SYAKHRUDDIN.COM – Hallo ….. ada yang bisa saya bantu ??? demikian pertanyaan Penulis, saat menjawab telepon tak terjawab yang dikirim Ustaz Abd. Latif, Ketua Jurusan (Kajur) Jurnalistik pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Senin malam 11 Oktober 2021.
“Saya ada di Al – Abrar, dimana posisi Pak Haji ???” di rumah ustaz, jawabku … !
Penulis lalu mengirimkan sherlock dan sejurus kemudian, Ustaz Latif sudah berada di depan pintu pagar, sembari melihat rumah No. 6 serta mencari motor yang biasanya kugunakan ke kampus, Si Putih dengan nomor polisi DD 5157 SS.
Plat nomor yang biasa kusapa Si Putih, DD 5157 SS bermakna ; Sang pemilik lahir tanggal 5-1-1957 , akhirnya terpasang DD 5157 sedang dua kode SS dibelakangnya, berarti Saya Syakhruddin, ada-ada saja.
Setelah Ustaz Latif duduk sejenak, sembari ceritera tentang sejak kapan tinggal di kawasan Andi Tonro, Penulis jawab sejak 1963 tinggal disini Ustaz, Ustaz Latif lalu memanggil ibu ke ruang tamu.
Di ruang tamu, Sang Ustaz menatap kearah mata isteriku dengan tatapan tajam, kemudian mempersilakan isteri saya mengangkat tangan kiri secara perlahan.
Sejurus kemudian, lalu diarahkan mengangkat empat jarinya, sambal digerak-gerakkan dengan pelan. Semua instruksi bisa dilaksanakan dengan baik.
“Baik, Pak haji, ini bukan murni stroke “
Sepanjang pengalaman saya, kalau terserang “Stroke” tidak begini kondisinya.
Pak Kajur, lalu meminta ke ruang tengah, dan mempersilakan sang isteri tidur dengan kepala bagian utara.
Tak lama kemudian, Pak Kajur Jurnalistik, H. Abd. Latif mengambil posisi pada bagian kaki, seraya memegang ke jari kakinya, tertunduk khusyu, sementara mulutnya komat-kamit membaca mantra mandraguna.
Suara sayup-sayup sampai, sepertinya sedang membaca ayat al-quran dengan penuh ke-khusyu-an.
Kemudian mempersilakan sang isteri :
Silakan istigfar ……. !!! lalu syahadat !!! kemudian ikuti saya ya bu !!! demikianlah perintahnya
Di saat sedang dalam posisi tafakur, sembari menekan kedua jari kakinya, tiba-tiba Sang isteri menangis tersedu-sedu dan berbicara layaknya seorang nenek tua.
“Tidak….tidak…..!!! Kenapa kamu sakiti hamba Allah, Hj. Nurlia ???
“Saya sakit hati, karena waktu saya menawarkan penjualan es krim di tokonya, dia menolak !!! Padahal anaknya sudah memesan langsung ke saya ???
Tapi kenapa kamu paksakan, kalau orang tidak mau ???
Itulah yang membuat saya kecewa, jadi saya sakiti !!!
Kapan kamu masuk ke tubuhnya Hj. Nurlia ??? tanya Ustaz yang dijawab, Jumat 1 Oktober 2021.
Jadi bagaimana mau-mu ??? mau pulang atau saya bakar disini ???
Mau pulang Ustaz !!! Ya … pulang mako Nah !!!
Mau kuantar atau pulang sendiri ??? pulang sendiri !!!
Tapi perbaiki dulu kaki dan tangannya Hj. Nurlia !!! Sembari kepala sang isteri di pijat keras.
Ampun Ustaz ??? mau ma pulang ….. !!! Iyo pulang memang ko nah.
Mau ku antar atau pulang sendiri !!! pulang sendiri.
Oke, cabut dirimu dari tubuh Hj. Nurlia, hamba Allah yang taat beragama.
Kalau tidak, saya bakar kamu disini, jangan Ustaz, pergi ma …!!!
Begitulah kondisi tanya jawab, antara Ustaz Latif dengan sang Nenek Tua, kegiatan itu pun di rekam melalui perangkat HP yang dimiliki sang Penulis.
Kesimpulannya, dari peristiwa diatas, dapat ditarik sebuah pengalaman hidup, bahwa hanya dengan di tolak barang titipannya untuk jualan es di kios 2 Mei, maka penawaran tersebut berakhir dengan menggunakan ilmu untuk melumpuhkan orang lain.
“Sebuah sikap yang kurang terpuji dan tidak menyandarkan akan kebesaran ilahi Rabbi “
Di era digital dewasa ini, masih juga ada yang memanfaatkan ilmu-ilmu seperti ini, untuk menyakiti lawan, atau orang-orang yang menjadi seterunya, percaya atau tidak …… ini rekamannya.
Berikut ini rekaman pemberitaannya !!!
