SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan, pagi ini kita kembali berjumpa di Kamis, 23 April 2026. Hari yang melangkah tenang di antara sisa lelah dan harapan yang belum selesai. Matahari terbit tanpa banyak bicara, namun cahayanya selalu membawa pesan sederhana: bahwa setiap gelap memiliki batas waktunya.
Kita mungkin datang ke pagi ini dengan beban di pundak, pikiran yang penuh, atau langkah yang mulai melambat, tetapi hidup selalu menyediakan kesempatan baru bagi mereka yang masih ingin mencoba.
Di banyak tempat, orang-orang memulai hari dengan perjuangannya masing-masing. Pedagang membuka lapak sebelum jalanan ramai. Pegawai berangkat dengan wajah yang menyimpan tanggung jawab. Petani menatap langit sambil berharap cuaca bersahabat.
Mahasiswa menata mimpi di tengah tugas yang menumpuk. Para ibu menyiapkan kebutuhan keluarga sebelum dirinya sendiri sempat beristirahat. Dunia bergerak bukan hanya oleh orang-orang besar, tetapi oleh jutaan tangan sederhana yang bekerja dengan tulus setiap hari.
Hidup memang tak selalu ramah. Harga kebutuhan kadang naik, pekerjaan datang bertubi-tubi, kabar dari luar negeri membawa cemas, sementara urusan pribadi sering menunggu giliran untuk diselesaikan.
Ada orang yang tersenyum di luar, namun diam-diam sedang bertahan di dalam. Ada yang tampak tenang, padahal sedang menahan badai yang tak terlihat. Maka jangan terlalu cepat menilai seseorang dari wajahnya, sebab setiap manusia sedang membawa cerita yang tak selalu mampu diucapkan.
Namun justru di tengah tekanan itulah manusia sering menemukan kekuatannya. Kita belajar bahwa sabar bukan berarti pasrah, melainkan kemampuan untuk tetap berdiri saat keadaan belum berpihak.
Kita mengerti bahwa gagal bukan akhir perjalanan, melainkan belokan yang mengajarkan arah baru. Dan kita memahami bahwa harapan bukan barang mewah, melainkan bekal yang harus dijaga agar langkah tidak kehilangan tujuan.
Hari ini dunia juga memperingati pentingnya buku dan membaca. Dari lembaran-lembaran sederhana, peradaban tumbuh, pengetahuan diwariskan, dan manusia belajar memahami sesamanya.
Di zaman ketika layar lebih sering disentuh daripada halaman dibuka, membaca tetaplah jendela yang tak pernah usang. Buku mengajarkan kita berpikir, merasakan, dan melihat dunia lebih luas dari batas pandangan mata.
Bagi kita di Sulawesi Selatan, nilai keteguhan bukan hal asing. Dari pesisir hingga pegunungan, dari pasar tradisional hingga ruang-ruang sekolah, kita dibesarkan oleh budaya kerja keras, rasa malu jika bermalas-malasan, serta harga diri yang dijaga dengan kejujuran. Itulah warisan yang tak boleh hilang: menjadi manusia yang bermanfaat, meski tanpa sorotan.
Pembaca yang budiman, jika hari ini terasa berat, jalani saja satu langkah demi satu langkah. Tidak semua persoalan selesai hari ini, tetapi ketenangan sering datang kepada mereka yang tidak menyerah. Kadang yang kita butuhkan bukan jalan pintas, melainkan hati yang tetap kuat menempuh jalan panjang.
Pantun Pembuka
Burung merpati terbang ke awan,
Hinggap sebentar di dahan jati.
Kalau pembaca merasa nyaman,
Berarti tulisan sampai ke hati.
Pakistan kembali menyuarakan harapan agar perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dapat membuka jalan menuju kesepakatan damai yang lebih permanen dalam konflik yang melibatkan Iran.
Perdana Menteri Shehbaz Sharif menilai ruang diplomasi harus dimanfaatkan sebelum kekerasan kembali membesar. Islamabad disebut berupaya memainkan peran sebagai jembatan komunikasi bagi pihak-pihak yang bertikai.
