Inspirasi Pagi Rabu, 31 Desember 2025
Di Ujung Tahun, Kita Belajar Membaca Kehidupan
SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pada akhirnya, kita tiba juga di penghujung tahun. Rabu, 31 Desember 2025, hari terakhir dalam kalender, sebelum esok pagi dunia kembali membuka lembaran baru bernama 1 Januari 2026.
Tahun boleh berganti, tetapi jejak peristiwa, kenangan, dan pelajaran hidup tak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal di ingatan, di hati, dan dalam kesadaran kita sebagai manusia yang terus belajar.
Tahun 2025 telah menghadirkan begitu banyak kisah: tentang pengabdian, harapan, tragedi, penyesalan, juga tentang kemajuan ilmu pengetahuan yang menggetarkan rasa takzim kita pada sejarah manusia. Semua hadir bersamaan, seperti mozaik kehidupan yang tak selalu rapi, tetapi penuh makna.
Di tingkat akar rumput, misalnya, para Pengurus Shelter Warga Kelurahan Pa’baeng-Baeng, Kecamatan Tamalate, menutup tahun dengan cara yang sederhana namun sarat makna. Selasa, 30 Desember 2025, mereka berkumpul dalam refleksi akhir tahun di Baruga Yayasan Gau Madeceng, milik Ny.Andi Yunita Dirham, di kawasan permandian Tanjung Bayang Kota Makassar.
Dalam suasana kebersamaan itu, hadir narasumber utama Hj. Hapidah Djalante, S.IP, bersama para ketua shelter se-Kecamatan Tamalate. Refleksi menjadi ruang jeda:
Menengok kembali kerja-kerja pendampingan warga, menyebut satu per satu tantangan sosial, sekaligus merajut harapan agar tahun depan lebih manusiawi dan berkeadilan. Di ruang sederhana itu, kita belajar bahwa perubahan besar sering lahir dari pertemuan kecil yang tulus.
Masih di hari yang sama, sebuah kabar menggugah datang dari Kota Makassar. Nurhana yang akrab disapa Hana, menerima piagam penghargaan dari Kapolrestabes Makassar atas dedikasi dan pengabdiannya sebagai pendamping dalam berbagai kasus perempuan dan anak.
Penghargaan itu bukan sekadar selembar piagam, melainkan pengakuan atas kerja sunyi yang sering tak terlihat: mendampingi korban, mendengar luka, dan berdiri di sisi mereka yang suaranya kerap terpinggirkan. Dari Hana, kita belajar bahwa keberanian sering tumbuh dalam ketekunan yang senyap.
Namun, akhir tahun juga menghadirkan kisah yang mengiris nurani. Dari Medan, publik dikejutkan oleh peristiwa tragis: seorang siswi kelas 6 SD ditetapkan sebagai anak berkonflik dengan hukum karena membunuh ibu kandungnya.
Polisi menyebutkan bahwa sang anak menunjukkan penyesalan mendalam. Peristiwa ini bukan semata soal hukum, tetapi cermin rapuhnya relasi dalam keluarga, akumulasi luka, dan pentingnya kehadiran negara serta masyarakat dalam perlindungan anak.
Sejalan dengan itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kembali menegaskan komitmen Polri agar cepat merespons setiap pengaduan masyarakat, tanpa harus menunggu viral. Pernyataan ini lahir dari kesadaran bahwa keadilan sejati bukan soal sorotan, melainkan kehadiran nyata saat rakyat membutuhkan.
Duka juga menyelimuti tanah Sulawesi Utara. Kebakaran hebat di Panti Werdha Damai, Kota Manado, merenggut 16 nyawa lansia. Sebanyak 15 korban bahkan harus diidentifikasi melalui uji DNA karena kondisi yang tak lagi memungkinkan dikenali secara visual.
Tragedi ini menyentakkan nurani kita semua: betapa kelompok rentan—para lanjut usia—masih membutuhkan perlindungan yang lebih sungguh-sungguh, bukan hanya empati sesaat.
Namun di tengah kabar duka dan refleksi sosial itu, tahun 2025 juga menghadirkan kabar yang membanggakan dari dunia ilmu pengetahuan. Pulau Sulawesi kembali menjadi pusat perhatian dunia arkeologi.
Penelitian panjang sejak 2013 di Situs Leang Bulu Bettue, Maros–Pangkep, mengungkap jejak kehidupan manusia purba yang hidup pada masa yang sama, sebagaimana dipublikasikan dalam jurnal internasional PLOS.
Penelitian ini melibatkan 30 arkeolog dari BRIN dan Griffith University Australia, dengan arkeolog lokal Basran Burhan sebagai penulis utama.
Lebih dari itu, kawasan karst Maros–Pangkep kembali meneguhkan posisinya sebagai salah satu tonggak peradaban dunia. Lukisan gua di Leang Karampuang—berusia sekitar 51 ribu tahun, diyakini sebagai lukisan figuratif tertua di dunia, bahkan melampaui temuan terkenal di Lascaux, Prancis, dan Altamira, Spanyol.
Dari Sulawesi, manusia purba ternyata telah berbicara kepada dunia lewat seni, jauh sebelum peradaban modern lahir.
Di titik inilah kita tersadar: hidup manusia selalu berada di antara dua kutub—rapuh dan agung. Ada tragedi yang mematahkan hati, ada pengabdian yang menguatkan harapan, ada ilmu pengetahuan yang mengangkat martabat kemanusiaan, dan ada refleksi yang menuntun kita untuk tidak berjalan tanpa arah.
Menutup tahun 2025, semoga kita tak hanya sibuk menghitung capaian, tetapi juga belajar membaca makna. Bahwa setiap peristiwa—sekecil apa pun—mengandung pesan agar kita lebih peduli, lebih adil, dan lebih manusiawi.
Selamat menutup tahun. Mari melangkah ke 2026 dengan hati yang lebih bening, empati yang lebih luas, dan tekad untuk terus menebar kebaikan, dari ruang terdekat hingga semesta yang lebih luas (by.syakhruddin tagana)
