SYAKHRUDDINNEWS.COM – Di antara riuh percakapan di grup WhatsApp Perintis Tagana Indonesia, Sabtu pagi, 30 November 2025, terselip sebuah pesan yang membuat seluruh layar ponsel terasa berat untuk dibaca:
“Telah berpulang ke rahmatullah Bapak Hartono Bin Siswoyo (65 tahun). Rumah duka: Jalan Pratama No. 45 RT 5/3, Ceger.” Kecamatan Cipayung Kota Jakarta Timur Kawasan Taman Mini Indonesia.
Dalam hitungan menit, kabar itu menyebar ke berbagai grup Tagana se-Indonesia. Dari Aceh hingga Papua, para sahabat yang pernah berdiri satu barisan menangkap kabar duka itu dengan hati yang runtuh.
Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya, sosok yang kami sebut dengan penuh hormat: Pendekar Tagana Indonesia.
Lahir 28 April 1960, wafat Minggu 30 November 2025. Namun yang tertulis di batu nisannya hanyalah tanggal. Yang tidak tertulis adalah sejarah panjang pengabdiannya, dedikasi yang tidak pernah padam, dan cinta tanpa batas untuk Tagana Indonesia.
Figur yang Tak Pernah Mengenal Kata Lelah
Sejak masa persiapan pembentukan Tagana di Kementerian Sosial, Salemba Raya, almarhum telah mengabdikan waktu, tenaga, dan jiwanya.
Di bawah kepemimpinan Panglima Tagana Indonesia, Bapak Andi Hanindito, beliau selalu hadir, bukan sekadar hadir, tetapi menjadi roh dari setiap pelaksanaan kegiatan.
Mulai dari tahap awal hingga penutupan, baik kegiatan yang berskala lokal hingga nasional:
Jambore Cibubur, Palembang, Makassar, dan banyak lagi yang sulit disebutkan satu per satu.
Ia adalah bagian penting dalam tim yang digawangi oleh Pak Iyan Kusmadiana, Adox dan Syafei, dan sejumlah instruktur lain, nama-nama yang kini ikut tertunduk dalam duka.
Namun jejak yang paling membekas adalah pada masa perjuangan Perintis Tagana 2004 di Lembang dan Pengukuhan 2006. Saat ratusan perintis diminta menempuh perjalanan kaki dari Hotel Lembang, menyusuri jalur Tangkuban Perahu, lalu kembali ke markas, beliau selalu berada di barisan paling depan, memimpin, menuntun, dan menyemangati.
Kami tahu, sejak saat itu hingga akhir hayatnya, Tagana telah menjadi bagian dari darahnya sendiri.
Perjuangan di Tengah Sakit
Tak ada yang mampu mematahkan semangatnya bahkan penyakit sekalipun. Meski tubuhnya menua dan harus menjalani cuci darah berulang kali, ia tetap mengikuti perkembangan Tagana, tetap hadir jika dibutuhkan, tetap menjadi pengayom yang tak pernah ingin mengecewakan siapapun.
Semangat itu begitu kuat, hingga Tuhan sendiri yang akhirnya memintanya kembali.
Selamat Jalan, Pendekar
Hari ini, jenazah beliau terbujur kaku, disaksikan para sahabat dan keluarga yang mencintainya tanpa syarat.
Di ruangan duka itu, kami tak hanya kehilangan sahabat.
Kami kehilangan saudara seperjuangan.
Kami kehilangan bagian dari sejarah yang melahirkan Tagana Indonesia.
Namun kami percaya, sorga telah menantimu, wahai sahabat.
Jerih payahmu, air matamu, kecintaanmu pada kemanusiaan tidak hilang begitu saja.
Ia akan terus hidup di dada setiap anggota Tagana yang pernah kau sentuh dengan ketulusanmu.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Selamat jalan, Pendekar Tagana Indonesia.
Namamu akan selalu kami sebut, sejarahmu akan terus kami kenang, dan perjuanganmu akan menjadi suluh bagi generasi Tagana yang datang setelahmu (sdn)



