SYAKHRUDDINNEWS.COM– Jumat bukan sekadar pergantian hari dalam kalender. Bagi umat Islam, Jumat adalah hari untuk berkumpul, mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, bersalawat, dan menata kembali kehidupan. Bahkan Al-Qur’an secara khusus mengabadikan nama hari ini dalam Surah Al-Jumu’ah.
Allah berfirman dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 9: “Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”Ayat berikutnya mengingatkan bahwa setelah salat selesai, manusia kembali bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia Allah.
Pesannya sangat indah: Jumat mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Untuk sementara, kesibukan dihentikan ketika panggilan Allah terdengar.
Setelah ibadah selesai, kita kembali bekerja, berkarya dan mencari rezeki dengan tetap mengingat Allah. Jadi, keberkahan Jumat bukan hanya berada di masjid, tetapi juga ketika ilmu, rezeki, tenaga dan waktu digunakan untuk kebaikan.
Mengenang 9 Oktober dalam Lintasan Sejarah; Tanggal 9 Oktober menyimpan sejumlah catatan sejarah. Di Indonesia, tanggal ini dikaitkan dengan Geger Pecinan 1740, sebuah episode kelam dalam sejarah Batavia yang kemudian berkembang menjadi konflik panjang.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa konflik sosial meninggalkan luka panjang dan pentingnya membangun kehidupan yang damai serta saling menghormati. Pada 9 Oktober 1945, pasukan Sekutu yang disertai NICA tiba di Medan, menjadi bagian dari rangkaian pergolakan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sejarah itu seperti cermin. Ada perjuangan, konflik, kehilangan, tetapi juga ada kebangkitan. Jumat mengajarkan kita untuk tidak hanya mengingat masa lalu, tetapi mengambil hikmah darinya: memperbanyak syukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diuji, dan berusaha agar hari esok lebih baik daripada hari kemarin.
Pantun Jumat Penuh Berkah Pagi Jumat memetik selasih,
Singgah sebentar di tepi taman.
Mari bersihkan hati dan kasih,
Semoga Jumat penuh keberkahan.
Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi resmi bergabung dengan Partai Demokrat setelah sebelumnya meninggalkan Partai Golkar.
KTA Demokrat diserahkan Ketua DPD Demokrat Sulsel Ni’matullah pada 8 Oktober 2026. Bagi Appi, langkah ini bukan sekadar pindah rumah politik, sebab ia mengaku memiliki sejarah dengan Demokrat dan partai berlambang Mercy itu pernah memberikan dukungan dalam dua kontestasi Pilwalkot Makassar.
Bagi Makassar, perpindahan Appi dapat dibaca sebagai perubahan peta kekuatan politik menjelang dinamika politik Sulsel dan Makassar ke depan. Demokrat memperoleh figur yang kini memimpin pemerintahan kota, sementara Appi mendapatkan kendaraan politik baru untuk memperluas jejaring dan konsolidasi.
Namun Appi menegaskan bahwa dirinya tidak membawa “gerbong” Golkar; siapa pun yang ingin mengikuti langkahnya dipersilakan memilih secara bebas.
Disisi lain, Fenomena selfie di kantor polisi yang melibatkan anggota geng motor menjadi gambaran ironis tentang pertemuan antara kekerasan jalanan dan budaya media sosial.
Di satu sisi, kantor polisi adalah simbol penegakan hukum; di sisi lain, kamera ponsel justru dapat menjadikan sebuah peristiwa hukum sebagai tontonan. Foto yang diunggah ke media sosial berpotensi membangun kesan seolah kekerasan, keberanian semu, bahkan berurusan dengan aparat merupakan sesuatu yang patut dibanggakan.
Namun, di balik sebuah selfie, ada persoalan yang jauh lebih serius: bagaimana anak-anak muda memahami batas antara keberanian dan kenekatan. Geng motor yang terlibat kekerasan bukan sekadar persoalan ketertiban, tetapi juga menyangkut pendidikan, keluarga, lingkungan sosial, dan pengaruh media digital.
Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk menyebarkan prestasi dan pesan positif, bukan panggung untuk mempertontonkan kekerasan.
Sementara itu, Sulawesi Selatan kembali menghadapi hari-hari yang terasa menyengat. Suhu udara di sejumlah wilayah bahkan dirasakan masyarakat seperti menembus 45 derajat Celsius, membuat aktivitas di luar ruangan terasa jauh lebih berat.
Terik matahari, udara yang gerah, dan minimnya kesejukan menjadi pengingat bahwa perubahan cuaca ekstrem bukan lagi sekadar cerita tentang angka di termometer, tetapi sudah menyentuh kehidupan sehari-hari.
Alam seolah sedang mengetuk pintu kesadaran manusia. Panas ekstrem dapat meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan hingga gangguan kesehatan, terutama bagi lansia, anak-anak dan mereka yang bekerja di bawah terik matahari.
Karena itu, kondisi ini layak dibaca bukan hanya sebagai fenomena cuaca, tetapi sebagai peringatan untuk lebih serius menjaga lingkungan.
Sebab ketika hutan berkurang, ruang terbuka hijau menyempit dan emisi terus bertambah, alam punya caranya sendiri untuk mengingatkan: bumi sedang tidak baik-baik saja.
Ijazah Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Drs. Mohammad Hatta, kini kembali menjadi sorotan setelah salinannya dipajang secara permanen di Erasmus University Rotterdam, Belanda.
Dokumen bersejarah itu ditempatkan di Hatta Building, sebuah bangunan yang menggunakan nama Bung Hatta sebagai bentuk penghormatan atas kiprah dan perjuangannya.
Hatta pernah menempuh pendidikan di Belanda pada 1921–1932 dan aktif memimpin Perhimpunan Indonesia, menjadikan masa studinya bukan sekadar perjalanan akademik, tetapi juga bagian penting dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pemajangan ijazah tersebut menjadi simbol menarik bahwa pendidikan, intelektualitas, dan perjuangan kebangsaan dapat meninggalkan jejak melampaui batas negara. Bung Hatta tidak hanya dikenang sebagai Wakil Presiden pertama RI, tetapi juga sebagai intelektual yang menggunakan ilmu dan organisasi sebagai senjata perjuangan.
Sementara itu, Kepulangan Ashari Samadikun ke tanah air membawa kisah panjang tentang keteguhan dan perjuangan setelah melewati masa penyanderaan di Somalia.
Setelah bertahun-tahun berada dalam situasi penuh ketidakpastian, penampilannya pun berubah. Rambut yang kini panjang menjadi salah satu hal yang paling mencolok, seolah menjadi jejak waktu yang telah ia lalui selama berada dalam penyanderaan. Di balik perubahan fisiknya, tersimpan pengalaman berat yang tidak mudah dilupakan.
Pembaca setia Mozaik Kehidupan (MoKa), sampai di sini perjumpaan kita hari ini. Selamat menunaikan Salat Jumat berjamaah bagi kaum Muslimin. Ketika azan telah berkumandang, mari sejenak tinggalkan segala aktivitas jual-beli dan kesibukan dunia, lalu memenuhi panggilan-Nya menuju rumah ibadah.
Sebab Jumat bukan sekadar pergantian hari, tetapi momentum untuk menenangkan hati, memperbanyak doa, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Selamat menjalani hari yang indah, semoga Jumat membawa keberkahan, kesehatan, dan ketenteraman bagi kita semua. Sampai jumpa besok, Sabtu, 10 Oktober 2026, dalam lembaran MoKa dengan kisah dan informasi yang berbeda. Tetaplah menjadi pembaca setia, karena setiap hari selalu ada cerita yang layak kita renungkan.
Sebuah pantun penutup: Jalan-jalan ke Kota Pare, Singgah sebentar membeli kurma. Salat Jumat mari bersama, Semoga hidup penuh berkah dan bahagia.