Harapannya sederhana namun penting: gencatan senjata jangan hanya menjadi jeda perang, melainkan pintu menuju perdamaian yang menenangkan rakyat sipil dan menjaga stabilitas kawasan.
Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat kerap lebih terpikat pada narasi sensasional tentang tanda-tanda kiamat, kemunculan Dajjal, atau ramalan akhir zaman, dibanding membahas strategi perang, geopolitik, dan ancaman nyata yang sedang berlangsung.
Fenomena ini dapat disebut sebagai dopamin kiamat—dorongan psikologis ketika manusia memperoleh sensasi dari cerita besar yang mengguncang imajinasi. Akibatnya, ruang diskusi sering dipenuhi spekulasi ketimbang kesiapsiagaan.
Padahal sejarah menunjukkan, bangsa yang bertahan bukan yang paling ramai membahas akhir zaman, melainkan yang paling siap menghadapi tantangan zaman.
Amerika kembali diguncang tragedi kemanusiaan yang memilukan. Di Shreveport, Louisiana, seorang pria bernama Shamar Elkins diduga menembak mati delapan anak, tujuh di antaranya anak kandungnya sendiri. Polisi menyebut peristiwa itu bermula dari konflik rumah tangga yang berubah menjadi amarah mematikan.
Dua perempuan dewasa juga dilaporkan terluka parah. Setelah melarikan diri, pelaku tewas dalam pengejaran aparat. Tragedi ini kembali membuka luka lama tentang kekerasan domestik, gangguan emosi, dan mudahnya akses senjata api.
Di Pulau Kodingareng, Makassar, perselisihan kecil antar anak-anak berubah menjadi tragedi berdarah yang merenggut satu nyawa. Ketegangan yang semula bermula dari cekcok biasa menyeret para orang tua ke dalam amarah yang tak terkendali, hingga berujung duel antar ayah dari kedua pihak.
Satu orang tewas, meninggalkan duka mendalam bagi warga pulau yang selama ini hidup dalam kebersamaan. Peristiwa ini mengingatkan bahwa bara kecil dapat menjadi api besar ketika emosi mengalahkan akal sehat.
Matahari yang dimaksud adalah Matahari Department Store, perusahaan ritel besar berkode saham LPPF di Bursa Efek Indonesia. Keputusan mengganti nama menjadi PT MDS Retailing Tbk diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 15 April 2026.
Artinya, keputusan itu bukan kehendak satu orang, melainkan hasil persetujuan para pemegang saham. Secara praktis, kelompok pengendali perusahaan melalui Auric Capital memiliki pengaruh besar dalam keputusan strategis tersebut.
Matahari sendiri didirikan tahun 1958 oleh Hari Darmawan dan pernah menjadi ikon pusat belanja Indonesia sebelum kini berevolusi mengikuti zaman.
Di Wonogiri, kreativitas seorang warga bernama Supardi menarik perhatian banyak orang setelah ia membangun rumah berbentuk bus tingkat. Hunian unik itu berdiri di Desa Kopen, Kecamatan Jatipurno, tampil mencolok layaknya dua armada bus yang sedang terparkir berdampingan.
Lengkap dengan kaca depan besar, lampu, spion, hingga roda, rumah itu membuat siapa pun yang melintas menoleh sejenak. Inspirasi tersebut datang dari masa perantauannya di Jakarta saat kerap menumpang bus Agramas jenis Scania K-410.Dari kenangan perjalanan itulah lahir rumah impian yang kini menjadi buah bibir warga.
Pembaca Mozaik yang budiman, sesungguhnya masih banyak kisah yang layak ditulis dan dibagikan. Namun karena keterbatasan ruang dan pertimbangan kolom, perjumpaan kita cukupkan sampai di sini.
Jika Anda tak berkeberatan, kabarlah penulis bahwa naskah ini telah Anda baca, sebab kabar sederhana itu mampu menjadi semangat baru agar pena ini tetap menyala menuliskan makna.
Pantun Penutup
Pergi ke sawah membawa cangkul,
Singgah sebentar membeli pepaya.
Bila hidup terasa memukul,
Jangan menyerah, harapan tetap menyala.
Penulis Naskah : Syakhruddin Tagana

