SYAKHRUDDINNEWS.COM – Selepas Lebaran, Apa yang Tersisa? Pembaca setia Mozaik Kehidupan, kita kembali bersua dalam lanskap pascaIdulfitri, sebuah ruang jeda yang menandai berakhirnya perayaan, sekaligus awal dari kembalinya ritme kehidupan.
Di titik ini, kita tidak hanya menata ulang aktivitas, tetapi juga menimbang kembali makna. Termasuk ketika pola kerja beralih pada WFH (Work From Home), yang menuntut disiplin tanpa pengawasan kasat mata.
Sebab sejatinya, bekerja bukan soal ruang, melainkan tentang tanggung jawab yang tetap utuh, di mana pun kita berada. Bagi penulis, bekerja adalah bagian dari ibadah yang dijaga kesuciannya.
Setiap kata yang dituliskan bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan jejak perjalanan hidup, denyut peristiwa harian, sekaligus cermin pembelajaran.
Seperti ungkapan lama yang tetap relevan: tak tahu maka tak kenal, tak kenal maka tak sayang. Dari sanalah kedekatan lahir, dan tulisan yang jujur akan menemukan jalannya sendiri menuju hati pembacanya.
Hari-hari selepas Idulfitri selalu datang dengan nuansa yang berbeda. Takbir tak lagi bergema dari masjid ke masjid, langkah tamu tak lagi riuh mengetuk pintu.
Jalanan kembali biasa, ruang tamu kembali lengang, dan meja makan tak lagi penuh hidangan. Segalanya perlahan kembali ke asalnya, seolah perayaan hanya singgah sesaat, lalu pergi meninggalkan jejak yang samar.
Namun sesungguhnya, Lebaran tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk. Di tengah sunyi yang tersisa, ada pertanyaan yang diam-diam mengetuk batin: apa yang benar-benar tinggal setelah semua ucapan mohon maaf lahir dan batin dilafalkan?
Apakah ia sekadar kata yang larut bersama waktu, atau menjelma menjadi sikap yang menetap dalam keseharian? Makna Lebaran tidak diukur dari ramainya kunjungan atau penuhnya pesan di layar gawai.
Ia justru diuji ketika hari kembali biasa, saat tak ada lagi suasana yang “memaksa” kita ramah, dan tak ada lagi momen yang “mengharuskan” kita menahan ego. Di situlah nilai silaturahmi menemukan maknanya yang sejati:
Bukan sekadar tradisi musiman, melainkan jembatan yang terus dirawat, bahkan setelah gema takbir mereda. Lebaran juga mengajarkan keikhlasan yang sunyi, memaafkan tanpa syarat, tanpa menunggu siapa yang lebih dulu merendahkan hati.
Namun kerap kali, pelajaran itu hanya seumur hari raya. Setelahnya, kita kembali mudah tersinggung, cepat menilai, dan perlahan melupakan lapang dada yang sempat kita miliki.
Padahal, jika ada yang seharusnya tersisa dari Lebaran, itu adalah kemampuan untuk menjadi lebih manusiawi. Tidak semua orang merayakan Lebaran dengan cara yang sama. Di sudut-sudut tertentu, ada yang merayakan dalam kesederhanaan, bahkan kesunyian.
Ada orang tua yang menunggu anaknya pulang, namun tak kunjung tiba. Ada lansia yang hanya ditemani kenangan, tanpa riuh keluarga. Ada pula yang menahan rindu, karena jarak dan keadaan belum berpihak. Bagi mereka, Lebaran bukan tentang keramaian, melainkan tentang ketabahan.
Di titik itu, kita diingatkan bahwa makna berbagi tidak berhenti pada hari raya. Ia justru menemukan relevansinya setelahnya, ketika perhatian mulai langka, ketika kepedulian mulai memudar. Menyapa yang sendiri, mengulurkan waktu, dan menghadirkan kehangatan, itulah Lebaran yang tetap hidup.
Kini, kita telah melangkah ke hari-hari awal Syawal. Bulan pembuktian, apakah semangat Ramadan dan nilai Lebaran mampu kita jaga, atau justru perlahan memudar bersama rutinitas lama.
