SYAKHRUDDINNEWS – Hari Selasa adalah hari yang mengajarkan tentang keberanian untuk melanjutkan perjuangan. Jika Senin identik dengan langkah awal setelah menikmati waktu bersama keluarga.
Maka Selasa menjadi momentum untuk menjaga ritme, menguatkan komitmen, dan membuktikan bahwa semangat bukan hanya muncul di awal pekan, tetapi terus dipelihara hingga tujuan tercapai.
Secara etimologis, kata Selasa berasal dari bahasa Arab ats-tsulātsā‘ (الثلاثاء) yang berarti “tiga”, karena dalam tradisi Arab hari ini berada pada urutan ketiga dalam sepekan setelah Ahad dan Senin.
Dalam tradisi Nusantara yang dipengaruhi kebudayaan Hindu, hari Selasa juga dikenal dengan nama Anggara, berasal dari bahasa Sanskerta yang merujuk kepada planet Mars, lambang keberanian, keteguhan, semangat juang, dan energi yang kuat.
Dalam standar internasional ISO 8601, Selasa merupakan hari kedua dalam pekan yang dimulai pada Senin. Sementara dalam kebiasaan masyarakat Indonesia yang memulai hitungan pekan dari Ahad atau Minggu.
Selasa menjadi hari ketiga. Perbedaan ini tidak mengubah makna filosofisnya: Selasa adalah hari untuk bekerja dengan konsisten, memperkuat disiplin, dan menjaga kualitas ikhtiar.
Bagi seorang pelajar, Selasa adalah kesempatan memperdalam ilmu. Bagi seorang pekerja, Selasa adalah waktu meningkatkan produktivitas.
Bagi seorang pemimpin, Selasa menjadi saat yang tepat memastikan program berjalan sesuai rencana. Sedangkan bagi setiap insan beriman.
Selasa adalah hari untuk terus menebarkan manfaat, memperbanyak amal saleh, serta menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Sesungguhnya keberhasilan bukan ditentukan oleh seberapa hebat seseorang memulai, tetapi oleh kemampuannya menjaga istiqamah dalam setiap langkah.
Selasa mengingatkan kita bahwa perjalanan menuju keberhasilan memerlukan ketekunan, kesabaran, dan konsistensi yang tidak pernah putus.
Peristiwa Penting 28 Juli dalam Sejarah; Tanggal 28 Juli menyimpan sejumlah peristiwa penting yang tercatat dalam sejarah dunia maupun Indonesia, di antaranya:
1914 – Austria-Hongaria menyatakan perang terhadap Serbia, menandai dimulainya Perang Dunia I, konflik global yang mengubah peta politik dunia.
1945 – Sebuah pesawat pengebom B-25 Amerika Serikat menabrak Empire State Building di New York akibat kabut tebal, menewaskan 14 orang.
1976 – Gempa bumi besar melanda Tangshan, Tiongkok, menewaskan ratusan ribu jiwa dan menjadi salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah modern.
Komentar MoKa; Selasa mengajarkan bahwa kehidupan bukanlah perlombaan yang dimenangkan oleh mereka yang berlari paling cepat.
Melainkan oleh mereka yang tetap melangkah ketika banyak orang mulai kehilangan semangat. Konsistensi adalah kekuatan yang sering kali tidak terlihat, tetapi justru menjadi fondasi lahirnya keberhasilan.
Mari menjadikan Selasa ini sebagai ruang untuk memperbaiki niat, memperhalus akhlak, memperkuat kerja, dan memperluas manfaat bagi sesama.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena banyaknya rencana yang dibuat, melainkan karena karya, keteladanan, dan kebaikan yang berhasil diwujudkan.
Pantun Pembuka
Hari Selasa membawa nikmat,
Mentari pagi bersinar ceria.
Mari bekerja penuh semangat,
Menebar manfaat bagi sesama.
