SYAKHRUDDIN.COM – Enrekang, salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, terkenal dengan hamparan pegunungan luasnya. Salah satu gunung yang cukup terkenal di daerah ini adalah Gunung Nona Bambapuang, yang memiliki permukaan yang menyerupai alat kelamin wanita.
Namun, di balik keunikannya, Gunung Nona Bambapuang, yang juga dikenal sebagai Buntu Kabobong oleh masyarakat Sulsel, memiliki cerita tersendiri yang hingga saat ini masih dijaga kesakralannya.
Menurut Kakek Aswar, seorang warga asli Kabupaten Enrekang yang tinggal dekat dengan kaki gunung tersebut, bentuk permukaan Buntu Kabobong yang menyerupai alat kelamin wanita tidak terjadi begitu saja.
Menurut cerita rakyat, pada zaman dahulu, di kaki gunung ini terdapat sebuah kerajaan yang disebut Kerajaan Tindalun. Kerajaan ini dikenal karena masyarakatnya yang hidup dalam kesuburan alam.
Suatu hari, seorang anak laki-laki yang sangat tampan dan memiliki kulit putih yang bersih muncul.
Anak ini diyakini datang dari langit dan dikenal sebagai “To Mellao Ri Langi.” Anak ini pertama kali ditemukan oleh seorang ibu cantik bernama Masaang, warga dari Kampung Tindalun.
Masaang dan masyarakat lainnya penasaran ketika melihat api yang menyala di sekitar kampung pada malam hari. Mereka mendekati sumber api tersebut dan menemukan anak tersebut tidak jauh dari situ.
Anak ini memiliki kelebihan fisik yang menarik, disebut “To Malabbi,” yang membuat Masaang dan masyarakat lainnya terkagum-kagum. Mereka membawa anak ini pulang ke kampung Tindalun dan Masaang mengasuhnya.
Beberapa tahun kemudian, anak tersebut tumbuh dewasa dan dijodohkan dengan putri raja dari Kerajaan Tindalun, yang juga sangat cantik. Keduanya menikah dan memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Kalando Palapana.
Kalando Palapana kemudian mewarisi tahta Kerajaan Tindalun dan memimpin masyarakat di Kampung Tindalun, yang menjadi makmur berkat limpahan hasil alamnya.
Namun, kesuburan alam ini membuat masyarakat Tindalun lupa diri dan hidup dalam kenikmatan tanpa mematuhi norma agama maupun adat yang berlaku.
Perilaku seks bebas menjadi lazim di masyarakat Tindalun, tanpa mengenal waktu. Raja menjadi gelisah melihat perilaku menyimpang ini bahkan menyebar ke kerabatnya.
Meski raja telah berusaha keras, perilaku masyarakat semakin buruk. Akibatnya, Tuhan murka dan menghukum masyarakat Tindalun dengan bencana yang menghancurkan kampung tersebut.
Salah satu hasil kutukan tersebut adalah Gunung Nona Bambapuang yang menyerupai alat kelamin wanita, yang kemudian dikenal sebagai Buntu Kabobong.
Di sebelahnya juga terdapat gunung yang menyerupai alat kelamin pria, dipisahkan oleh sebuah anak sungai.
Cerita ini memiliki pesan moral yang kuat, yaitu untuk mengingatkan manusia agar tidak melakukan hubungan seks di luar nikah, karena dalam agama, itu dianggap sebagai dosa besar yang berpotensi mendatangkan azab (sdn)