Hari-hari biasa sejatinya bukanlah hari yang sederhana. Ia adalah cermin. Di dalamnya, kita melihat apakah diri ini benar-benar berubah, atau hanya sempat tersentuh sesaat.
Sebab perubahan sejati tidak membutuhkan panggung besar; ia tumbuh dalam diam, dalam konsistensi yang sering luput dari sorotan.
Maka selepas Lebaran ini, yang perlu kita jaga bukan lagi suasananya, melainkan maknanya. Bukan gemanya, melainkan jejaknya dalam perilaku sehari-hari.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah bagaimana kita merayakan kemenangan, tetapi bagaimana kita menjaga kemenangan itu tetap hidup dalam hati, dalam sikap, dan dalam cara kita memperlakukan sesama.Dan ketika semua telah kembali biasa, semoga kita tidak kembali menjadi orang yang sama.
Kabar Duka : Dari kampung halaman, kabar duka datang menyapa. Adinda Hj. Dahlia Dg Tajammeng binti H. Cole telah berpulang ke rahmatullah pada Senin dinihari, 6 April 2026, di Kelurahan Mata Allo, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa.
Kepergian almarhumah meninggalkan jejak kehidupan yang tak sederhana. Bukan semata dari ragam usaha yang dirintis, termasuk rumah kost di Jalan Andi Tonro I Makassar, melainkan dari nilai ketekunan, kerja keras, dan pengabdian yang diwariskan.
Kini, yang tersisa bukan lagi apa yang dimiliki, melainkan apa yang pernah diberikan. Doa dan amal jariah menjadi pengiring abadi menuju keharibaan Ilahi.
Ruang Silaturahmi Lansia : Di tengah suasana Syawal, kebersamaan kembali dirajut oleh Pengurus Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Sulawesi Selatan melalui agenda Halal Bihalal yang akan digelar pada Selasa, 14 April 2026, di Hotel Dalton, Jalan Perintis Kemerdekaan Km 16, Pai, Biringkanaya, Makassar.
Kegiatan ini akan mempertemukan para anggota dan simpatisan dalam satu ruang kebersamaan, di bawah koordinasi panitia yang dipimpin Siswantoro Nur Hadi bersama sekretaris Dr. Rusli Razak. Lebih dari sekadar pertemuan, momentum ini diharapkan menjadi ruang mempererat ukhuwah, menguatkan kebersamaan, serta meneguhkan semangat lansia yang sehat, bahagia, dan tetap bermakna dalam kehidupan sosial.
Sementara itu, Pengurus LLI juga melakukan audance ke Pimpinan Wirajaya Makassar untuk jalinan kerjasama dalam pembinaan Lansia, seraya mengunjungi rumah kediaman Ibu Uslah Sofyan, anggota LLI yang baru saja keluar dari rumah sakit.
Undangan Syukuran ; Di antara denyut waktu yang terus berlari, ada jeda yang sengaja dipilih, untuk mensyukuri nikmat, merawat kebersamaan, dan mengikat silaturahmi dalam kehangatan yang sederhana.
Pada Selasa, 7 April 2026, pukul 12.30 WITA, di BTN Minasaupa, Jalan Aroeppala Blok AB3, sebuah perjumpaan kecil akan digelar. Bukan sekadar jamuan makan siang, tetapi ruang temu yang diharapkan dipenuhi doa, senyum, dan keikhlasan.
Kehadiran para undangan bukan hanya melengkapi acara, tetapi menjadi bagian dari cerita syukur yang ingin dirajut bersama Lokasi: https://maps.app.goo.gl/gYQaYS6CGx4poQ5a6?g_st=iw
Dengan segala kerendahan hati, kehadiran dan doa restu sangat dinantikan.
Sampai di sini kita berhenti sejenak. Hari ini, barangkali sengaja kita biarkan lebih tenang, tanpa hiruk-pikuk kabar yang menguras emosi. Sebab pada akhirnya, kita semua membutuhkan ruang untuk mendinginkan hati, menata pikiran, dan merawat harapan akan kehidupan yang lebih damai.
Salam santun,
Syakhruddin Tagana


