SYAKHRUDDINNEWS.COM – Qurban mengasah kepekaan sosial. Pesan itulah yang mengemuka dalam tausiah ba’da Subuh yang disampaikan Prof. Dr. H. Andi Darussalam Djamaluddin di Masjid Besar Al-Abrar, Makassar. Di hadapan jamaah, ia mengingatkan bahwa ibadah qurban bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan latihan batin untuk menajamkan empati, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan.
Dalam paparannya, Prof. Darussalam mengangkat kisah Habil dan Kabil, dua putra Nabi Adam AS, sebagai cermin awal perjalanan manusia. Dalam tradisi Islam, keduanya diperintahkan mempersembahkan kurban kepada Allah.
Habil menyerahkan yang terbaik dengan hati tulus, sedangkan Kabil memberi dengan enggan dan seadanya. Kurban Habil diterima, sementara persembahan Kabil ditolak. Dari situlah benih iri hati tumbuh, menjelma amarah yang kemudian berujung pada pembunuhan pertama di muka bumi.
Ia menuturkan, Habil menghadapi ancaman saudaranya dengan ketenangan. Ia memilih tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, seraya meyakini bahwa Allah menerima amal orang-orang bertakwa.
Namun ketika nafsu telah menutup nurani, Kabil kehilangan arah. Setelah membunuh saudaranya, ia justru kebingungan menghadapi jasad Habil, hingga Allah mengirim seekor gagak yang mengais tanah, memberi pelajaran tentang cara menguburkan mayat. Penyesalan pun datang, tetapi selalu terlambat bagi mereka yang dikuasai dengki.
Menurut Prof. Darussalam, kisah itu mengandung pelajaran besar: iri hati mampu meruntuhkan akal sehat, sedangkan ketakwaan melahirkan kedamaian. Sebagaimana puasa mengajarkan manusia merasakan lapar dan derita kaum papa, maka qurban mengajarkan seni berbagi. Dari para nabi terdahulu Mulai Nabi Adam, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad SAW, umat belajar bahwa pengorbanan terbaik selalu lahir dari keikhlasan dan ketundukan kepada Allah.
Usai tausiah, suasana masjid pun terasa hangat. Jamaah disuguhi sarapan nasi kuning dalam kotak, yang dapat dinikmati di sektor pelataran belakang masjid atau dibawa pulang ke rumah masing-masing. Kebersamaan sederhana itu menjadi penutup pagi yang penuh makna.
Sementara itu, H. Purnomo Dg Bani dalam bincang santainya menyampaikan bahwa tahun ini jamaah dapat menunaikan qurban melalui panitia masjid. Untuk kambing ditetapkan sebesar Rp3 juta per ekor.
Adapun sapi dengan bobot sekitar 80 kilogram diperuntukkan bagi tujuh orang pengqurban, dengan kontribusi Rp2,3 juta per orang. Nilai tersebut, katanya, telah mencakup biaya operasional, pembungkusan, serta penyaluran daging kepada warga yang berhak menerimanya (sdn)
