Puisi: Selamat Tinggal Anakku
(Terinspirasi dari peristiwa 15 Juli 2025 di Surabaya)
Di Surabaya, sebuah duka mengalir diam-diam,
Empat anak bersaudara menggelar penyerahan,
Bukan emas, bukan warisan,
Tapi sosok yang dulu menimang mereka dengan pelukan hangat
Ibunya sendiri.
“Tak sanggup kami merawat,”
Begitu bunyi pernyataan yang menggugurkan cinta,
“Kelak jika ia tiada, tak perlu beri kabar…”
Kalimat itu lebih dingin dari angin kamar rawat.
Empat anak, satu ibu dan tak satu pun bersedia tinggal bersamanya.
Kini, di Griya Lansia Malang,
Kami menyambutnya, dengan pelukan hangat yang sempat hilang,
Kami tahu luka itu dalam,
Tapi kami akan merawatnya… dengan tulus dan tanpa bayaran.
Ibu itu tersenyum lirih, menahan genang air mata,
Sambil berkata dalam hatinya:
“Selamat tinggal, anakku tercinta,”
“Dulu aku menyuapimu di tengah malam, menggendongmu dalam demam.”
“Kini engkau dewasa, berkeluarga, mapan pula,”
“Tapi tak ada ruang untukku di sisa usia.”
“Biarlah aku pergi ke tempat asing yang lebih mengerti kasih,”
“Tak mengapa jika dunia maya menghakimi atau memaki,”
“Karena hatiku telah remuk, bukan oleh siapa-siapa… tapi oleh darah daging sendiri.”
“Terima kasih, anakku… walau pahit,
Aku tetap menyayangimu seperti dulu.
“Dan begitulah cinta seorang ibu…
Meski ditinggalkan, ia tetap mendoakanmu.
Makassar, 25 Juli 2025
Syakhruddin Perawat Lansia
