SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pagi ini, Senin yang tenang menyapa kita, hari pertama di pekan keempat bulan Januari. Tanggal 26 Januari 2026 menjadi penanda bahwa roda kehidupan kembali berputar, setelah akhir pekan memberi jeda bagi raga dan jiwa. Kita kembali menata langkah, menyusun niat, dan melanjutkan ikhtiar hingga Sabtu mendatang.
Dalam tarikan napas pagi, ada begitu banyak nikmat yang telah kita kecap: kesehatan, kesempatan, dan waktu yang masih dipinjamkan. Maka, sepantasnyalah lidah ini melafazkan syukur, alhamdulillah, sembari tangan diringankan untuk berbagi.
Terutama kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan yang oleh ukuran statistik negara berada pada desil satu hingga lima, namun oleh nurani kemanusiaan, mereka berada di barisan terdepan untuk diperhatikan.
Mozaik kehidupan hari ini hadir dari serpihan peristiwa yang menyita perhatian jagat maya yang viral dan ramai dibicarakan, namun juga dari kisah-kisah sunyi yang luput dari sorot kamera. Mereka yang bekerja dalam diam, mengabdi tanpa tepuk tangan, berharap lelahnya kelak berbuah pahala dan bernilai ibadah di sisi Sang Khalik
Jauh di timur Nusantara, Raja Ampat kembali menjadi perbincangan. Gugusan surga bahari yang selama ini dielu-elukan dunia, kini dibayangi kekhawatiran. Aktivitas pertambangan nikel mengusik ketenangan kawasan yang dikenal sebagai rumah bagi 75 persen spesies karang dunia dan lebih dari 1.600 spesies ikan.
Penyu sisik yang terancam punah dan pari manta yang anggun seolah menunggu keputusan manusia: menjaga atau menggadaikan masa depan.
Raja Ampat bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah warisan kehidupan. Dinobatkan sebagai UNESCO Global Geopark pada 2023, wilayah ini menyimpan nilai geologi dan ekologi bertaraf internasional. Namun, di tengah gemerlap pengakuan dunia, alam kembali diuji oleh tangan-tangan yang tergesa mengejar keuntungan
Dari upacara duka, kabar kelelahan menyapa. Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mendadak pingsan saat memimpin pelepasan jenazah pegawai KKP yang menjadi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500. Di tengah suasana haru, tubuh pun memiliki batasnya.
Syukurlah, kondisi sang Menteri kini berangsur membaik. Kelelahan fisik disebut sebagai penyebab utama—sebuah pengingat bahwa bahkan mereka yang memikul tanggung jawab besar tetaplah manusia biasa. Ada kalanya tubuh meminta berhenti sejenak, untuk sekadar bernapas dan pulih.
Sementara itu, di Sulawesi Selatan, jalan Trans Sulawesi terhenti oleh gelombang aspirasi. Aksi unjuk rasa terkait pemekaran Kabupaten Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya membuat distribusi BBM lumpuh. Dua belas mobil tangki tertahan, dan masyarakat menanggung dampaknya.
Rahim, warga Luwu Utara, menjadi salah satu saksi. Pertalite menghilang dari SPBU, digantikan harga mencekik di lapak eceran. Empat puluh ribu rupiah per liter, angka yang berat bagi banyak keluarga. Di balik jargon pembangunan dan pemekaran, ada warga kecil yang harus memilih antara kebutuhan dan kemampuan.
Duka mendalam juga datang dari tanah Pasundan. Longsor di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, menyisakan luka kolektif. Hingga Minggu pagi, 98 orang dilaporkan hilang. Dua puluh tujuh kantong jenazah telah dievakuasi—sebagian telah kembali ke pangkuan keluarga, sebagian lain masih menunggu identitasnya ditemukan.
Anjing-anjing pelacak K9 diterjunkan, menyusuri tanah dan puing, mengendus sisa harapan. Di sana, negara hadir melalui tim gabungan, dalam senyap doa dan kerja kemanusiaan yang tak kenal waktu.
Dan jauh di luar batas negeri, di tanah Gaza yang luluh lantak, seorang nenek menanggung beban yang nyaris tak terbayangkan. Ummu Muhammad Aliwa, perempuan renta berusia enam puluhan, kini menjadi ibu bagi 36 cucu yang kehilangan orang tua akibat perang.
Di dalam tenda rapuh di Shujaiyah, ia mengisahkan kehilangan demi kehilangan. Putra sulungnya, Muhammad—tulang punggung keluarga—gugur tertembak saat pergi ke pasar. Duka belum sempat reda, ketika sepuluh menit selepas salat Zuhur, bom kembali jatuh menghantam tenda mereka.
Sekitar tujuh puluh anggota keluarga berada di sana. Ummu Muhammad kehilangan kesadaran, dan baru terbangun lima hari kemudian di rumah sakit tanpa penglihatan, tanpa pendengaran, namun masih dengan sisa kekuatan untuk bertahan demi cucu-cucunya.
Di tengah genosida dan keputusasaan, ia menjadi simbol keteguhan seorang ibu, yang memeluk harapan meski dunia runtuh di sekelilingnya.
Begitulah mozaik kehidupan hari ini. Berlapis duka, diuji oleh kepentingan, namun tetap menyisakan cahaya kemanusiaan. Di antara hiruk-pikuk berita, semoga hati kita tak mengeras.
Sebab pada akhirnya, yang paling abadi bukanlah sensasi, melainkan empati dan keberpihakan pada nilai kemanusiaan itu sendiri.
Salam Takzim : Syakhruddin Tagana
