SYAKHRUDDINNEWS.COM – Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sahabat Pembaca Mozaik Kehidupan yang berbahagia, kemarin, Senin yang panjang, hujan turun sejak pagi hingga petang, seolah langit sedang menumpahkan seluruh isi dadanya ke atas kota.
Jalanan basah, langkah orang-orang melambat, beberapa rencana tertunda, dan sebagian aktivitas terpaksa menepi.Namun begitulah hidup: kadang kita tidak bergerak karena lemah, melainkan karena semesta sedang meminta kita menunggu sejenak.
Hari ini Selasa, Kita berharap ia hadir lebih ramah, lebih terang dan lebih memberi ruang untuk mengejar pekerjaan yang tertinggal kemarin. Sebab hidup ini, meski sering ditunda hujan, tidak pernah benar-benar berhenti.
Dan pagi ini, saya menulis lebih singkat. Bukan karena kehabisan cerita, tetapi karena beberapa sahabat pembaca yang sudah lansiaberbisik jujur:
“Jangan terlalu panjang ya… mata sudah cepat lelah, hati juga kadang malas membaca.”
Baiklah, Kalau begitu, kita buat ia ringkas… tapi tetap bermakna.
Malam Nisfu Sya’ban: Langit yang Dibuka, Hati yang Diketuk
Ada malam-malam yang tidak sekadar lewat. Ia singgah seperti tamu mulia, mengetuk pelan pintu jiwa. Malam ini, Nisfu Sya’ban, pertengahan bulan Sya’ban, yang pada kalender Masehi jatuh 3 Februari 2026.
Umat Muslim dianjurkan memperbanyak doa, karena malam seperti ini sering dipercaya sebagai waktu yang baik untuk mengetuk langit.
Di malam Nisfu Sya’ban, banyak orang membaca Surat Yasin, bukan hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai harapan yang disisipkan diam-diam: Satu kali Yasin, dengan niat panjang umur dalam taat
Satu kali Yasin, dengan niat rezeki halal yang diluaskan
Satu kali Yasin, dengan niat iman yang dijaga hingga akhir napas
Lalu doa Nisfu Sya’ban dilantunkan dan di situlah kita sadar:
yang paling kita butuhkan bukan sekadar panjang umur, tetapi umur yang panjang untuk berbuat baik.
Barru: Ketika Angin Datang Tanpa Permisi
Di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, angin puting beliung datang sebentar saja—katanya hanya sekejap. Tapi sekejap itu cukup untuk membuat 33 rumah rusak, dan dua pohon tumbang di empat kecamatan: Barru, Soppeng Riaja, Balusu, dan Tanete Rilau.
Angin memang begitu, Ia tidak pernah mengetuk pintu, Ia datang, merobek, lalu pergi… meninggalkan manusia menghitung kerugian sambil menahan sedih.
Namun selalu ada pelajaran dari bencana: bahwa rumah bukan hanya dinding dan atap, tetapi juga doa, gotong royong, dan tangan-tangan yang saling menguatkan.
Tangerang: Luka yang Panjang, Riuh yang Tak Selesai
Di Kota Tangerang, kisah lain menggulung seperti ombak yang belum reda.
Pimpinan Cabang GP Ansor membeberkan kronologi dugaan penganiayaan berat terhadap seorang anggota Banser berinisial R, yang diduga terjadi setelah menghadiri acara Maulid Nabi, acara yang terbuka dan dihadiri banyak orang.
Lalu cerita itu berkembang, memanjang, menjadi peristiwa yang menimbulkan gaduh dan luka. Bukan hanya luka fisik, tetapi luka sosial: karena ketika kekerasan terjadi, biasanya bukan hanya tubuh yang jatuh, kepercayaan pun ikut retak.
Tak berhenti di sana, ibu kandung Bahar Smith, Isnawati Hasan, juga melaporkan seorang perempuan berinisial F atas dugaan penyebaran hoaks. F disebut sebagai istri dari korban dan pihak pelapor dalam kasus yang menyeret nama besar.
Begitulah kadang hidup di negeri ini:
Satu peristiwa bisa bercabang menjadi banyak laporan, dan kebenaran seperti benang kusut, ditarik sedikit saja, ia bisa makin ruwetSemoga semua pihak diberi kejernihan, karena hukum harus menjadi lampu, bukan bara.
Balikpapan: Delapan Jam di Laut, Menggenggam Harap di Tengah Gelombang
Di perairan Lamaru, Balikpapan, 12 orang pemancing terjebak di tengah laut.
Cuaca buruk menghantam: hujan deras, angin kencang, gelombang tinggi. Mereka bertahan lebih dari delapan jam di atas bagang, sekitar 20 nautical mile dari bibir pantai.
Delapan jam bukan waktu yang singkat, apalagi di laut.
Di daratan, delapan jam mungkin cuma kerja dan kopi.
Tapi di tengah gelombang, delapan jam adalah ujian:
Antara kuat dan panik, antara pasrah dan berharap.
Di situlah manusia sering mengenal Tuhan lebih dekat.
Karena ketika tak ada tempat berlindung,
Langit menjadi satu-satunya atap,
Dan doa menjadi satu-satunya pelampung.
Sahabat Pembaca yang saya muliakan, sampai di sini Mozaik Kehidupan edisi hari ini. Penulis ringkaskan agar sahabat-sahabat lansia tetap nyaman membaca, tanpa harus menggerutu karena kepanjangan. Namun meski singkat, semoga tetap ada yang tertinggal di hati:
Bahwa hidup ini seperti cuaca: kadang hujan, kadang angin, kadang gelombang.
Tapi manusia yang kuat bukan yang selalu menang, melainkan yang tetap berdiri, walau berkali-kali diterpa.
Selamat menjalani hari, Selamat berjuang dan semoga langkah kita hari ini lebih ringan dari kemarin, Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam Sejahtera Syakhruddin Tagana
