Di tanah asing yang tak ramah,
Langkah-langkah kami terayun lelah,
Bukan demi kemewahan,
Tapi sekadar sesuap harapan.
Dengan ijazah seadanya,
Kami tinggalkan kampung dan keluarga,
Mengejar janji kehidupan lebih layak,
Agar anak-anak kami tak mewarisi gelap kami yang malang.
Kami bertaruh nyawa di ladang asing,
Menggenggam luka, menelan sepi,
Berpijak di tanah yang tak sudi,
Namun terus bertahan, demi masa depan yang kami titipi.
Kami bukan tamu kehormatan,
Kami hanya angka dalam laporan devisa,
Kami bukan cendekia, hanya pemeras keringat,
Yang memilih otot saat otak tak cukup kuat.
Dan saat usia tak lagi muda,
Kami pulang, tak dijemput hormat,
Tak ada pelukan negara,
Hanya sunyi yang menyambut langkah tua.
Purna buruh migran, selayaknya pejuang,
Tapi jari-jari kekuasaan tak juga menunjuk kami,
Bantuan lenyap, hak dilenyapkan,
Identitas anak-anak kami pun dipersulit,
Seakan kami tak layak punya mimpi.
Namun kami tetap berdiri, meski ringkih,
Dengan dada lapang dan kepala tegak,
Sebab kami tahu:
Tak semua pahlawan memakai seragam,
Sebagian memikul cucian dan menyeka luka,
Di negeri jauh, demi cinta dan cita.
Dalam resonansi kehidupan
Diantara lelehan keringat dan air mata
Makassar, 6 Mei 2025
Ramlah di Tapal Penantian
