SYAKHRUDDINNEWS.COM – Hujan seharian kemarin, kembali menulis kisahnya sendiri di jazirah Sulawesi Selatan. Ia jatuh perlahan, kadang deras, membasahi jalanan kota yang tak selalu siap menampungnya. Air menggenang di badan jalan, selokan penuh sampah, drainase tersumbat, seakan kota ikut mengeluh dalam diam. Namun hidup, seperti biasa, tak pernah benar-benar berhenti.
Di balik payung-payung yang mengembang dan jas hujan yang setia melindungi tubuh, warga kota tetap melangkah. Ada yang menuju tempat kerja, ada yang mengantar anak ke sekolah, ada pula yang sekadar membeli sarapan pagi Dalam suasana seperti itulah Mozaik Kehidupan hadir, menjadi teman setia di sela kopi hangat dan roti sederhana, menyajikan serpihan-serpihan cerita yang nyaris terbuang, namun layak dibaca ulang.
Pagi hari ini, perhatian bangsa akan tertuju ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan peluncuran Program Sekolah Rakyat, sebuah ikhtiar negara untuk menyapa mereka yang selama ini tertinggal di pinggir arus pembangunan.
Di Sekolah Rakyat Terpadu 9 Banjarbaru, anak-anak dari keluarga miskin akan menemukan ruang belajar yang layak, sementara orang tua mereka mendapat pendampingan dan pemberdayaan. Pendidikan, dalam gagasan ini, bukan sekadar ruang kelas, melainkan jalan keluar dari kemiskinan yang menahun.
Di sisi lain kehidupan, dapur-dapur rumah tangga Indonesia juga sedang menunggu perubahan. Pemerintah merancang langkah besar: mengganti LPG dengan Dimethyl Ether (DME). Bukan sekadar urusan energi, ini adalah cerita tentang dapur rakyat, tentang api kecil yang menyala setiap pagi.
Ketergantungan pada impor LPG yang mencapai jutaan ton per tahun telah menguras devisa negara. DME, yang bisa diproduksi dari batu bara kalori rendah dan sumber energi lain, diharapkan menjadi jawaban—lebih mandiri, lebih berdaulat. Tabung gas mungkin tetap sama, tetapi kisah di baliknya sedang ditulis ulang.
Sementara itu, dari panggung politik nasional dan global, suara tentang kedaulatan dan kemanusiaan kembali menggema. Dalam Rakernas PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menyinggung Venezuela, kemerdekaan, dan penolakan terhadap kolonialisme gaya baru.
Sebuah pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk politik, ada nilai-nilai universal yang tak boleh pudar: hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.
Di ruang-ruang kelas, kisah lain sedang berlangsung. Program Makan Bergizi Gratis tak hanya soal piring yang terisi, tetapi juga tentang perubahan perilaku. Guru-guru dilibatkan untuk menanamkan kesadaran gizi, agar anak-anak belajar mencintai sayur, lauk, buah, dan susu serta belajar menghargai makanan. Sebab makanan yang tak terbuang adalah tanda kesadaran yang tumbuh.
Namun pendidikan hari ini menghadapi tantangan yang lebih sunyi. Seorang guru SD bernama Sugilah di Bantul, Yogyakarta, melihat murid-muridnya duduk lesu, mata kehilangan binar. Pelajaran Matematika yang dulu memicu rasa ingin tahu kini sering berakhir dengan kebosanan.
Kata-kata Tan Malaka tentang tujuan pendidikan, mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, memperhalus perasaan seakan tergerus oleh gawai dan derasnya arus digital. Sugilah sadar, para guru harus berinovasi, atau tertinggal oleh zaman yang berlari terlalu cepat.
Dan di bawah sebuah jembatan di Gedangan, Sidoarjo, kehidupan menunjukkan wajahnya yang paling telanjang. Achmad Yusuf Afandi, 32 tahun, tinggal di sana bersama bayi kecilnya, Zafa, yang baru berusia 11 bulan.
Beton jembatan menjadi atap, dingin malam menjadi selimut. Setiap hari Yusuf berjuang mencari uang untuk membeli susu, meski sering kali ia sendiri menahan lapar. Kisahnya viral di media sosial—namun jauh sebelum kamera ponsel merekamnya, Yusuf telah lebih dulu berjuang dalam sunyi.
Sementara itu, dari Sulawesi Selatan, kegelisahan datang dari para guru honorer di Kabupaten Gowa. Sebanyak 480 orang terancam gagal diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu. Penyebabnya memilukan: data mereka di database Badan Kepegawaian Negara dilaporkan hilang dan diduga dihapus oleh oknum.
Pendamping guru honorer, Ari Paletteri, menyebut para guru tersebut sebelumnya terdata dalam pendataan non-ASN tahun 2022. Mereka tercatat di Dapodik, sebagian memiliki NUKTK, telah mengikuti PPG, bahkan mengantongi sertifikasi. Masalah baru mencuat saat mereka hendak mengakses akun SSCASN, akun tak lagi bisa dibuka, data lenyap dari sistem.
Di sanalah Mozaik Kehidupan menemukan denyut nadinya. Dari hujan di jalanan kota, kebijakan negara, ruang kelas yang sepi minat, hingga kolong jembatan yang menyimpan harapan seorang ayah.
Semua terajut menjadi satu cerita: tentang manusia yang terus bertahan, berharap, dan melangkah apa pun musim yang sedang melanda. Demikian Mozaik Kehidupan bertutur, menyapa pagi Anda dengan cerita-cerita kecil yang menyimpan makna besar (by.syakhruddin tagana)
