SYAKHRUDDINNEWS.COM – Senin, 16 Maret 2026, menjadi jeda yang teduh bagi para pembaca setia Mozaik Kehidupan. Hari yang berjalan perlahan, ketika sebagian dari kita memilih menuntaskan lembar-lembar bacaan Al-Qur’an yang selama ini tertunda oleh riuhnya kesibukan dunia.
Ramadan terus bergerak menuju garis akhirnya, sementara tanggal kemenangan 1 Syawal 1447 Hijriah, kian mendekat di ambang waktu. Di berbagai sudut kota, orang-orang mulai menyiapkan diri: dari menata rumah, merancang perjalanan silaturahmi, hingga mengantre di bank untuk menukar uang baru yang kelak berpindah tangan sebagai tanda kasih di hari raya.
Menariknya, suasana itu hadir bersisian dengan satu momentum lain dalam kehidupan kebangsaan: perayaan Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka bagi umat Hindu.
Hari yang hening tersebut menghadirkan makna penyucian diri dan semesta, Bhuana Alit sebagai penyucian jagat kecil dalam diri manusia, dan Bhuana Agung sebagai pemurnian alam raya.
Dalam tradisinya, Nyepi dijalani melalui Catur Brata Penyepian, empat pantangan yang mengajak manusia menepi dari hiruk-pikuk dunia, menata kembali keseimbangan spiritual, sosial, dan ekologis.
Di sinilah kehidupan seperti memperlihatkan wajah harmoni. Keheningan Nyepi berdampingan dengan kegembiraan menjelang Idul Fitri yang oleh Muhammadiyah telah lebih dahulu ditetapkan waktunya, Jumat 20 Maret 2026.
Dua momentum berbeda keyakinan itu justru menghadirkan pelajaran yang sama, tentang keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat. Sebagaimana pesan hikmah yang kerap diulang dalam nilai-nilai keimanan: kejarlah akhiratmu, maka urusan duniamu akan diurus oleh-Nya.
Sebuah pengingat bahwa perjalanan hidup bukan hanya tentang langkah yang jauh, tetapi juga tentang hati yang selalu kembali pada makna. Sebagai pembuka renungan hari ini, kita awali dengan sebuah pantun sederhana:
Lancar kaji karena diulang, Pasar jalan karena ditempuh.
Hidup ini indah bila direnung, Agar langkah tak salah menuju.
Dari ruang-ruang perenungan itu, kehidupan tetap bergerak dengan berbagai peristiwa yang mewarnai hari. Di ruang rapat Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Sulawesi Selatan, Jalan Maccini Sawah No.12 Makassar, para pengurus PWI kabupaten/kota se-Sulsel berkumpul menyaksikan serah terima jabatan dari Ketua PWI Sulsel periode 2021–2026, H.Agussalim Alwi Hamu, kepada Pelaksana Tugas Ketua H.Zulkifli Gani Ottoh (Zugito), Sabtu, 14 Maret 2026.
Serah terima itu disaksikan A. Pasamangi Wawo dan H.Nur Syamsu. Dalam kesempatan tersebut, Agussalim berpamitan sembari menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf atas perjalanan kepemimpinannya, yang antara lain meninggalkan capaian berupa kantor tetap serta sejumlah aset operasional organisasi.
Sementara itu, Zugito menerima mandat untuk menyiapkan konferensi provinsi guna memilih kepengurusan baru periode 2026–2031, yang ditargetkan berlangsung dalam dua bulan ke depan.
Dari ruang organisasi pers di Makassar, perhatian publik juga tertuju pada dinamika penegakan hukum di daerah lain. Tekanan kekuasaan diduga membayangi para pejabat daerah di Cilacap setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap adanya kekhawatiran sejumlah kepala dinas jika tidak memenuhi permintaan uang dari Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman.
