakukan pencocokan dan verifikasi identitas. Di tengah ketidakpastian itu, Basarnas memanfaatkan ROV (Remotely Operated Vehicle), robot bawah air berkamera, untuk menyusuri lorong-lorong bangkai kapal dan memberikan gambaran kondisi di dalamnya sebagai panduan bagi para penyelam.
Teknologi bergerak di ruang gelap yang tak mampu dijangkau mata manusia,sementara di permukaan, keluarga korban masih menunggu satu hal yang paling mereka dambakan: kepastian tentang orang-orang yang mereka cintai.
Manifes bukan sekadar daftar nama. Ia adalah catatan tentang manusia yang naik ke kapal dan berhak diketahui keberadaannya.
Karena itu, temuan 22 penumpang yang tidak tercatat menjadi bagian penting yang perlu ditelusuri secara serius oleh pihak berwenang, bukan hanya untuk kepentingan pencarian korban, tetapi juga untuk menjawab bagaimana ketidaksesuaian data tersebut bisa terjadi.
Pembaca Moka yang baik hati, di balik bangkai kapal Virgo, ada cerita yang jauh lebih dalam daripada sekadar besi yang tenggelam dan gelombang yang kembali tenang.
Ada mereka yang gugur, meninggalkan nama, keluarga, sahabat, dan kenangan yang tak mungkin ikut tenggelam bersama kapal.
Perjalanan yang semula diharapkan menjadi sebuah keberangkatan, berubah menjadi perpisahan yang tragis. Laut menyimpan jasad mereka, tetapi tidak akan pernah mampu menghapus jejak kasih dan doa yang ditinggalkan di daratan.
Pada akhirnya, setiap perjalanan memiliki titik pulang. Namun bagi mereka yang gugur di balik bangkai KM Virgo, perjalanan itu berhenti dalam cara yang tak pernah diharapkan.
Semoga setiap korban mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan untuk menerima takdir yang begitu berat.
Pembaca setia; Mozaik Kehidupan (MoKa) akan terus hadir di gawai Anda, menyapa dari pagi hingga malam, membawa berita, renungan, dan cerita tentang kehidupan.
Karena MoKa memang hadir untuk Anda; bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan, agar setiap peristiwa mengajarkan kita arti kehidupan, kehilangan, dan perpisahan, sebagaimana ungkapan dalam pantun;
Laut boleh menelan kapal, Namun kenangan tak ikut karam. Perpisahan memang terasa sesak, Doa menjadi pengikat yang paling dalam.