SYAKHRUDDINNEWS.COM – Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Menjaga Nurani di Tengah Riuh Zaman – Selamat berpuasa di hari ke-9 Ramadan, Jumat kedua di bulan suci 1447 Hijriah.
Kita awali perjumpaan pagi ini dengan sebait pantun:
Mentari pagi menyapa lembut,
Embun bening membasuh daun.
Ramadan datang mengetuk kalbu,
Membangunkan iman dari kealpaan
Pagi masih basah oleh embun Ramadan. Langit menggantungkan awan kelabu, seakan ikut merenungi denyut kehidupan yang terus bergerak di bawahnya. Di sela lantunan ayat suci yang mengalir dari masjid ke sudut-sudut kampung, ada cerita-cerita kecil yang tumbuh menjadi makna besar tentang kesabaran, keteguhan, dan harapan.
Di sejumlah daerah, air belum sepenuhnya surut. Banjir masih menggenangi rumah, merendam perabot, menyisakan lumpur dan letih. Namun Ramadan tetap disambut dengan senyum dan doa.
Sahur dijalani seadanya, berbuka dilalui dengan kesederhanaan, tarawih ditegakkan di tenda pengungsian. Di sanalah iman diuji, dan di sanalah pula ketabahan menemukan bentuknya. Dari genangan air, tumbuh keyakinan bahwa setiap musibah menyimpan hikmah, dan setiap kesabaran akan berbuah keberkahan.
Pagi ini, langit Makassar masih menyimpan wajah muram. Cuaca ekstrem memaksa anak-anak sekolah menepi dari bangku kelas dan berpindah ke ruang daring. Layar-layar kecil menjadi jendela ilmu, sementara orang tua kembali belajar sabar, mendampingi putra-putrinya menaklukkan teknologi.
Di balik keluhan sinyal dan tugas menumpuk, ada semangat yang tetap menyala: bahwa pendidikan tak boleh padam, seburuk apa pun cuaca. Hari demi hari berlalu. Tinggal satu langkah lagi kita meninggalkan Februari, memasuki gerbang Maret 2026. Di sanalah janji diuji.
Publik menanti realisasi komitmen Purbaya Yudhi Sadewa terkait tunjangan para purnabakti. Janji yang telah lama bergaung, kini berdiri di hadapan kenyataan.
Para pensiunan, yang kerap berseloroh sebagai golongan “ORANG BERADA” pagi di rumah, siang di rumah, malam pun di rumah , menanti bukan sekadar angka, melainkan pengakuan atas pengabdian panjang mereka. Kadang, humor sederhana menjadi selimut penghangat di tengah harap yang menggantung.
Sementara itu, dari pusat negeri, Kementerian Agama menyiapkan 6.859 masjid sebagai rumah singgah gratis bagi para pemudik. Program Ekspedisi Masjid Indonesia 2026 akan berlangsung sejak H-7 hingga H+7 Idulfitri.
Masjid di sepanjang jalur mudik disiapkan buka 24 jam: tempat rehat, berteduh, dan menautkan kembali energi rohani para musafir. Inisiatif ini lahir dari sinergi lintas kementerian, sebuah ikhtiar agar perjalanan pulang benar-benar menjadi pengalaman yang aman, nyaman, dan bermakna.
Di sudut lain, 18 juta keluarga penerima manfaat bantuan sosial kini diarahkan memasuki gerbang baru: koperasi desa Merah Putih. Melalui kerja sama Kementerian Sosial dan Kementerian Koperasi, bansos tak lagi sekadar jaring pengaman, melainkan jembatan pemberdayaan.
Dari Desa Ranjeng di Ciruas, Serang, harapan itu ditanam: agar masyarakat bangkit, mandiri, dan bermartabat.
Namun, denyut ekonomi global tetap memengaruhi langkah bangsa. Indonesia bersiap mengimpor beras dan ayam dari Amerika Serikat sebagai bagian perjanjian dagang resiprokal. Angkanya kecil, nyaris tak terlihat di antara jutaan ton produksi nasional, namun tetap mengundang perbincangan.
Di satu sisi, ada kebutuhan industri; di sisi lain, ada kekhawatiran petani dan peternak. Di sinilah kebijakan diuji: menimbang keseimbangan antara pasar, kedaulatan pangan, dan keadilan sosial.
Jauh di perbukitan Rongkong, Luwu Utara, kabut pagi masih setia memeluk tanah adat. Di sanalah kegelisahan tumbuh. Masuknya perusahaan energi panas bumi memantik keresahan masyarakat Kanandede.
Proyek triliunan rupiah itu menjanjikan terang, namun juga menyimpan bayang.
Mereka khawatir ladang, hutan, dan situs sakral berubah menjadi deretan pipa dan sumur bor. Penolakan pun menggema, bukan semata menentang investasi, melainkan menjaga warisan, identitas, dan martabat.
Rongkong kini berada di persimpangan: antara ambisi energi dan kearifan adat, antara pertumbuhan dan keberlanjutan.
Di kota-kota besar, persoalan lain menggunung: sampah. Pemerintah menyiapkan langkah melalui pembangunan fasilitas waste to energy bagi daerah dengan timbulan di atas 1.000 ton per hari.
Puluhan kota masuk prioritas. Untuk wilayah skala menengah, program pengelolaan sampah berbasis lokal digulirkan. Ancaman plastik di laut, di Bunaken, Raja Ampat, hingga Pulau Seribu, menjadi alarm keras:
Jika tak segera ditangani, bukan hanya terumbu karang yang mati, tetapi juga harapan pariwisata dan ekonomi masyarakat pesisir.
Begitulah mozaik kehidupan hari ini: cuaca, pendidikan, janji kesejahteraan, mudik, koperasi desa, impor pangan, konflik agraria, hingga krisis lingkungan, semua saling bertaut.
Di bulan Ramadan, kita diajak bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menajamkan nurani, agar setiap kebijakan dan langkah berpihak pada kemanusiaan.
Kita tutup perjumpaan ini dengan sebait pantun:
Pagi cerah burung bernyanyi,
Terbang rendah di dahan cemara.
Ramadan mengajarkan kita peduli,
Agar hidup lebih bermakna dan bercahaya.