SYAKHRUDDINNEWS.COM – Di sebuah sudut Kota Makassar, ada seorang perempuan yang nyaris tak pernah menolak panggilan kemanusiaan.
Namanya Nurhana, akrab disapa Hana,beralamat di Jalan Lahir di Makassar, 19 Desember 1974, ia tumbuh sebagai perempuan sederhana yang sejak muda telah menaruh perhatian besar pada nasib sesamanya, terutama perempuan yang kerap kehilangan suara dan hak.
Pendidikan terakhirnya diselesaikan di SMK Saribuana Makassar, namun pelajaran hidup yang paling membentuk dirinya justru datang dari realitas sosial yang ia jumpai sehari-hari.
Sejak masih duduk di bangku sekolah, kepedulian itu sudah tumbuh. Ia melihat begitu banyak perempuan yang tak tahu harus ke mana ketika hak-haknya terabaikan, ketika kekerasan datang tanpa perlindungan, dan ketika keadilan terasa terlalu jauh untuk dijangkau.
Dari rumah tangganya bersama Hamsari Dg Bella, Hana dikaruniai empat orang anak, semuanya laki-laki. Di tengah perannya sebagai ibu, ia tak pernah berhenti menjadi “ibu sosial” bagi banyak perempuan lain.
Pengabdian itulah yang kemudian membawanya aktif di berbagai organisasi sosial kemasyarakatan. Tempaan organisasi memperkuat wataknya: berani, tangguh, dan berpihak pada mereka yang lemah.
Tak jarang, Hana turun ke jalan, ikut menyuarakan aspirasi masyarakat miskin, terutama menyangkut hak-hak perempuan. Ia tak mengenal lelah.
Baginya, membela korban bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan panggilan hati. Dari situlah langkahnya semakin mantap melakukan pendampingan korban, baik di tingkat Polsek hingga Polrestabes Makassar.
Hubungannya dengan aparat penegak hukum pun terbangun secara alami. Ia dikenal sebagai pendamping yang tegas namun komunikatif.
Kadang ia hadir sebagai pendamping perempuan korban kekerasan, kadang pula sebagai edukator yang menyambangi komunitas perempuan dan anak hingga ke wilayah pesisir.
Waktunya sering habis di kantor polisi, bahkan hingga larut malam, sering kali harus meninggalkan anak-anaknya di rumah demi memastikan seorang korban tidak merasa sendirian menghadapi proses hukum.
Kerja-kerja sunyi yang dilakukan dengan ketulusan itulah yang akhirnya berbuah apresiasi. Pada 30 Desember 2025, Hana menerima penghargaan dari Kapolrestabes Makassar sebagai perempuan yang dinilai konsisten dan berdedikasi dalam pendampingan korban serta edukasi perlindungan perempuan dan anak.
Sebuah pengakuan atas pengabdian yang selama ini ia jalani tanpa pamrih.
Rasa syukur kian lengkap ketika dalam proses penjaringan ASN, Hana dinyatakan lulus dan diterima sebagai staf di Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar.
Di bawah kepemimpinan drg. Ita Isdiana Anwar, M.Kes, ia mendapatkan ruang lebih luas untuk terlibat langsung dalam penanganan berbagai kasus, termasuk yang menjadi perhatian publik.
Bagi Hana, jabatan hanyalah alat. Ketika ada informasi tentang perempuan atau anak yang membutuhkan pendampingan, naluri kemanusiaannya langsung bergerak.
Dengan sepeda motor tuanya, ia melaju tanpa banyak pertimbangan. Rekan-rekannya di kantor bahkan menjulukinya dengan penuh keakraban sebagai “Jatanras DP3A”, karena kecepatan dan keberaniannya menjangkau lokasi kasus
“Kalau sudah dengar ada perempuan atau anak yang butuh pendampingan, jiwa Hana langsung menyala,” ungkap Hj. Hapidah Djalante, S.IP, salah seorang kepala bidang di DP3A Kota Makassar, tempat Hana bertugas secara
Di balik penghargaan, jabatan, dan pujian, Hana tetaplah perempuan sederhana yang bekerja dengan hati.
Ia percaya bahwa keadilan harus diperjuangkan, bukan ditunggu. Dan selama masih ada perempuan serta anak yang membutuhkan perlindungan, langkahnya akan terus berjalan, meski pelan, meski lelah, tetapi selalu tulus (sdn)


Teruslah menjadi manusia yg bermanfaat bagi banyak orang.
Semoga Bu Hana sehat selalu, murah rezeki dan jauh dari segala mara bahaya. Aamiin YRA.