SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan yang penulis sayangi. Kita kembali bertemu pada 05 Februari 2026, di sebuah hari yang tampak biasa, tetapi diam-diam menyimpan riuh dalam dadanya.
Waktu berjalan seperti sungai: tak pernah berhenti, tak pernah menoleh, tak pernah bertanya siapa yang sanggup berenang, siapa yang mulai tenggelam.
Di luar sana, hidup sedang berputar kencang. Seperti roda yang tak memberi kesempatan kita untuk sekadar menarik napas.
Janji rapel gaji pensiunan, yang semula turun seperti embun harapan, rupanya belum juga jatuh menjadi kenyataan. Pemerintah masih berkutat dengan banyak simpul, seperti orang yang berlari sambil membawa beban di kedua tangan: ingin cepat, tetapi tak boleh jatuh.
Di sisi lain, ada kabar pejabat yang mundur beramai-ramai, seolah kapal sedang oleng dan sebagian memilih turun sebelum ombak menelan.
Sementara itu, harga saham anjlok, ekonomi seperti kaca yang retak oleh benturan kepentingan. Presiden pun turun tangan, merapikan yang kusut, menambal yang bocor, menenangkan yang gaduh.
Nama Purbaya Dewa Sadewa pun muncul seperti sosok yang bekerja dalam sunyi: tak banyak bicara, tetapi tetap berdiri ketika yang lain mulai lelah.
Namun kita pun tahu, pembaca !
Tidak semua kegaduhan lahir dari badai alam. Ada badai yang sengaja diciptakan.
Ada tangan-tangan yang terusik kepentingannya, lalu mengerahkan kekuatan seperti angin yang diarahkan.
Ada para pemuja korupsi yang merasa kenyamanannya diganggu, lalu mulai menyusun siasat. Maka ekonomi pun seakan dijadikan papan permainan untuk diguncang, digeser, diputardemi mempertahankan kuasa dan mengamankan kantong yang tak pernah kenyang.
Tetapi, pembaca yang penulis muliakan !
Di tengah hiruk-pikuk yang menyesakkan itu, semesta selalu punya cara mengingatkan: bahwa hidup bukan hanya soal angka, jabatan, dan perebutan panggung.
Ada juga perayaan. Ada juga tradisi. Ada juga kebahagiaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, sebagai penawar letih yang tak pernah tertulis dalam APBN.
Dan sebelum kita melangkah menuju Ramadan 1447 H, ada satu hari besar yang sering lewat begitu saja dalam percakapan sebagian orang, padahal ia membawa cahaya tersendiri dalam keberagaman bangsa ini:
Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.
Api yang Datang Bersama Kuda ; Tahun Baru Imlek 2026 akan jatuh pada 17 Februari 2026. Ia menandai masuknya tahun Shio Kuda Api—sebuah simbol yang dipercaya membawa energi besar, gerak cepat, dan semangat yang menyala.
Kuda dikenal sebagai lambang kebebasan. Ia berlari bukan hanya menuju tujuan, tetapi menuju ruang luas bernama kemungkinan.
Dan ketika unsur Api menyertai Kuda, maka lahirlah apa yang disebut orang-orang sebagai Double Fire—api ganda. Api yang terjadi hanya sekali dalam 60 tahun. Terakhir dunia menyaksikannya pada 1966, dan kini ia kembali mengetuk pintu waktu.
Api ganda itu seperti semangat yang meluap: bisa menjadi cahaya, bisa pula menjadi luka.
Bisa melahirkan inovasi, bisa juga membakar kendali diri bila emosi tak dijaga.
Tahun Kuda Api dipercaya sebagai tahun untuk bergerak. Bukan tahun untuk menunggu nasib menjemput, tetapi tahun untuk menjemput nasib.
Orang-orang menyebut ini masa yang baik untuk memulai ide baru, memulai kerja baru, bahkan memulai hidup yang baru. Namun sebagaimana api, ia meminta satu syarat:
Jangan gegabah. Jangan impulsif.
Merah, Oranye, dan Kewaspadaan
Dalam keyakinan yang hidup di kalangan masyarakat Tionghoa, warna-warna cerah seperti merah dan oranye dipercaya selaras dengan energi tahun ini—membawa keberuntungan dan menolak hal buruk.
Terutama bagi mereka yang lahir dalam tahun Kuda: 1954, 1966, 1978, 1990, 2002, 2014, 2026.
Bagi mereka, tahun ini disebut Ben Ming Nian, tahun yang membuat seseorang dianjurkan lebih waspada.
Bukan karena hidup akan gelap, melainkan karena hidup sedang bergerak cepat. Dan orang yang cepat, harus lebih hati-hati agar tidak tergelincir.
Hujan yang Sudah Paham Tradisi
Namun yang paling membuat penulis tersenyum, justru bukan ramalan, bukan warna, bukan simbol.