Permintaan tersebut disebut-sebut berkedok kebutuhan tunjangan hari raya (THR) pribadi dan untuk unsur Forkopimda. Fakta ini terungkap setelah penyidik memeriksa 13 orang yang diamankan dalam operasi tangkap tangan dan dibawa ke Gedung Merah Putih KPK di Jakarta.
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, menjelaskan bahwa beberapa saksi dari kalangan kepala dinas mengaku merasa tertekan karena khawatir dipindahkan dari jabatannya, apabila tidak memenuhi permintaan tersebut, sehingga mereka memilih menuruti permintaan itu demi menghindari cap tidak loyal kepada pimpinan daerah.
Di panggung internasional, ketegangan geopolitik pun terus bergulir. Profesor ilmu politik dari University of Chicago, Robert Pape, menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampak berada dalam situasi yang semakin terdesak menghadapi ketegangan perang dengan Iran yang kian memanas.
Menurut Pape, hal itu tercermin dari langkah militer Amerika Serikat yang menyerang pusat ekspor minyak mentah di Teheran serta fasilitas di Pulau Kang, yang dinilai sebagai upaya untuk kembali mengendalikan keadaan. “Sulit memahami pikiran siapa pun, apalagi pikiran Donald Trump.
Namun saya kira yang sedang ia coba lakukan adalah merebut kembali kendali atas situasi ketika kendali itu terasa lepas dari jam ke jam, dari hari ke hari,” ujar Pape dalam wawancara dengan Al Jazeera, Sabtu, 14 Maret 2026.
Sementara itu, di jalan-jalan panjang Sulawesi, sebuah kisah lain memperlihatkan betapa kehidupan sering menghadirkan kejutan yang tak terduga.
Perjalanan mudik yang biasanya dipenuhi cerita rindu kampung halaman mendadak berubah menjadi peristiwa tak biasa di jalur lintas Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.
Seorang mahasiswi berinisial SF (20), asal Kabupaten Tojo Una-Una, mengalami persalinan mendadak saat menumpangi mobil dari Palopo menuju kampung halamannya.
Awalnya perjalanan berlangsung normal, melewati jalan berkelok di antara hutan dan perkampungan. Namun suasana tiba-tiba berubah tegang, ketika SF mengeluhkan sakit perut hebat dari kursi penumpang.
Sopir yang panik segera menghentikan kendaraan di Desa Kasintuwu, Kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur, Jumat, 13 Maret 2026, lalu membawa SF ke sebuah warung terdekat untuk mencari pertolongan.
Warung sederhana yang biasanya menjadi tempat singgah pengendara itu mendadak berubah menjadi ruang darurat. Warga desa yang mengetahui kejadian tersebut segera berdatangan membantu.
Di tengah kepanikan, SF mengaku tidak mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung hingga rasa sakit itu datang tiba-tiba. Tak lama kemudian, dengan bantuan warga sekitar, ia melahirkan seorang bayi di tempat tersebut.
Tangis bayi yang memecah siang desa itu mengubah kecemasan menjadi kelegaan. Setelah persalinan selesai, ibu dan bayinya segera dibawa ke Puskesmas Mangkutana, untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Peristiwa itu pun menjadi kisah yang tak terlupakan bagi warga yang menyaksikannya.
Demikianlah sekelumit mozaik kehidupan hari ini, kisah yang bergerak dari ruang-ruang renungan, dinamika organisasi, pergulatan hukum, ketegangan dunia, hingga kejutan kecil yang lahir di sebuah warung desa di jalan lintas Sulawesi.
Sampai di sini dahulu perjumpaan kita pada Senin hari ini. Selamat menikmati hari yang indah bersama keluarga. Sebagai penutup, kita akhiri dengan pantun ringan:
Untuk apa berambut panjang Kalau tidak disisir rapi Untuk apa naskah panjang Kalau Anda tak membacanya sampai habis ini.
Point of view : Marriage by accident, becaused SF mengaku tidak mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung 🥲