SYAKHRUDDINNEWS.COM – Usai menunaikan Subuh berjamaah di Masjid Besar Al-Abrar Makassar, pagi itu terasa berbeda lebih hangat, lebih hidup. Sabtu, 4 April 2026, menjadi penanda bangkitnya kembali denyut pengajian subuh yang sempat larut dalam jeda pasca-Ramadan 1447 H.
Dalam cahaya yang belum sepenuhnya terang, jamaah duduk bersila, mencatat, menyimak, dan merajut kembali kebiasaan baik yang dulu tumbuh subur sepanjang bulan suci.
Di hadapan jamaah, Dr. H. Azhar Tamannggong Dg Sila tampil perdana, membuka rangkaian pengajian rutin setiap Sabtu usai Sholat Subuh. Dengan tutur yang tenang namun mengena, ia mengajak jamaah untuk tidak membiarkan semangat Ramadan menguap begitu saja.
Ia berkisah tentang sebuah masjid yang semarak oleh lantunan Al-Qur’an menjelang Jumat di bulan Ramadan, namun mendadak sepi ketika Syawal tiba, sebuah potret yang mengajak kita berkaca: betapa sering iman hanya dirayakan, bukan dirawat.
Menurutnya, khatam di bulan Ramadan bukanlah garis akhir, melainkan pintu awal untuk memahami makna. Membaca terjemahan, menyelami tafsir, hingga meresapi pesan Ilahi, itulah langkah lanjutan yang semestinya ditempuh agar Al-Qur’an tak sekadar dibaca, tetapi juga dihidupkan dalam perilaku.
Dalam suasana yang akrab, ia juga meluruskan pemahaman tentang halal bihalal, tradisi khas Nusantara yang kerap disangka berasal dari bahasa Arab. “Halal bihalal,” ujarnya, adalah upaya mengurai yang kusut, menyambung yang terputus, dan mereset hubungan agar kembali jernih. Sebuah momentum untuk menata ulang silaturahmi, bukan sekadar seremoni pasca-Lebaran.
Tak hanya itu, ia mengulas ragam puasa sunah, dari puasa Dahar yang dilakukan terus-menerus, puasa Daud yang selang-seling sehari berbuka dan sehari berpuasa, hingga yang akrab di tengah umat: Senin-Kamis dan puasa ayyamul bidh. Semua itu, menurutnya, adalah jalan menjaga ritme spiritual agar tetap hidup setelah Ramadan berlalu.
Pengajian pun ditutup dengan ajakan sederhana namun dalam: menjaga shalat berjamaah, memperbanyak tilawah, dan merawat silaturahmi.
Pagi kian meninggi, dan selepas pengajian, jamaah menikmati hidangan sederhana berupa nasi kuning yang disajikan pengurus masjid. Di sela suap dan canda ringan, silaturahmi mengalir hangat, menanti datangnya waktu Isyraq, sembari harapan ditanam: semoga kebaikan Ramadan tak hanya dikenang, tetapi dilanjutkan (sdn).

