SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan, kita kembali bersua di hari yang kerap dimuliakan Jumat, 17 April 2026. Hari yang tidak sekadar menandai pergantian waktu, tetapi menghadirkan ruang hening di tengah riuhnya dunia.
Di sela langkah yang kian cepat, Jumat seolah mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, menakar ulang arah, dan bertanya: sejauh mana hidup ini kita jalani, dan untuk apa semua ini kita kejar?
Di zaman yang mengagungkan capaian, ambisi kerap menjadi bahan bakar utama. Kita didorong untuk terus berlari mengejar posisi, angka, pengakuan, dan segala yang tampak gemerlap di permukaan.
Tak ada yang keliru dengan keinginan untuk maju. Namun, dalam perjalanan itu, kita sering lupa: tidak semua yang tinggi itu bernilai, dan tidak semua yang cepat itu bermakna.
Ada titik ketika ambisi berubah menjadi beban mengikis waktu, merenggangkan relasi, bahkan mengganggu ketenangan batin.
Jumat hadir sebagai penyeimbang. Ia membawa pesan sederhana yang kerap terabaikan: hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan seberapa dalam makna yang kita rasakan.
Keberkahan tak selalu hadir dalam limpahan materi, tetapi dalam rasa cukup, hati yang lapang, dan langkah yang ringan meski beban tak sepenuhnya hilang.
Ia tumbuh dari niat yang lurus, dari cara yang baik, dan dari kesadaran bahwa setiap usaha memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar hasil.
Dalam keseharian, kita menyaksikan bagaimana ambisi yang tak terkendali melahirkan kegelisahan. Waktu terasa sempit, relasi menjadi renggang, dan hidup kehilangan kehangatan.
Sebaliknya, mereka yang berjalan dengan kesadaran akan keberkahan tampak lebih tenang, meski tak selalu berada di puncak. Mereka menemukan arti dalam hal-hal sederhana: kebersamaan, kejujuran, dan kesempatan untuk memberi, sekecil apa pun itu.
Maka, Jumat ini mengajak kita menimbang ulang: apakah yang kita kejar benar-benar membawa kita pada ketenangan, atau justru menjauhkan kita darinya?
Apakah langkah-langkah kita memberi manfaat, atau hanya menambah daftar capaian tanpa makna? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tak selalu mudah dijawab, tetapi justru di sanalah letak pentingnya, agar kita tidak sekadar hidup, melainkan memahami hidup.
Pada akhirnya, ambisi dan keberkahan bukan dua hal yang saling meniadakan. Keduanya dapat berjalan beriringan, selama arah tetap terjaga.
Ambisi memberi dorongan untuk bergerak, sementara keberkahan memberi alasan untuk tetap membumi. Di antara keduanya, ada keseimbangan yang perlu dirawat, agar hidup tidak hanya tinggi, tetapi juga teduh.
Selamat menjalani Jumat yang penuh makna. Semoga setiap langkah yang kita tempuh hari ini tidak hanya membawa kita lebih jauh, tetapi juga lebih dalam pada diri, pada sesama, dan pada nilai-nilai yang membuat hidup ini layak dijalani.
Pantun pembuka
Hari Jumat hari penuh berkah,
Langit cerah hati pun pasrah.
Mari melangkah dengan ibadah,
Semoga hidup makin terarah.
Di Ruang Haji Amir Said, Kampus Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Samata Gowa, Kamis, 16 April 2026, gagasan tentang masa depan pekerjaan sosial dirajut dalam Seminar Nasional bertajuk “Pekerja Sosial: Kini, Esok, dan Akan Datang.”
Kegiatan yang digelar Program Studi Kesejahteraan Sosial ini menghadirkan Prof. Dr. Syamsuddin AB dan Dr. Muhammad Akbar, dengan Dr. Mohammad sebagai moderator.
Diskursus yang berkembang tak hanya bernuansa akademik, tetapi juga menyentuh realitas sosial yang kian kompleks. Dibuka oleh Dekan FDK, Prof. Dr. H. Abd. Rasyid Masri, forum ini menegaskan bahwa pekerja sosial bukan lagi pelengkap, melainkan aktor kunci dalam menjawab persoalan kemasyarakatan yang terus berkembang.
Penegasan itu mengalir dalam paparan narasumber. Prof. Syamsuddin menekankan pentingnya pembelajaran sepanjang hayat, sekaligus memperluas peran pekerja sosial di berbagai lini, mulai dari layanan medis, penanganan anak dan korban Napza, hingga kebencanaan.
Ia juga mendorong mahasiswa membekali diri melalui pelatihan Tagana dan jejaring profesional seperti SWIPAM. Sementara itu, Dr. Muhammad Akbar menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas berbasis keterampilan, pengalaman lapangan, serta sertifikasi profesional dengan fokus spesialisasi.
Seminar yang berlangsung dinamis ini ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan dan sesi foto bersama, meninggalkan kesadaran bahwa masa depan pekerjaan sosial sedang dipersiapkan hari ini, di ruang belajar dan dalam tekad generasi yang memilih hadir untuk kemanusiaan.
Di ruang rapat Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan, suasana pemantapan kian mengental. Dipimpin Plt. Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh yang akrab disapa Zugito.
Rapat menghadirkan Steering Committee dan Organizing Committee (SC-OC) untuk merajut kesiapan menjelang Konferensi Provinsi yang dijadwalkan berlangsung Selasa, 2 Juni 2026.
