Pagi ini,
Minggu membuka mata dengan rintik hujan
yang kadang menjelma deras,
menahan langkah,
menyuruhku diam dan mendengar.
Dari kejauhan, kabar datang beruntun
angin kencang merobohkan rumah,
atap kehilangan sandaran,
dan manusia belajar kembali
betapa rapuhnya ia tanpa kuasa.
Beginilah alam mengatur ritmenya,
kadang hadir dengan mentari ramah
dan angin sepoi yang menenangkan jiwa,
namun pada saat tertentu
ia bangkit dengan suara keras,
menyapu apa saja yang dilintasinya.
Bukan marah semata,mungkin ia sedang bicara,
bahwa ada tangan-tangan tamak
yang membabat hutan tanpa jeda,
mengusik sunyi tempat satwa
menyimpan hidupnya dengan damai.
Ketika alam terusik,ia pun bereaksi.
Bukan untuk membalas,melainkan mengingatkan.
Maka pagi ini, di balik hujan yang tak kunjung reda,
tugasku hanya satu:
menundukkan hati,
berdoa, dan memohon ampun
kepada Yang Maha Mengatur segalanya.
Sebab hidup memang demikian,
datang silih berganti
tenang dan gelora,
terang dan porak,
semua adalah pelajaran
bagi manusia yang kerap lupa.
syakhruddin tagana