Melainkan kearifan lokal yang tumbuh di kampung-kampung kita—terutama di kalangan warga lansia Makassar—yang memaknai musim, hujan, dan perayaan dengan bahasa yang lembut, akrab, dan turun-temurun.
Akhir-akhir ini hujan sering turun. Dan orang-orang tua menyebutnya dengan kalimat sederhana:
“Bosina tambaru Cina.” Hujan menyongsong Tahun Baru Cina.
Kalimat itu bukan sekadar candaan.
Ia seperti tanda alam yang telah mereka hafal, seperti hafalnya mereka pada jalan pulang menuju rumah.
Lalu setelah hujan, biasanya datang panas beberapa hari.
Mereka menyebutnya ! “Pangngaloi dodorana cinayya.” Hari untuk menjemur dodol perayaan.
Betapa indah ! Bahkan dodol pun punya tempat dalam bahasa. Dan setelah perayaan berlalu, hujan akan turun lagi. Mereka menamainya:
“Pannangkasi loro’.” Hari untuk membersihkan sisa-sisa perayaan.
Seakan alam pun ikut punya jadwal: kapan menyambut, kapan menghangatkan, kapan membersihkan.
Warisan yang Diam-diam Menjaga Kita
Dari semua ulasan itu, kita belajar satu hal yang sering luput:
Bahwa kearifan lokal bukan hanya cerita orang tua, tetapi peta kehidupan.
Ia adalah cara masyarakat membaca tanda-tanda, cara mereka menamai musim, cara mereka merawat ingatan, cara mereka meneguhkan bahwa tradisi bukan beban, melainkan pegangan.
Dan di negeri yang sering gaduh oleh perebutan kuasa, kita membutuhkan hal-hal semacam ini: yang lembut, yang tenang, yang menyejukkan.
Sebab kadang, yang menyelamatkan manusia bukanlah pidato panjang, melainkan kalimat sederhana dari mulut seorang tua di beranda rumah:
“Bosina tambaru Cina…”
dan kita pun tersadar… bahwa hidup bukan hanya tentang masalah yang menekan, tetapi juga tentang perayaan yang menguatkan.
Eyang Meri: Perempuan yang Menjaga Cahaya Kejujuran
Di antara kabar yang berlalu di layar-layar ponsel, ada satu berita yang jatuh pelan ke hati: Meriyati Hoegeng, istri mantan Kapolri Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, berpulang dalam usia 100 tahun.
Ia akan dimakamkan di TPU Giri Tama, Tajur Halang, Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (4/2), sebelum Zuhur. Di dekat makam suaminya—lelaki yang namanya dikenal bangsa sebagai simbol kejujuran, ketegasan, dan kesederhanaan.
Kata keluarga, Eyang Meri tidak pergi karena penyakit tertentu. Ia pergi karena usia—seperti senja yang pamit tanpa gaduh. Sehat, tetapi waktunya telah selesai.
Jenazah tiba di rumah duka pada sore hari, disambut karangan bunga dari banyak pihak: Kapolri, jajaran kepolisian, hingga petinggi-petinggi yang datang memberi hormat.
Namun pembaca ! bukan bunga yang membuat Eyang Meri harum dalam ingatan bangsa.
Yang membuatnya harum adalah kesetiaannya menjadi bagian dari kisah yang langka:
kisah keluarga yang hidup bersahaja, di tengah godaan dunia yang gemerlap.
Eyang Meri lahir pada 23 Juni 1925 di Yogyakarta, Hindia Belanda. Ia menikah dengan Hoegeng pada tahun 1946, dan dikaruniai tiga orang anak.
Dan setelah Hoegeng pensiun, mereka bahkan mendirikan kelompok musik The Hawaiian Singers—sebuah cara sederhana untuk tetap menyanyi di usia yang menua, tetap gembira di dunia yang sering muram.
Maka ketika Eyang Meri berpulang, rasanya seperti satu lembar teladan ikut dilipat rapi oleh waktu. Tetapi tidak hilang. Karena orang-orang seperti beliau tidak benar-benar pergi.
Mereka hanya berpindah tempat: dari rumah sederhana, ke dalam ingatan banyak jiwa.
Dan kita pun belajar lagi…
Bahwa hidup bukan hanya tentang siapa yang menang di panggung kuasa, tetapi tentang siapa yang tetap jujur saat semua orang tergoda untuk curang.
Pembaca yang penulis sayangi ! Di negeri yang sering gaduh oleh berita besar, kita tetap membutuhkan berita kecil yang menyejukkan: tentang hujan, dodol, tradisi, dan orang-orang tua yang menamai musim dengan kelembutan.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan hanya tentang bertahan dari badai, tetapi juga tentang menemukan alasan untuk tetap tersenyum—meski hujan turun, meski api menyala.
Selamat menyongsong Imlek, selamat menyongsong hari-hari baru, dan semoga kita semua tetap menjadi manusia yang hangat, di tengah dunia yang kadang terlalu dingin.