Setiap seksi diminta membuka peta kerja, menakar kesiapan personel, hingga memastikan seluruh lini bergerak dalam ritme yang sama. Nada tegas pun mengemuka: mereka yang berulang kali absen tanpa alasan akan digantikan. Sebab kepanitiaan ini menuntut keseriusan, bukan sekadar nama dalam daftar.
Langkah komunikasi pun mulai diperluas. Kunjungan ke TVRI Makassar diagendakan, tak sekadar audiensi, tetapi juga penjajakan siaran langsung untuk menggaungkan konferensi. Pintu-pintu pemerintahan turut diketuk, surat permohonan audiensi telah dilayangkan kepada Gubernur dan Wali Kota Makassar.
Di sisi lain, Bendahara Panitia Rukman Nawawi menyuarakan optimisme: dengan kerja kolektif dan dukungan para pemangku kepentingan, konferensi ini diyakini akan berjalan lancar sekaligus melahirkan figur Ketua PWI Sulsel periode 2026–2031 yang mampu menjaga marwah profesi di tengah tantangan zaman.
Perjalanan panjang ibadah haji tahun 2026 dimulai sejak 21 April, saat para jemaah memasuki asrama haji, menandai gerbang awal menuju Tanah Suci. Sehari berselang, gelombang pertama diberangkatkan ke Madinah, lalu bergerak ke Makkah mulai 1 Mei hingga penutupan gelombang pertama pada 6 Mei.
Gelombang kedua menyusul melalui Jeddah sejak 7 Mei, dengan seluruh pergerakan rampung 15 Mei dan penutupan keberangkatan nasional pada 21 Mei. Puncak ibadah berlangsung saat jemaah bergerak ke Arafah pada 25 Mei, melaksanakan wukuf 26 Mei, merayakan Idul Adha 27 Mei, serta menjalani hari-hari Tasyrik hingga 30 Mei.
Fase kepulangan dimulai 1 Juni dan berakhir 1 Juli 2026, menggenapkan satu siklus perjalanan spiritual yang sarat makna, pengorbanan, dan harapan menjadi haji yang mabrur.
Penegakan hukum kembali mengguncang ruang publik ketika Hery Susanto ditangkap Kejaksaan Agung, hanya berselang hari sejak dilantik sebagai Ketua Ombudsman Republik Indonesia.
Dalam pusaran kasus dugaan korupsi tata kelola pertambangan nikel, ia ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik menemukan bukti keterlibatan, termasuk dugaan penerimaan suap sekitar Rp1,5 miliar.
Peristiwa ini menjadi ironi tajam di tengah harapan publik terhadap lembaga pengawas pelayanan negara, integritas tetap menjadi ujian yang tak pernah selesai.
Panitia mengajak seluruh jamaah untuk turut ambil bagian dalam ibadah penuh makna ini. Ketentuan qurban sapi ditetapkan sebesar Rp16.100.000 per ekor, atau dapat dilakukan secara berkelompok tujuh orang dengan kontribusi Rp2.300.000 per orang, termasuk biaya operasional.
Partisipasi dapat disalurkan melalui rekening Bank BRI Unit Mannuruki atas nama Masjid Besar Al Abrar sebagai ikhtiar bersama menebar keberkahan dan kepedulian kepada sesama.
Langit Kalimantan Barat diliputi kecemasan ketika sebuah helikopter yang mengangkut delapan orang dilaporkan hilang kontak. Upaya pencarian segera digerakkan, menyisir titik terakhir komunikasi dengan harapan menemukan jejak yang tersisa.
Peristiwa ini kembali mengingatkan: di balik kemajuan transportasi udara, selalu ada risiko yang menuntut kewaspadaan, koordinasi, dan doa dari banyak pihak.
Sidang di Mahkamah Konstitusi berlangsung dinamis ketika para hakim mencecar operator seluler dalam perkara gugatan kuota internet hangus.
Isu ini menyentuh jutaan pengguna di tengah ketergantungan pada layanan digital. Pertanyaan-pertanyaan tajam menguji dasar kebijakan masa berlaku kuota, menimbang keadilan antara kepentingan bisnis dan hak konsumen.
Di ruang sidang itu, perdebatan melampaui soal teknis—ia menyentuh perlindungan publik di era digital.
Ruang digital yang semestinya menjadi perpanjangan interaksi akademik justru ternoda ketika terungkap grup percakapan bermuatan asusila yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Berawal dari lingkaran kecil kos-kosan, kasus ini menjadi cermin rapuhnya kontrol diri di tengah kebebasan tanpa batas.
Peristiwa ini menegaskan pentingnya literasi digital dan etika pergaulan. Kampus dituntut hadir lebih aktif membangun kesadaran agar teknologi tidak menjelma menjadi ruang gelap, tetapi tetap menjadi medium yang mencerdaskan dan memanusiakan.
Sampai di sini perjumpaan kita hari ini. Bila tak ada aral melintang, esok kita kembali bersua dalam rangkaian kisah yang layak untuk disimak.
Pantun penutup
Rumah kost di tepi jalan,
Singgah sejenak melepas penat.
Hidup bukan sekadar berjalan,
Tapi menata arah agar selamat.
Salam Takzim : Syakhruddin Tagana



Motto utama Ombudsman Republik Indonesia adalah “Melayani Tanpa Pamrih, Mengawasi Tanpa Berpihak”. Kata Hery Susanto sambil nerima gratifikasi 1,5 milyar dari Pengusaha Nickel