SYAKHRUDDINNEWS.COM – Jumat petang itu, langit Pa’Baeng-Baeng belum sepenuhnya gelap. Di Aula STIE Dharma Nusantara, Jalan Kumala II, kursi-kursi telah tersusun rapi, menunggu satu peristiwa penting yang selalu dinanti warga:
Musyawarah Perencanaan Pembangunan, Bukan sekadar forum resmi, tetapi ruang tempat mimpi-mimpi kecil masyarakat mencari jalan agar kelak menjadi nyata.
Ketika lagu Indonesia Raya berkumandang, hadirin berdiri khidmat. Ada camat, lurah, anggota dewan, tokoh agama, hingga ketua-ketua RT dan RW yang baru dilantik, semuanya larut dalam suasana yang sama: harap.
Doa yang dilantunkan Ustaz Syamsuddin memulai pembuka acara, seolah menitipkan seluruh ikhtiar sore itu kepada Yang Maha Kuasa.
Camat Tamalate, H. Emil Yudiyanto Tajuddin, SE, M.Si, membuka Musrenbang dengan nada yang menyejukkan. Ia menyebut forum ini sebagai awal dari mimpi-mimpi masyarakat, mimpi yang tidak boleh berhenti sebagai daftar usulan, tetapi harus diperjuangkan agar menjelma program nyata.
Ia juga mengingatkan realitas anggaran: dana kelurahan yang dahulu Rp500 juta kini menjadi Rp300 juta. Namun keterbatasan, katanya, bukan alasan untuk berhenti. Masih ada ruang dari dana sektoral dan pokok pikiran dewan yang bisa disinergikan.
Di sisi lain, Lurah Pa’Baeng-Baeng, Ibardarmadi, S.IP, menyampaikan hasil kerja kolektif warga. Dari pramusrenbang tingkat ORW, 142 usulan berhasil dijaring. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan potret kebutuhan sehari-hari masyarakat : jalan, drainase, layanan sosial, kesehatan, Pendidikan, semua berangkat dari denyut hidup warga sendiri.
Sore itu juga menjadi momen kebanggaan. Camat Tamalate memberikan apresiasi atas prestasi Shelter Warga Pa’Baeng-Baeng yang meraih juara pengelolaan administrasi shelter tingkat Kota Makassar. Sebuah bukti bahwa kerja sunyi, jika dilakukan dengan tertib dan konsisten, akan menemukan panggungnya sendiri. Pa’Baeng-Baeng pun menyusul Kelurahan Maccini Sombala sebagai wilayah berprestasi.
Dari kursi undangan, Hj. Irmawati Sila, SE, anggota DPRD Kota Makassar Dapil V, berbicara lugas. Ia menyinggung kegiatan pokok pikirannya yang telah dilaksanakan di dua titik kelurahan.
Reses, katanya, bukan sekadar kewajiban politik, melainkan ruang mendengar langsung keluh kesah warga. Ia menutup dengan ajakan sederhana namun penting: bersinergi, karena pembangunan tak bisa dikerjakan sendiri-sendiri.
Musrenbang semakin hidup ketika satu per satu perwakilan OPD mengambil peran—Dinas Sosial, Koperasi, PU, Perhubungan, Kesehatan melalui Kapus Jongaya, Dinas Pendidikan, Perpustakaan, Lingkungan Hidup, hingga Perikanan dan Peternakan. Mereka bukan hanya menyosialisasikan program, tetapi juga mencatat, mendengar, dan menyerap harapan warga.
Hingga acara mendekati puncak, aula tetap dipenuhi semangat partisipasi. Tripilar, Ketua PKK, Ny.Ibardarmadi yang duduk di sofa depan, tokoh masyarakat, tokoh agama, para ketua ORT dan ORW, serta perwakilan Shelter Warga duduk dalam satu barisan kepedulian.
Puncaknya ditandai dengan penyerahan piagam penghargaan dari Kepala Dinas DP3A Kota Makassar, yang diterima langsung oleh Lurah Ibardarmadi. Tepuk tangan pun mengalir, bukan hanya untuk sebuah piagam, tetapi untuk kerja kolektif yang pelan-pelan menumbuhkan harapan.
Petang itu, Musrenbang Pa’Baeng-Baeng selesai digelar. Namun sesungguhnya, perjalanan baru saja dimulai. Di balik daftar usulan dan sambutan resmi, ada mimpi-mimpi warga yang kini telah menemukan alamatnya.
Tinggal menunggu waktu, kerja, dan komitmen, agar mimpi itu benar-benar pulang menjadi pembangunan yang dirasakan bersama (sdn)