Kematian Sutrimo yang ditemukan tak sadarkan diri di halaman Klinik Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis 23 Juli 2026 hingga kini masih menyisakan tanda tanya.
Setelah dievakuasi menggunakan ambulans ke RS Muhammadiyah Taman Puring, pihak rumah sakit menyatakan bahwa Sutrimo telah meninggal dunia saat tiba di instalasi gawat darurat.
Kepolisian Polda Metro Jaya kini membuka penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban, dengan mengumpulkan keterangan saksi serta berbagai barang bukti yang dapat menjelaskan rangkaian peristiwa sebelum Sutrimo ditemukan.
Peristiwa ini mengingatkan bahwa setiap kematian yang belum memiliki penjelasan harus ditangani secara profesional, objektif, dan berbasis bukti.
Masyarakat diharapkan tidak terburu-buru menarik kesimpulan atau menyebarkan spekulasi yang belum terverifikasi.
Biarlah proses penyelidikan berjalan secara transparan sehingga kebenaran dapat terungkap, memberikan kepastian hukum sekaligus rasa keadilan bagi keluarga korban dan masyarakat.
Komen Moka : Kematian yang masih menyisakan misteri hendaknya disikapi dengan kepala dingin dan penuh empati. Di tengah derasnya arus informasi.
Masyarakat sebaiknya tidak terjebak pada spekulasi yang belum terbukti, melainkan memberikan ruang bagi aparat untuk bekerja secara profesional dan transparan.
Mengungkap penyebab kematian bukan hanya demi kepastian hukum, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap hak korban dan keluarganya untuk memperoleh kebenaran dan keadilan.
Dugaan pelecehan terhadap seorang polisi wanita (Polwan) di lingkungan Polda Sumatera Barat menjadi sorotan publik setelah korban memberanikan diri mengungkap pengalaman yang dialaminya.
Korban mengaku peristiwa tersebut terjadi di ruang kerja atasannya ketika sedang menjalankan tugas. Kasus itu kemudian dilaporkan melalui jalur resmi dan kini tengah diproses oleh institusi kepolisian.
Menyikapi perkara tersebut, Kapolda Sumatera Barat memberikan perintah tegas agar penyelidikan dilakukan secara profesional, transparan, dan tanpa pandang bulu. Apabila terbukti bersalah, pelaku dipastikan akan dikenai sanksi sesuai ketentuan hukum dan kode etik Polri.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa setiap anggota kepolisian, tanpa memandang pangkat maupun jabatan, memiliki hak atas rasa aman dan perlindungan dari segala bentuk kekerasan atau pelecehan.
Keberanian korban untuk melapor diharapkan menjadi langkah penting dalam membangun budaya kerja yang menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, serta penghormatan terhadap martabat setiap personel.
Penanganan yang adil dan transparan akan menjadi tolok ukur kepercayaan masyarakat terhadap komitmen Polri dalam menegakkan hukum di lingkungan internalnya.
Komentar MoKa: Dugaan pelecehan seksual di lingkungan kepolisian menjadi ujian nyata bagi integritas institusi penegak hukum.
Keberanian korban untuk melapor patut dihargai dan harus diikuti dengan penanganan yang profesional, transparan, serta berpihak pada keadilan.
Kepercayaan publik tidak lahir karena sebuah institusi bebas dari masalah, melainkan karena keberanian menindak setiap pelanggaran tanpa pandang bulu dan menjaga martabat hukum di atas kepentingan siapa pun.
Sejumlah biarawan dari Ordo Fratrum Minorum (OFM), sebuah tarekat dalam Gereja Katolik, mengikuti kegiatan pembelajaran dan hidup bersama di Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut, Jawa Barat, yang dikenal sebagai pesantren berbasis pelestarian lingkungan.
Saat ditemui pada akhir Desember 2024, para biarawan tersebut tidak hanya terlibat dalam dialog lintas agama dengan para santri dan pengasuh pesantren, tetapi juga mempelajari berbagai praktik pelestarian alam, pertanian berkelanjutan, serta nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan yang dikembangkan melalui konsep green Islam.
Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan yang memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap bumi merupakan tanggung jawab bersama, melampaui perbedaan agama, budaya, dan keyakinan.
Melalui semangat saling belajar dan menghormati, pesantren dan para biarawan menunjukkan bahwa kolaborasi lintas iman dapat menjadi kekuatan nyata dalam membangun perdamaian, memperkuat toleransi, serta menjaga kelestarian alam demi generasi yang akan datang.
Komentar MoKa ; Perjumpaan para biarawan OFM dengan Pesantren Ekologi Ath-Thaariq menjadi gambaran indah bahwa perbedaan keyakinan tidak harus menjadi sekat untuk saling belajar dan bekerja bersama.
Dari tempat yang sederhana di Garut, lahir pesan besar bahwa menjaga bumi adalah panggilan kemanusiaan yang dimiliki semua orang. Agama tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana manusia merawat ciptaan-Nya.
Ketika biarawan Katolik belajar tentang green Islam di pesantren, dan pesantren membuka ruang dialog dengan penuh persaudaraan,
sesungguhnya mereka sedang menanam benih toleransi, kedamaian, dan kepedulian lingkungan. Inilah wajah keberagaman Indonesia yang sesungguhnya: berbeda dalam keyakinan, namun bersatu dalam kebaikan.
Selamat jalan, Saudara Bachtiar M. Nur. Kepergianmu meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga besar Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Makassar, khususnya Angkatan 2009.
Engkau telah menunaikan amanah kemanusiaan dengan penuh keikhlasan, hadir di tengah masyarakat saat bencana datang, mengulurkan tangan ketika harapan mulai redup, dan mengabdikan diri tanpa banyak meminta penghargaan. Kini, tugas dan pengabdianmu di dunia telah usai.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Allah SWT telah memanggilmu kembali ke hadirat-Nya. Semoga segala amal bakti, pengorbanan, dan jejak kebaikanmu menjadi pahala yang terus mengalir, diampuni segala khilaf, dilapangkan alam kuburmu, serta ditempatkan di sisi-Nya bersama orang-orang yang beriman.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT melimpahkan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan dalam menghadapi ujian ini. Selamat jalan, sahabat. Namamu akan selalu hidup dalam kenangan dan semangat pengabdian keluarga besar Tagana Kota Makassar.
Pembaca setia Mozaik Kehidupan (MoKa); Sampai di sini jumpa kita hari ini. Berbagai kisah, peristiwa, dan renungan kehidupan telah kita rangkai bersama dalam ruang sederhana bernama MoKa.
Jika tidak ada aral melintang, insya Allah esok hari kita kembali bersua dengan sajian informasi lain yang tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mengajak kita merenung tentang makna perjalanan hidup.
Teruslah berjuang demi hari esok yang lebih baik. Jangan pernah menggantungkan harapan pada sisa perjuangan orang lain, sebab setiap insan memiliki kesempatan untuk menciptakan jejak dan keberhasilan dengan tangan sendiri.
Seperti ungkapan bijak yang mengingatkan kita: “Pantang pisang berbuah dua kali, pantang pemuda memakan sisa.” Jadilah pribadi yang mandiri, kreatif, dan terus bergerak maju menghadapi perubahan zaman.
Sebelum kita berpisah, izinkan MoKa menitipkan sebuah pantun:
Pergi ke pasar membeli selasih,
Singgah sebentar di tepi perigi.
Jangan menyerah walau langkah letih,
Terus berkarya mengukir prestasi.
Tetaplah menebar kebaikan, menjaga kepedulian, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Karena hidup bukan hanya tentang apa yang kita terima, tetapi juga tentang apa yang kita tinggalkan sebagai warisan kebaikan.
Sampai jumpa di Mozaik Kehidupan berikutnya. Salam hangat, tetap sehat, tetap semangat, dan teruslah berkarya.



